Kamis, 10 April 2014

256 detik.


Saya menemukannya di folder usang yang masih saya simpan sampai hari ini. Dua ratus lima puluh enam detik lamanya, yang kemudian membuat saya sadar, saya masih memiliki potongan-potongannya. Lengkap.

Bergegas turun dari kamar loteng yang panasnya tak terkira. Sedikit terburu. Ingin memastikan potongan-potongan itu, benarkah masih ada?

Mengamati sejenak tumpukan buku yang tidak rapi diatas rak dekat televisi di ruang depan. Tertuju tepat ke sudut rak. Masih ada. Lusuh. Berwarna kuning kecoklatan tanda tak terawat. Namun masih ada senyum disana.
Potongan pertama, masih ada.

Sisanya, ada bingkai dengan gambar susunan bola bilyard.
Rapat tertutup selotip hitam dibagian belakangnya.
Tergoda untuk memastikan, apakah ada potongan lainnya?

Ternyata ada.

Saya sadar saat itu juga, sudah lama sekali rasanya sejak saya menyebut satu nama dalam doa saya. Selama ini, tidak ada nama. Tidak ada pinta. Tidak ada doa.

Selama ini, saya berhenti berbicara dengan Nya.

Dan dua ratus lima puluh enam detik yang saya jalankan lagi alunan merdu dan buram gambarnya, membawa saya kembali menautkan satu nama dalam doa. Hanya itu. Itu saja. Cukup.



sepotong bait puisi milik entah...

...
seperti bait puisi paling indah yang pernah dibuat...
laksana lukisan terbaik yang pernah digoreskan...
bagai lagu paling merdu yang pernah dilantunkan...
seharum wangi tanah yang sejenak hadir sesaat setelah diguyur hujan...
seperti itulah dirimu..sampai hari ini -semoga sampai esok dan seterusnya-.. bagiku...

...

maka satu hari lagi hampir terlewati...
akan segera pergi saat kau terlelap nanti...
dan...
saat esok datang bersama mentari...
aku berharap ada seuntai senyum terpatri...
mengawali dan menemaniku menjalani 1 hari lagi... :)

...

ucaupi mcow, vcprc ukuc...