Saya menemukannya di folder usang yang masih saya simpan sampai hari ini. Dua ratus lima puluh enam detik lamanya, yang kemudian membuat saya sadar, saya masih memiliki potongan-potongannya. Lengkap.
Bergegas turun dari kamar loteng yang
panasnya tak terkira. Sedikit terburu. Ingin memastikan potongan-potongan itu,
benarkah masih ada?
Mengamati sejenak tumpukan buku yang
tidak rapi diatas rak dekat televisi di ruang depan. Tertuju tepat ke sudut
rak. Masih ada. Lusuh. Berwarna kuning kecoklatan tanda tak terawat. Namun masih
ada senyum disana.
Potongan pertama, masih ada.
Sisanya, ada bingkai dengan gambar
susunan bola bilyard.
Rapat tertutup selotip hitam dibagian
belakangnya.
Tergoda untuk memastikan, apakah ada
potongan lainnya?
Ternyata ada.
Saya sadar saat itu juga, sudah lama
sekali rasanya sejak saya menyebut satu nama dalam doa saya. Selama ini, tidak
ada nama. Tidak ada pinta. Tidak ada doa.
Selama ini, saya berhenti berbicara
dengan Nya.
Dan dua ratus lima puluh enam detik yang
saya jalankan lagi alunan merdu dan buram gambarnya, membawa saya kembali
menautkan satu nama dalam doa. Hanya itu. Itu saja. Cukup.