Rabu, 30 Januari 2013

perjalanan..

Ini perjalanan pertama di tahun ini. ‘Menumpang’ perjalanan ke Bandung. Saya sudah bersiap sejak semalam. Tidak banyak, hanya tas yang berisi laptop dan handphone yang pasti harus dibawa. Tas saya kosong. Sengaja, dengan harapan saya dapat mengisinya dengan banyak oleh-oleh. Itu rencana awal saya. Tapi, rencana kita tidak selalu diaminkan semesta, bukan?
Perjalanan pertama ini istimewa buat saya. Bukan hanya karena saya mendampingi rekan-rekan, tapi juga saya mendampingi diri saya sendiri. Dari buku yang saya baca, perjalanan, sedekat apapun dapat membawa hati kita belajar lebih jauh dari jarak yang kita tempuh. Kaki mungin tidak lama dan tidak jauh menapak, tapi hati tentunya akan belajar lebih lama dan lebih jauh.
Bus besar 59 seat yang saya tumpangi hampir dipastikan penuh. Ramai oleh canda tawa riang. Tujuannya adalah Gedung Merdeka. Kalian tahu ini? Saya pun tidak tahu. Yang saya tahu gedung ini adalah gedung bersejarah. Tempat dimana konferensi ternama dilaksanakan tahun 1955. Konferensi Asia Afrika. Tempat yang kini menjadi museum, yang menyimpan banyak kenangan tentang peristiwa besar itu.
Hati saya pun begitu. Hati saya menjadi museum, menyimpan banyak kenangan tentang banyak peristiwa yang sudah pernah terjadi. Saya tidak pernah tahu seberapa luas hati yang dimiliki manusia. Yang saya tahu, hati itu mampu menyimpan banyak hal. Lebih banyak dari memori komputer terbesar yang ada. Dan sejak pagi, sejak bus yang saya tumpangi menderu pelan, saya sudah mulai mencoba mengukur luasnya hati yang saya punya. Sampai senja ini, saya belum dapat menentukan berapa luasnya.
Perjalanan hari ini lancar. Hanya sesekali macet sebentar. Tapi tidak dengan sisi kanan atau arah balik dari arah ke Bandung. Macet panjang menjadi pemandangan yang memuakkan untuk beberapa orang yang melewati jalan ini. Tapi tidak buat saya. Macet artinya kita harus menikmati setiap sisi jalan yang kita lalui sedikit lebih lama. Saya memperhatikan dengan jelas apa-apa yang saya lewati selama 3 jam perjalanan  ini. Sempat terhenti sejenak di rest area di km72 memaksa saya menikmati secangkir cappucino kesukaan saya. Saya duduk sendiri saat sendiri. Karena saya ingin sendiri. Sayang, baru 10 menit berhenti, semua penumpang digiring kembali masuk ke dalam bus. Pemberhentian yang singkat. 10 menit itu singkat kan? Singkatlah. Tapi berkesan. Karena saya memanfaatkannya dengan baik. Dengan menyeruput sedikit demi sedikit cappucino yang saya beli.
Hati kita juga kadang seperti itu kan? Mengalami dan merasakan ‘berhenti sesaat’ dalam banyak hal. Banyak hal bisa kita artikan apa saja. Tergantung kita melihatnya dari sisi mana dan siapa. Bukankah begitu? Dan akan selalu begitu. Ada kalanya kita ‘berhenti sesaat’ karena kita lelah. Karena kita jenuh. Itu biasa. Saat kita sampai pada titik jenuh kita, kita butuh ‘berhenti sesaat’. Kembali lagi, berhenti seperti apa dan bagaimana.
10 menit yang berjalan lamban buat saya adalah karena saya ingin berhenti sesaat. Bukan karena jenuh. Bukan karena bosan. Saya ingin berhenti untuk memisah dan memilah banyak hal. Memisah luka, memilah kenangan dan menentukan pelajaran berarti di pemberhentian sejenak ini. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi untuk kesekian kalinya saya bersyukur. Tuhan mengizinkan saya menikmati pemberhentian sejenak ini. Rasanya itu sudah lebih dari cukup. Saya memilah, memisah dan menentukan. Sebagian saya simpan rapi dalam rak hati yang lagi-lagi perlu  saya beritahukan bahwa sangat luas. Saya beri tanda agar mudah mengingatnya. Sebagian lagi saya hempaskan begitu saja di palung terdalam. Persis gudang memori yang tak ingin saya jangkau. Dan sebagian terakhir kubiarkan menguap bersama asap cappucino yang mengepul jauh. Membiarkannya menyatu dan meghilang bersama desau angin. Pada akhirnya, desah lega saya menyapa, disusul dengan hilangnya kepulan pada gelas kertas yang ada dihadapan saya. Saya siap melanjutkan perjalanan.
***
Bus kembali melaju. Lagu-lagu yang diputar menemani dan meriangkan setiap raga yang hadir hari ini. Mencairkan ketegangan dan menguapkannya menjadi keceriaan. Hanya ada tawa canda yang terdengar. Sementara tawa menyatu dengan setiap mereka, saya duduk diam disis jendela. Memandang jauh keluar. Menikmati matahari yang kian hangat. Senyumnya tulus menghangatkan sisi wajah. Benar-benar hangat. Sayangnya sisa cappucino dihadapan sudah terlebih dahulu dingin.
Saya ingat tentang Milli. Salah satu tokoh dalam salah satu film favorit. Tentang cinta dan kopi. Dalam satu scene, melalui pesan singkat, Milli bilang  :

”Cinta itu seperti kopi, enak diminum kalo masih panas. Tapi resikonya jadi cepat habis. Biar gak cepat habis diminumnya pelan-pelan. Tapi resikonya jadi dingin.”

 Benarkah? Bisa jadi Milli benar. Atau bisa jadi salah. Lalu apa artinya? Tidak ada. Saya hanya ingat sebagian kecil itu. Kita bisa memaknainya sesuai dengan kemauan kita. Selama maknanya benar.
Benar menurut kita tentunya. Dan dengan tetap memperhatikan sekitar pastinya.
***
Entah harus seperti apa dan bagaimana lagi saya menceritakan perjalanan ini. Yang pasti saya banyak menemukan hal baru. Benar-benar baru tentunya. Dan perjalanan hari ini ditutup dengan mampir ke salah satu ‘street shop’ yang ada di Bandung. Saya hendak mampir. Membelikan buah tangan untuk beberapa orang. Tadinya. Tapi, 1 jam saya berkeliling, saya mengurungkan niat saya. Dan mengosongkan tas saya. Saya hanya mampir untuk minum cappucino hangat saja. Dan berbincang dengan seorang teman. Hanya itu. Seperti yang saya bilang diawal, ketika saya sengaja mengosongkan tas saya agar ketika pulang saya dapat mengisinya dengan buah tangan, semesta ternyata tidak mengamini. Dan Tuhan tidak menghendaki. Maka saya membiarkan beberapa lembar merah di dompet saya tetap pada tempatnya. Saya hanya mengosongkan tas saya. Dan membersihkan rak-rak kusam yang ada dalam hati saya. Saya melepas semuanya. Dan melegakan tiap detik yang saya lalui dengan aroma cappucino yang tak henti menggoda indra penciuman saya. 2 gelas. Cukup. Tak lama setelah saya menghabiskan gelas kedua saya, panggilan untuk kembali ke bus terdengar. Saya masuk dan menunggu, sampai canda tawa riang teman-teman usai berbelanja kembali utuh mengisi bus penat ini. Sepertinya hanya saya yang mengosongkan tas karena yang lain memenuhi tasnya dengan cinderamata. Tapi saya senang. Dan saya yakin, saya membawa lebih banyak cinderamata dalam hati saya. Kenangan. Tanpa luka pastinya.
***
Bus yang saya tumpangi sudah masuk tol. Sudah saatnya pulang. Kembali. Perjalanan itu tidak jauh dari pergi dan kembali, bukan? Atau mungkin pergi dan pulang? Entahlah. Yang pasti, sampai saat ini, bus masih melaju dengan tenang, lancar. Diiringi lagu-lagu pop indo dari sebuah band ibbukota ternama. Menyenangkan dan menenangkan.
Mengejutkannya lagi, baru beberapa ratus meter dari pintu tol, saya disuguhi pemandangan luar biasa oleh Sang Pemilik Alam. Saya terpana dan segera mengabadikannya lewat kamera 2mp yang ada di handphone saya. Jauh dari bagus hasilnya, tapi saya bersyukur mata saya sempat menangkap moment jingganya matahari senja yang ada dihadapan saya. Dan ternyaata, Dia masih berbaik hati pada saya dan semua yaang tengah melalui jalan tol ini. Gerimis sempurna melepas kepulangan saya dari kota yang indah ini. Dan saya tidak bisa berhenti terpana atas apa yang ditunjukkan Nya pada saya. Helaan nafas saya bahkan sempat terhenti karena tercekat. Subhanallah. Perjalanan kembali yang menyenangkan dan menenangkan. Dan saya dengan sepenuh helaan nafas saya bersyukur karena telah diberi kesempatan menikmati semua ini dengan mata telanjang.
Rintik gerimis perlahan hilang, digantikam kabut yang pelan turun. Gerimis menyisakan mendung pekat di luar sana. Sempurna. Karena tak lama kemudian kumandang azan bergema. Maghrib. Sahut menyahut ‘memanggil’ setiap umat yang menjalankan ibadahnya. Bus ini masih melaju. Menderu pelan di jalur tak berlampu. Dan saya menunggu untuk sampai rumah. Tak sabar memulai esok yang entah.
Yang pasti, saya lebih siap menanti dan menyambut esok.
senja milik Sang Pencipta..
Begitukan seharusnya..? 

(Jakarta-Bandung-Jakarta; Senin, 28 Januari 2013)

Sabtu, 26 Januari 2013

pada satu kangen,..buatmu..


terusik kangen yang menelusup di setiap kedip mata...
memaksa jajak lihat senantiasa terjaga...
enggan lelap meski hanya sekedar ingin...
tak sabar meski hanya menanti esok yang jengah..dengan selaksa pongah tentunya...

aku masih kangen...

selalu ada rindu yang hadir memaksa tiap kali kita berjarak...
membuat diri tak sejenak terkulai gerak...
aku ingin di dekatmu...detik ini...

berhari tak bersua telah memagut sepiku tanpa sisa,..sepertinya...
mencoba berdamai dengan sensi yang hadir diantara rindu dan gelisah...
mencoba mengakui...
penggalan kata dan ucap yang terbata ternyata belum cukup mengurai kangen yang ada...

pun kini...
pagi menjelang...mambawa pesan-pesan baru..
sapa manja dan senyum milikmu yang menari seirama desau angin shubuh nanti...
telah dapat menyentuh dambaku akan kangen semalam...

dan aku...
terusik kangen yang menelusup di setiap kedip mata...
memaksa jajak lihat senantiasa terjaga...
enggan lelap meski hanya sekedar ingin...
tak sabar meski hanya menanti esok yang jengah..dengan selaksa pongah tentunya...

aku masih kangen...

( oleh Amirul Mufadilla pada 12 Agustus 2011 pukul 3:34 ·)

Improvement Text

Ini bukan apa-apa. Hanya sejejak catatan kecil. Tentang seorang lelaki yang mungkin pernah kalian kenal.

Lelaki yang 'mati' berkali-kali. :')
Menyedihkan saat kita tahu, kita yang dibangga-banggakan, yang dipercayakan ternyata tidak mampu melakukan hal terbaik seperti yang ditumpukan banyak orang. Benar kan?
Pernah tahu rasanya 'mati' berkali-kali? Sebagian pasti pernah. Saya pernah.
Pernah tahu rasanya 'sendiri' bertahun-tahun? Sebagian pasti pernah. Saya pernah.
Pernah tahu rasanya 'mengecewakan' orang-orang yang membanggakan kita? Sebagian pasti pernah. Saya pernah.
Pernah tahu rasanya 'gagal, sendirian, bangun, gagal lagi, masih sendirian, bangun dan begitu seterusnya'?. Sebagian pasti pernah. Saya pernah.

Saya pernah melewati hari-hari terburuk saya. 3 tahun berlalu begitu saja. Lewat tanpa tedeng aling-aling. Mengalir datar seperti air terjun. Jatuh begitu saja. Lalu diam.


Hari ini saya hanya ingin mengatakan, saya seorang laki-laki yang sedang berusaha bangun dari keterpurukan saya. Berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki diri saya. Dengan cara saya.
Saya mohon bantuan siapapun Anda dalam hidup saya untuk tidak berhenti mengingatkan saya untuk tetap pada jalan saya memperbaiki diri.
Saya tidak ingin lebih. Hanya ingin menjadikan diri saya menjadi lebih baik.
Terima kasih.
Saya akan sangat bersyukur jika Anda sekalian mampir untuk mengingatkan saya.
Terima kasih.


Terima kasih banyak. :'''''''')

( oleh fadilla pada 12 Oktober 2012 pukul 17:25 )

Aku dan Bening (ii)

Kalian tahu, matahari itu sejatinya selalu ada untuk kita, hanya saja kadang kita tidak menyadari adanya karena dia (matahari) ada dengan cara yang berbeda.
Aku, selalu ada meski caraku berbeda.
Percayalah.
***
Pagi itu, mendung sisa semalam masih menggelayut manja di ufuk timur. Menutupi hadirnya sinar mentari yang sejatinya sudah ada sejak tadi. Jarum jam panjang di Army ku menunjuk ke angka 7. Sudah lewat pagi. Aku melanjutkan langkahku, menikmati pagi yang memabukkan. Yang membuat beberapa dari penghuni rumah yang aku lewati menarik selimut lagi karena hari ini hari libur nasional. Sayangnya, beberapa anak kecil justru bersemangat berlarian di halaman rumah dan taman sekitar rumahnya. Tertawa riang. Beberapa bahkan melambaikan tangannya padaku.
Aku, seperti biasa, menikmati pagi dengan caraku. Melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalan setapak depan rumahku, mengitari desa yang jauh dari polusi kota ini. Mensyukuri setiap helaan nafas hingga nanti, mungkin sekitar 10 menit lagi, aku sampai di sebuah padang rumput yang menghampar penuh dengan ilalang yang tingginya melebihi lututku. Setiap pagi, ritual seperti ini. Sendiri.
Tapi ada yang berbeda pagi itu. Bukan mendung yang lebih betah menetap di langit. Bukan. Bukan juga sinar matahari yang malu-malu menyapu wajahku. Bukan. Lalu apa.?
Itu. Dia yang membuatnya berbeda. Gadis itu. Gadis yang tengah duduk di pagar kayu yang berada di tengah-tengah padang ilalang. Gadis yang menggunakan sweater biru, berambut panjang dan duduk membelakangiku. Aku berhenti, memandangi sejenak gadis itu dari belakang. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam memperhatikan larik sinar matahari yang perlahan mulai mampu menggantikan mendung yang hampir usai. Sesekali merapatkan tangannya, menampakkan kalau dia kedinginan sesekali.
Lamat aku memperhatikan, namun aku tidak ingin mengganggu aktivitasnya. Aku melanjutkan ritualku. Berjalan, melompati pagar kayu dan berdiri dihadapan larik matahari yang hampir nampak sempurna. Sesekali aku melirik ke arahnya yang ada di sisi kiriku. Sepertinya aku tidak mengusiknya. Aku tergoda untuk menoleh, menatapinya sejenak. Ternyata dia tengah memejamkan matanya. Raut wajahnya menenangkan. Aku menghentikan ritualku seketika. Menghampirinya lalu duduk tepat disebelahnya. Melakukan hal yang sama. Memejamkan mata.
“Hangat dan menyenangkan ya..,” ujarku pelan sambil tetap memejamkan mataku.
Aku tidak tahu apa yang dilakukannya setelah mendengar ucapanku. Aku lebih memilih untuk menikmati pagi dengan cara yang baru. Caranya.
1 menit penuh hanya hening.
“Iya, hangat dan menenangkan..,” katanya kemudian.
Aku membuka mataku, menoleh.
“Menyenangkan kataku, bukan menenangkan..,”
“Lebih tepatnya, menyenangkan buat lu, dan menenangkan buat gue..,” jelasnya tak mau kalah.
“Oke, kamu menang,” kataku akhirnya.
Dia hanya tersenyum, lalu menoleh ke depan dan kembali memejamkan matanya. Aku berinisiatif.
“Namaku Fajar,” ujarku sambil mengulurkan tangan.
“Gue tau..,” jawabnya tanpa membalas uluran tanganku. Bahkan tetap memejamkan matanya.
“Nama kamu..?” tanyaku.
Dia diam, masih menikmati paginya. Aku menunggu. Tapi sepertinya pagi lebih menggoda untuknya. Aku memutuskan untuk menatap matahari yang sudah benar-benar mengusir mendung. Lalu memejamkan mataku.
Selamat datang, Pagi, batinku.
“Bening.”
Hanya itu yang kudengar. Setelahnya aku membuka mata dan menemukan gadis itu sudah melenggang  jauh ke tengah padang rumput. Aku  menemukannya membalikkan badan lalu melambaikan tangannya padaku. Tanpa sadar aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.
Namanya Bening.
***
Hari-hari berikutnya, meski pagi mendung, aku tetap menantinya. Menunggu matahari sempurna mengusap dan menghangatkan wajahku. Dan wajahnya yang selalu kunanti di pagar tengah padang rumput itu. Wajah Bening.
Percaya atau tidak, aku jatuh cinta pada caranya mengajarkanku menikmati pagi sekalipun aku sadar dia tidak pernah mengajarkanku. Gila kan..?? Aku yang gila. Tentu saja.
Aku selalu datang lebih awal, tetap dengan setelan olahraga pagiku, sepatu kets putih dan arloji Army ku. Menunggu dia datang –yang entah dari mana- dan mengejutkanku tiba-tiba. Lalu menghabiskan pagi bersamanya. Penuh, sampai matahari berhasil membuat kami menyeka keringat di dahi kami. Dan aku, selalu, dengan diam, dalam diam, semakin jatuh cinta padanya. Bukan lagi karena caranya menikmati pagi, tapi karena adanya, senyumnya dan segala tentangnya.
Sampai pada hari itu, akhirnya. Di suatu senja yang masih penuh dengan warna jingga, aku membawanya. Menggenggam pergelangan tangannya, dan menariknya ke padang rumput yang sama. Yang setiap pagi, selama 6 bulan penuh kuhabiskan bersamanya. Memetik beberapa helai ilalang di padang rumput yang menguning.
“Aku nyaman dengan adamu. Nih buat kamu,” ujarku.
“Mmm..gue juga. Makasih,” katanya seraya mengambil ilalang yang kuulurkan untuknya.
“Jadi…”
“Lo ga ada romantis-romantisnya yah. Masa begini sih caranya bilang suka sama gue..?”
“Laahh. Kan aku..”
“Tapi gapapa sih, gue suka. Gue mau kok jadi pacar lo..,” potongnya cepat.
Aku kaget mendengarnya. Menoleh ke arahnya yang sedang asik memainkan ilalang yang kuberikan tadi. Lalu menatap senja yang mulai menghitam dan mengakhiri tatapannya dengan menoleh padaku.
Aku, masih dengan bodohnya wajahku, menatapnya terkesima. Dan menyadari apa yang terjadi kemudian.
“Tapi kan aku belum bilang apa-apa. Kok kamu ge-er banget sih?”
Mendengar ucapanku tadi, dia tetap tersenyum, lalu menoleh kearah matahari yang mulai menghilang.
“Lu pikir gue bodoh ya..? Kalau lu ga mau juga gapapa siih..,” ujarnya membuatku tergeragap.
“Ehh.. jangan gitu dong.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal saat itu. Mengekspresikan wajah terbodoh yang aku punya. Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu, sementara aku gemetar utuh disini.
“Jadi, lu sama gue mulai hari ini jadian yah..,” ujarnya riang sambil menatap langit yang menghitam. Tanpa sedikitpun mempedulikan aku yang masih berkutat dengan keterkejutan yang baru aku dapat. Dia beranjak dari tempatnya duduk, lalu berdiri dihadapanku, mengulurkan tangannya dan tersenyum. Aku bersikukuh tetap duduk. Diam.
“Udah maghrib, lu ga solat..?”
Lamat-lamat memang aku mendengar adzan maghrib di kejauhan. Aku menerima uluran tangannya. Namun dia jahil menarikku hingga aku hampir saja terjungkal. Dia tertawa dan berjalan di depanku. Aku mengekor. Tersenyum. Berbalik menatap matahari yang sudah benar-benar hilang.
“Senyum lu manis dan gue suka kalo liat lu lagi senyum. Apalagi senyum itu buat gue,.”
Aku berbalik. Menemukan dia sudah melenggang jauh.
“Kamu bilang apa?” tanyaku.
Dia berbalik dan tersenyum.
Senyum yang bening.
***
 (bersambung)

Jumat, 04 Januari 2013

Aku dan Bening (i)


"kadang, kita perlu merasakan kehilangan untuk tahu seberapa dalam kita mencinta.."  
----------------------------------------------------
 
Ini awal (lagi). Tulisan ‘pertama’ lagi. Masih bertajuk kebangkitan dari sebuah diri yang berkaca pada setiap retak di kehidupan lalunya. Berusaha menyusun lagi potongan-potongan puzzle ceritanya yang sudah menyebar. Tidak mudah pastinya, tapi apa salahnya. 
***
“Kapan lu balik kesini lagi..?”,
Dia menggenggam erat jemariku saat melontarkan pertanyaan itu. Aku diam. Tak menjawab. 5 detik. 20 detik. 1 menit berlalu dan..
“Kapan lu balik kesini lagi..?.
Pertanyaan yang sama yang diulang 2 kali. Aku menatap kosong matahari yang mulai terbenam di ufuk barat. Sejenak kemudian menoleh, menatap jemarinya yang erat mengisi sela-sela jemariku. Dan seketika teringat quote itu. Bahwa Tuhan menciptakan sela diantara jemari kita bukan lain adalah agar nantinya pasangan kita dapat menempatkan jemarinya disana.
Aku tersenyum, sadar bahwa sebentar lagi kepala yang sedari tadi menanti jawaban dariku akan jatuh dipundakku.
“Terlalu sulitkah menjawab pertanyaan gue..?”.
Mulai mellownya deh, batinku.
Aku masih menikmati senja yang perlahan turun di hadapanku. Tidak ingin merusaknya dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang –jujur- sangat tidak aku ketahui jawabannya. Aku tidak ingin mengabarkan apa-apa.
Dan akhirnya 5 menit berlalu dengan hening. Pelan aku menyimak gema adzan mampir di telingaku. Aku melepaskan jemariku dari genggamannya, lalu meraih wajahnya. Dia bangkit. Menoleh heran. Dan masih menunggu jawab dari pertanyaannya tadi tentunya. Melihat masam wajahnya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan itu, kubelai pelan rambutnya yang di kucir kuda sambil kurapikan beberapa helai rambut yang mampir di wajahnya. Aku tahu dia masih menunggu. Dan jujur aku sangat tergoda untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi, urung aku ungkapkan, karena –lagi-lagi- aku memang tidak tahu jawabnya. Aku berdiri, lalu mengulurkan tanganku. Dia masih menunggu dan enggan menyambutnya. Aku memaksa.
“Sudah maghrib, shalat yuk.”
Aku berkata pelan sambil menyuguhkan senyum terbaik yang aku bisa. Dia hanya diam. Aku tahu, senyumku –walaupun tidak manis- selalu mampu meluluhkannya. Tak lama kemudian dia menyambut malas uluran tanganku. Dan kami meninggalkan tempat ini dengan tanpa menyisakan jawaban.
Aku meninggalkan tempat ini tanpa menyisakan jawaban.
***
Maghrib usai lebih cepat dan malam hadir lebih awal. Aku bergegas, mengemasi semua yang ada di dalam kamar kost ku. Segala yang ada, bahkan lembar-lembar kenangan yang lusuh pun ikut ku benahi. Dia menungguku disana, diambang pintu. Masih menunggu dengan tanya yang sama. Aku berhenti sejenak, berdiri tegak, meletakkan dua jari ku yang membentuk huruf ‘V’ ke ujung-ujung bibirku, lalu menarik bibirku hingga membentuk senyum.
Melihatku seperti itu, dia tersenyum.
“Kemarilah,” pintaku.
Dia mendekat, berdiri di hadapanku. Aku meraih pundaknya, membawanya dalam pelukku. Perlahan aku mendengar isaknya.
“Bisa gak lu ga usah pergi..?” tanyanya sesak.
“Aku ga bisa kasih kamu jawaban apa-apa. Maaf.”
“Kenapa?”
“Karena aku sayang kamu,”bisikku.
Isaknya makin terdengar, bersamaan dengan itu decit rem mobil terdengar di depan. Aku menoleh, meleppaskan pelukan yang tidak ingin dilepaskannya.
“Jemputanku sudah datang, aku selesaikan packingnya dulu ya..,” pintaku.
Dia diam, melonggarkan pelukannya, membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku menatapnya dari cermin yang ada di hadapanku, Dia menyeka air matanya. Dan aku menutup koper terakhirku. Koper dengan seribu kenangan yang ingin aku bawa kemanapun aku pergi.
Aku berbalik dan menemukan dia sudah tersenyum.
“Sekarang gue ngerti rasanya jadi lu..,” ucapnya pelan.
“Kata siapa..?”
“Kata gue..,” jawabnya.
Aku tersenyum, menghampirinya lalu menggenggam erat kedua tangannya.
“Kamu sudah banyak berubah. Sudah bisa belajar. Tapi kamu masih belum sepenuhnya mengerti. Yang kamu rasa saat ini adalah sedikit dari apa yang sudah aku rasa. Percayalah. Kamu akan mengerti, suatu hari nanti,” ujarku.
Dia menangis lagi, aku menyeka airmatanya lagi.
“Menangislah, tapi jangan lupa hapus air matamu,” kataku sambil meraih tas dan koperku. Terakhir, aku merengkuh kepalanya, membelai rambutnya dan mendaratkan kecupan ringan di keningnya.
“Aku pergi.”
“Lo ga ngucapin selamat tinggal ke gue..?”
“Nggak. Dan tidak akan pernah,” jawabku, lalu berlalu.
“Kenapa..?”
Aku berbalik, “Karena aku amat menyayangimu dan…”
“Dan…”
“Dan karena suatu hari nanti aku akan kembali kesini. Lagi. “
Dia menyeka airmatanya, lalu tersenyum. Dan senyumnya adalah segalanya bagiku.
Aku pergi, Bening…
***

(bersambung..)