Jumat, 23 Agustus 2013

Aku dan Bening (end) : UTUH



Setelah hari itu, setelah bertahun –dua tahun lebih tepatnya- kuhabiskan pagiku duduk diam diatas pagar usang yang masih kokoh –entah saat ini-, aku mantap untuk melangkah pergi.
Bukan karena aku marah. Tidak pula karena aku kecewa. Lebih karena aku ingin memaafkan diriku sendiri atas 2 tahun bersama.

Aku pergi. Menuju tempat dimana harusnya aku berada. Belajar. Meninggalkan segala kebiasaan lama untuk menjajal setiap kesempatan baru yang ada jauh di luar tempatku berada. Merantau. Mencari dan menuntut banyak ilmu yang bisa aku dapatkan di luar duniaku yang kusadari ternyata sangatlah biasa.

****
Kepergianku saat itu, setelah 2 tahun melalui pagi bersama, membuat sebuah lubang dalam yang penuh dengan luka. Bening itu rapuh. Dan terluka. Itu yang kutahu dan kudengar. Meski begitu, maaf, aku tidak peduli.

Setahun setelah kepergianku, aku akhirnya mengucap kata itu.

“Tanpaku, tanpa senyumku, kamu akan jadi wanita yang lebih tangguh, Bening,” ujarku setenang mungkin lewat handphone ku.

Aku tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar, tapi aku tahu, diamnya adalah sedih yang mendalam. Perlahan, diam itu berubah jadi isak pelan. Aku paham.

“Menangislah, Bening. Tapi jangan lupa hapus air matamu setelah itu. Bangunlah setelahnya. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di luar sana. Maaf jika mungkin yang kusampaikan bukan hal yang ingin kau dengar, tapi percayalah, kelak, seuatu hari engkau akan paham.”

Isaknya makin terdengar. Aku tak tega. Tak tahan mendengarnya, namun harus segera disampaikan. Dan telepon ini harus segera selesai.

“ Kamu jahat.!!’ Kata pertama yang diucapkannya.

“Kamu nggak bisa seenaknya bilang seperti itu. Mudah untukmu bilang seperti itu, tapi tidak mudah buatku untuk melakukannya. Kenapa sekarang..?  Kenapa saat aku mulai sayang kamu..?”

Aku diam. Andai aku bisa menjaawab tanyanya, aku akan jawab.

“Belajarlah, karena aku belajar. Maaf atas kejahatanku, kelak kamu akan mengerti.”

Aku menutup handphone ku. Segera mematikannya dan berharap semua ini selesai dengan cepat.
Berharap dia belajar dengan cepat meski aku tahu itu tidak mungkin. Tapi aku percaya, kelak dia akan mengerti. Kelak Bening itu akan semakin mengerti bahwa dia lebih dari sekedar bening.
***
Kebersamaan yang menyenangkan. Siapapun yang bersamanya, tidak akan bisa melupakan sedikitpun apa yang sudah dilewati. Apalagi aku, yang saat itu menyandang status ‘pacar’ nya. Dia selalu bilang, aku selalu menyenangkan buatnya. Selalu. Meski pagi yang kami lewati hanyalah seperti itu saja –duduk memandangi pagi di atas kayu-kayu usang.

Perjalanan yang tak biasa menyentuhku perlahan. Pemahaman tentang keinginan hidup yang lebih baik di masa depan membawaku perlahan mengenal lebih dalam tentang bagaimana hidup seharusnya. Hidup sesuai dengan aturan dan jalan yang sudah ditetapkan.

Bertemu dengan banyak teman baru –setelah mengenalnya- dan mengerti akan hal baru lainnya. Saat itu kesadaranku mulai tumbuh. Kesadaran akan kehidupan yang jauh lebih menenangkan dan menyenangkan daripada setiap pagi yang kulewati dengannya.

Tapi, aku tak pernah tahu bagaimana cara mengatakan padanya tentang janji kehidupan yang lebih baik yang sudah kutemukan. Tidak pernah bisa. Bukan, tidak pernah tega lebih tepatnya, karena aku tahu, bagaimanapun baiknya bentuk kehidupan yang akan aku jelaskan tetap akan membuatnya merasa tersakiti.

Sampai hari itu. Sampai Sang Pemilik Hidup itu memberikanku jalan yang sangat jelas untuk melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku, yaitu meninggalkan dia dan kehidupannya. Meninggalkan Bening itu.

Hari itu, aku mendapat tawaran untuk belajar lebih jauh di negeri seberang, seperti yang selalu kuimpikan. Restu dari orang tuaku nun jauh disana sudah kukantongi. Urusan-urusan administrasi sudah terselesaikan dengan mudah. Sayang urusan hati yang sebenarnya mudah ini menjadi sangat rumit. Aku yang membuatnya rumit, dengan segala ketidakmampuan dan ketidak mauanku untuk menyakitinya. Berminggu aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya, namun tidak jua bisa bibir ini terucap karena tak ingin melihat Bening itu sedih.

Sampai dia menyadarinya. Bening menyadari ada yang salah denganku.

“Ada apa..? Ada yang mau lu ceritain..? Omongin aja..” ujarnya tiba-tiba sore itu.

“Ehh, enggak. Enggak ada apa-apa kok. Kenapa emang..? tanyaku gugup.

“Ada yang lu sembunyiin dari gue. Gue tau kok, gue kan cewek. Feeling gue bilang begitu. Kenapa..?” tanyanya lagi.

Sedetik. Lima detik. Satu menit.

“Heeiii,…haloo..”

“Eh, iya. Mmm, aku mau ngomong.”

“Yaudah ngomong,”

“Seminggu lagi aku pergi.” Akhirnya terucap juga kata-kata itu.

“Pergi..? Kemana..?”

“Kyoto.”

“Ngapain..?”

“Melanjutkan..”

“Impian bodohmu..?” potongnya cepat.

“Ya.” Jawabku singkat.
…..

Aku menunggu lama, meski aku tahu tidak akan ada lagi kata yang terucap. Senja sore itu berlalu begitu saja. Terasa sangat lama, menyisakan isak yang perlahan pergi menjauh. Aku enggan menoleh, tetap menikmati senjaku seperti biasa. Aku tahu ini akan terjadi, tapi tidak tahu kalau ini akan begitu menyakitkan. Buatku. Terlebih untuknya.

Setelah hari itu tidak ada lagi pagi yang menyenangkan. Tidak lagi aku temukan sosoknya duduk riang menungguku di atas kayu-kayu pagar yang usang. Aku hanya menemukan pagi yang bias. Semu. Sesaat lalu bergegas pulang. Tidak ada kabar darinya. Sama sekali. Aku pun tidak bertanya atau meminta.
***

Sudah lima hari berlalu saat itu. Malam itu aku akan resmi berangkat, maka siang itu aku mencoba mengiriminya pesan singkat.

“Malam nanti aku berangkat.”

Sangat singkat. Dan tidak seperti yang kuharapkan, dia tidak membalasnya. Bening itu mengabaikannya.

Sayangnya aku salah. Senja datang membawanya. Muncul begitu saja di pintu kamar kost ku. Raut wajahnya tak lagi bening. Layu. Sembab matanya menandakan dia tak henti menangis.

“Kapan lu balik kesini lagi..?”,

Dia menggenggam erat jemariku saat melontarkan pertanyaan itu. Aku diam. Tak menjawab. Lima detik. Dua puluh detik. Satu menit berlalu dan..

“Kapan lu balik kesini lagi..?.

Pertanyaan yang sama yang diulang dua kali. Aku menatap kosong matahari yang mulai terbenam di ufuk barat saat itu. Sejenak kemudian menoleh, menatap jemarinya yang erat mengisi sela-sela jemariku.

“Terlalu sulitkah menjawab pertanyaan gue..?”.

Mulai mellownya deh, batinku.

Aku masih menikmati senja yang perlahan turun di hadapanku. Tidak ingin merusaknya dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang –jujur- sangat tidak aku ketahui jawabannya. Aku tidak ingin mengabarkan apa-apa.

Dan akhirnya 5 menit berlalu dengan hening. Pelan aku menyimak gema adzan mampir di telingaku. Aku melepaskan jemariku dari genggamannya, lalu meraih wajahnya. Dia bangkit. Menoleh heran. Dan masih menunggu jawab dari pertanyaannya tadi tentunya. Melihat masam wajahnya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan itu, kubelai pelan rambutnya yang di kucir kuda sambil kurapikan beberapa helai rambut yang mampir di wajahnya. Aku tahu dia masih menunggu. Dan jujur aku sangat tergoda untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi, urung aku ungkapkan, karena –lagi-lagi- aku memang tidak tahu jawabnya. Aku berdiri, lalu mengulurkan tanganku. Dia masih menunggu dan enggan menyambutnya. Aku memaksa.

“Sudah maghrib, shalat yuk.”

Aku berkata pelan sambil menyuguhkan senyum terbaik yang aku bisa. Dia hanya diam. Aku tahu, senyumku –walaupun tidak manis- selalu mampu meluluhkannya. Tak lama kemudian dia menyambut malas uluran tanganku. Dan kami meninggalkan tempat ini dengan tanpa menyisakan jawaban.

Aku meninggalkan tempat ini tanpa menyisakan jawaban.
***

Maghrib usai lebih cepat dan malam hadir lebih awal. Aku bergegas, mengemasi semua yang ada di dalam kamar kost ku. Segala yang ada, bahkan lembar-lembar kenangan yang lusuh pun ikut ku benahi. Dia menungguku disana, diambang pintu. Masih menunggu dengan tanya yang sama. Aku berhenti sejenak, berdiri tegak, meletakkan dua jari ku yang membentuk huruf ‘V’ ke ujung-ujung bibirku, lalu menarik bibirku hingga membentuk senyum.
Melihatku seperti itu, dia tersenyum.

“Kemarilah,” pintaku.

 “Bisa gak lu ga usah pergi..?” tanyanya sesak.

“Aku ga bisa kasih kamu jawaban apa-apa. Maaf.”

“Kenapa?”

“Karena aku sayang kamu,”bisikku.

Isaknya makin terdengar, bersamaan dengan itu decit rem mobil terdengar di depan. Aku menoleh.

“Jemputanku sudah datang, aku selesaikan packingnya dulu ya..,” pintaku.

Dia diam, membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku menatapnya dari cermin yang ada di hadapanku, Dia menyeka air matanya. Dan aku menutup koper terakhirku. Koper dengan seribu kenangan yang ingin aku bawa kemanapun aku pergi.

Aku berbalik dan menemukan dia sudah tersenyum.

“Sekarang gue ngerti rasanya jadi lu..,” ucapnya pelan.

“Kata siapa..?”

“Kata gue..,” jawabnya.

Aku tersenyum, menghampirinya lalu menggenggam erat kedua tangannya.

“Kamu sudah banyak berubah. Sudah bisa belajar. Tapi kamu masih belum sepenuhnya mengerti. Yang kamu rasa saat ini adalah sedikit dari apa yang sudah aku rasa. Percayalah. Kamu akan mengerti, suatu hari nanti,” ujarku.

Dia menangis lagi, aku menyeka airmatanya lagi.

“Menangislah, tapi jangan lupa hapus air matamu,” kataku sambil meraih tas dan koperku. Terakhir, aku merengkuh kepalanya, membelai rambutnya dan mendaratkan kecupan ringan di keningnya.

“Aku pergi ya. Aku akan kembali, bila sudah waktunya. Tidak ada kata selamat tinggal, jadi jangan menungguku.” Ujarku saat itu.

Dia menyeka airmatanya, lalu tersenyum. Dan senyumnya adalah segalanya bagiku.
***

Dan hari ini, aku disini. Ditempat dimana aku dulu menikmati matahari pagi yng tidak pernah bisa kau lupakan. Tidak banyak yang berubah dari tempat ini, hanya saja pagar usang itu sudah tidak ada. Digantikan bangku kayu berangka besi dengan berhias pepohonan rindang disekitarnya. Tidak hanya satu bangku, tapi beberapa.

Aku memilih untuk mampir ketempat ini sebelum nanti aku pulang ke rumah orang tuaku. Duduk disalah satu bangku kosong. Menikmati terik yang nyaman karena tertutup oleh rindangnya dedaunan. Memejamkan mata sejenak. Tidak terasa, aku terlelap.

“Permisi, Mas. Boleh saya duduk disini.? Tempat lain ga ada yang kosong.”

Suara itu menggugahku dari tidur. Aku menegakkan kepala dan menoleh. Kemudian melihat sekitar, memastikan bangku-bangku lainnya penuh. Oiya, ini malam minggu. Meski masih siang, tempat ini ramai oleh keluarga yang sibuk mengajak anak-anaknya bermain di taman dekat sini –sudah ada taman untuk anak-anak sekarang-, ditambah beberapa muda-mudi yang duduk santai mengobrol.

“Oh iya, Mbak. Silahkan.” Aku mempersilahkannya duduk sambil tersenyum, lalu kembali bersandar dan memejamkan mataku.

“Lagi nunggu orang, Mas..?”

Gadis disebelahku membuka percakapan.

“Enggak, Mbak. Lagi istirahat aja.” Jawabku tanpa merubah posisi tubuhku.

Sepuluh menit hening. Aku rasa cukup aku mampir disini. Membuka mataku dan kemudian berdiri.

“Saya duluan, Mbak,” pamitku pada gadis yang masih asik dengan ipod ditangannya.

“Oh iya, Mas,” balas gadis itu sambil tersenyum.

Aku bergegas meninggalkan tempat ini, bergegas untuk pulang dan menemui orang tuaku. Bergegas menyampaikan berita gembira.
***

Pagi ini, mendung sisa semalam masih menggelayut manja di ufuk timur. Menutupi hadirnya sinar mentari yang sejatinya sudah ada sejak tadi. Jarum jam panjang di Army ku menunjuk ke angka 7. Sudah lewat pagi. Aku melanjutkan langkahku, menikmati pagi yang memabukkan. Yang membuat beberapa dari penghuni rumah yang aku lewati menarik selimut lagi karena hari ini hari libur nasional. Sayangnya, beberapa anak kecil justru bersemangat berlarian di halaman rumah dan taman sekitar rumahnya. Tertawa riang. Beberapa bahkan melambaikan tangannya padaku.

Aku, seperti biasa, menikmati pagi dengan caraku. Melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalan setapak depan rumah tempat aku kost dulu. Melangkah perlahan menuju padang rumput yang kini makin ramai oleh anak-anak kecil yang riang menyambut hari libur.

Tidak ada bangku kosong yang tersisa, selain bangku dibawah pohon rindang yang ditempati satu orang.

“Permisi, Mbak, boleh saya duduk?” tanyaku.

“Oh, iya Mas. Silahkan.”

“Sudah dari tadi disini, Mbak?”

“Lumayan, mas. Sayang kalau pgi seperti ini dilewatkan.”

“Iya, Mbak.”

Aku menatap lurus ke depan. Ke arah ramai.

“Oiya, Mbak, kenalkan. Nama saya Fajar.”

“Iya, saya tahu.”

Gadis itu menoleh dan tersenyum, tapi aku masih lekat menatap ke depan. Hanya sebentar, lalu dia pun lekat menatap ke depan.

“Sudah tercapai impian bodohnya, Mas..?” tanyanya kemudian, masih dengan tatapan lurus ke depan.

“Sudah, Mbak. Tapi minggu depan saya akan pergi lagi.”

“Masih..?”

“Ya.”

“Secepat itu kembali hanya untuk pergi lagi..?”

“Tepat.”

Hening tiba-tiba. Tidak ada tanya lanjutan.

“Kalau berkenan, mungkin kamu bisa ikut denganku.”

Dia menoleh. Saat itu juga, aku menyodorkan kotak beludru berwarna merah, sambil menyuguhkan senyum yang masih tidak terlalu manis. Dan berkata…

“Menikahlah denganku.”

Dan tak lama, aku menemukan senyum yang masih sama di wajah itu.

Senyum bening miliknya dulu.

Utuh. Senyum milik Bening.
(End)

Sabtu, 17 Agustus 2013

Cukuplah

Mungkin benar, cara membedakan tulus tidaknya seseorang pada kita, ikhlas atau tidaknya seseorang pada kita, peduli tidaknya seseorang pada kita, temankah dia untuk kita, sahabatkah dia untuk kita atau hanya seseorang yang sedemikian saja lewat dalam hidup kita, adalah saat kita sedih, luka dan terkena musibah.

Maka, cukuplah.

Cukuplah untuk senantiasa berusaha tulus, tanpa perlu merasa menjadi yang paling tulus.
Cukuplah untuk terus berusaha ikhlas, tanpa harus merasa menjadi yang paling ikhlas.
Cukuplah untuk selalu berusaha peduli, tanpa mesti merasa menjadi yang paling peduli.
Cukuplah senantiasa jadi teman yang baik, tanpa perlu merasa sudah menjadi teman yang baik.
Cukuplah selalu berusaha jadi sahabat yang baik, tanpa mesti merasa sudah menjadi sahabat yang paling baik.

Pada akhirnya Allah akan menunjukkan apa-apa yang baik untuk masing-masing kita, dan apa-apa yang tidak baik untuk kita.
Sungguh, meski semesta mengamini, walau alam mengiyakan, jika Allah tiada meridhai, maka tidak. :')

Selasa, 13 Agustus 2013

Catatan Cinta (untuk yang tak pernah ada, meski sejenak)



satu saat aku ada untuk sadari,..
tak berharap ini asa pasti,..
tapi ingin sangat kujumpai,..
meski aku tak tahu kemana harus mencari,..


kujamah jarak,..
kulaku gerak,..
kusingkap hening,..
bahkan,..
kurasa luka,..


sampai pada akhirnya,..


lelah kujamah jarak,..enggan lagi raga tergerak,..
kubiarkan hening,..merambah menjadi luka,..

 

satu saat ada tuk kusadari,..
 

“ketika kucari apa yang kucari,…
lalu tak kutemukan apa yang kucari,..
sebenarnya,…
aku telah temukan satu kenyataan,..
bahwa,..
aku tidak menemukan yang kucari,..
 

atau pahitnya lagi,..
meski sejenak,..yang kucari tak pernah ada,.."

 

satu saat aku ada untuk sadari,..
tak berharap ini asa pasti,..
meski sangat ingin kujumpai,..
 

aku tau,..
 

tak pernah ada meski sejenak,..

Senin, 05 Agustus 2013

Lelaki Gerimis Itu, Aku



Sabtu lalu aku terpana mendengar seorang penulis hebat berceloteh. Ada juga sosok yang kupanggil Bunda bersamanya. Mereka menyampaikan 2 ‘mantra hebat’ yang seketika menyadarkanku. Dan hari ini, aku ingin memiliki ‘mantra’ itu lagi.

‘…man jadda wajada…”
 -barang siapa bersungguh-sungguh akan sesuatu, maka dia akan mendapatkannya…-
‘…man shabara zhafira…’
 -barang siapa bersabar, maka dia akan beruntung…-

Sebelum ada di panggung utama itu, kucium tangan Bunda takzim. Dan aku temukan senyumannya,..sama seperti senyum ibuku yang mengembang. Sama-sama senyuman seorang ibu.

Hari ini, aku memutuskan untuk memulainya. Memperbaiki apa yang salah dari hidupku demi menopang masa depanku. Walau sebenarnya tidak diperkenankan aku untuk terlalu jauh merencanakan, tapi aku tetap bermimpi. Aku ingin kembali menulis. Menulis apapun yang ingin kutulis. Menyampaikan yang ingin kusampaikan. Berbagi sedikit cerita pada siapa saja yang mau mendengar ceritaku.

Aku melakukannya dari sini, mengawali perbaikan diriku dengan membiarkan diriku sedikit berkisah. Tentang bagaimana kelam dan terang bergantian mampir dalam jajak kehidupanku. Tentunya semuanya akan kumulai dari sana. …

Dari waktu itu. …
Sejak aku mengenal gerimis…
Dan memanggil diriku lelaki gerimis…

*****

Matahari pagi itu berbeda dari biasanya. Aku menemukan sedikit celah untuk mendung hadir dibelahan bumi lain, menuju kesini, ke Depok. Hmm,..padahal masih paruh musim kemarau, tapi tampaknya penghujan akan datang lebih awal. Lebih awal dari yang biasanya, dan mungkin lebih lama. Ketahuilah, saat itu, aku sangat membenci hujan L.

“Mir, besok malem masuk nggak..?Apa mau jalan aja,..?”.

Suara Zaenal disebelahku sedikit mengganggu lamunanku ditengah ramainya derap  kaki orang-orang disekitar kami. Aku hanya menoleh, tersenyum  dan mengangguk pelan, lalu kembali sibuk dengan lamunanku.

“Jangan diajak ngomong, Nal,..lagi eror tuh anak,..hahaha..”.

Aan yang duduk dibelakangku –dengan logat sundanya yang kental- berseloroh ringan, lalu bangkit seraya  melemparkan handuk ke arahku. Aku meneriakinya dan hanya disambut gelak tawa dari Zaenal yang ikut bangkit menyusul Aan, menuju orang-orang yang melambaikan tangannya pada kami. Mau tidak mau, akupun ikut bangkit. Futsal di tempat parkir depan Balairung UI dimulai lagi. Setelah babak pertama tadi, kini babak kedua…

*****

Namaku Amirul. Amirul Mufadilla. Mereka memanggilku Amir. Sangat nyaman dipanggil dengan nama itu, seolah aku benar-benar seorang amir dihadapan mereka. J Tapi aku tak pernah ingin benar-benar dipanggil Amir. Membingungkan bukan..? Begitulah. 

Saat itu adalah babak baru dalam kehidupanku. Aku menemukan diriku disini, diantara orang-orang yang dulu kuanggap ‘rendah’ karena pendidikan mereka pun ‘rendah’. Ironis karena aku terjebak pada bayang-bayang yang dulu sangat tidak kuinginkan.

Adalah aku pulang ke kota ini –Depok- -saat itu- dengan segala sakit yang kubawa dalam hati. Sakit…karena aku melakukan apa yang tak pernah aku inginkan. Sakit…karena aku tahu aku telah gagal. Bahkan sakit…karena aku dengan sadar telah menyakiti banyak orang. Menghilangkan mimpi terindah seorang ibu dan segenap keluargaku ketika itu.

Aku (pasti) sangat mengecewakan mereka.

Masih sangat jelas terekam dalam ingatanku, bagaimana aku ‘menyelesaikan’ semuanya.

“Aku mau pulang, bu.!”

Ucapku datar kala itu. Setelah 3,5 tahun keberadaanku di Ma’had Gontor. Di salah satu ruangan di wartel itu, aku terisak. Entah karena apa, begitu mudahnya kata-kata itu terucap. Seolah aku seperti anak baru yang dihadapkan dengan berbagai masalah Ma’had.

“Kamu yakin,Rul..? Kenapa..? Uang yang ibu kirim tiap bulan kurang..? Atau karena ibu gag pernah jenguk kamu,..?”.

Suara ibuku terdengar diujung telepon. Sangat aku kenal suaranya. Suara ketika beliau begitu sedih. Dan jujur,aku tak pernah ingin mendengarnya.

“..bukan, Bu.. Bukan itu alasannya…” andaikan aku jelaskan pun ibu gag akan ngerti…

Tapi aku juga tak mengerti kenapa aku bertahan dengan keputusanku. Pulang. Hanya kata-kata itu yang ada dalam fikiranku. Bahkan aku tak sedikitpun berusaha menjaga perasaan ibuku. Sungguh aku begitu berdosa. Pada ibuku. Dan beliau hanya dapat mengatakan ‘ya’ dalam kesedihannya. Maka aku pergi dari sana, dari Ma’had Gontor yang sudah 3,5 tahun aku bernaung dibawahnya, tanpa sesuatu yang dapat aku banggakan.

Babak pertama selesai.

Dan babak selanjutnya dimulai.

Ketika kemudian aku memilih bergabung di salah satu instansi masyarakat untuk belajar, mengejar ketinggalanku. Aku terjebak dalam tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) atau lebih dikenal dengan sekolah persamaan / paket C. Setelah sebulan lebih aku mencari sekolah menengah (SMAN,SMKN bahkan MAN)  -dan tidak satupun dari sekolah-sekolah itu mau menerimaku- , atas saran seorang teman, aku memilih untuk menjadi ‘siswa’ di sekolah persamaan itu.

Disanalah kemudian aku mengenal mereka, orang-orang yang masih dan selalu bersemangat untuk belajar. Bahkan aku belajar lebih banyak dari mereka. J

*****

“Yee,..senyum-senyum sendiri…gila llu,Mir.?”

Ryan meninju bahuku pelan setelah memakai bajunya, setelah dia dan kawan-kawan mengalahkan aku dan timku pada pertandingan futsal hari itu.

“Sembarangan llu…Lu tuh gila…hahah..”

Aku membalasnya, dan berlari menjauh.
Kami bergegas menuju ‘markas’ setelah berpelu ria pagi ini. Pastinya karena Umi, salah satu pengurus PKBM, telah menunggu kami di PKBM dengan seteko air dingin dan berbagai macam gorengan buatannya. Tempat yang kami sebut markas itu tak lain adalah tempat belajar kami, PKBM itu sendiri. Tempatnya hanya rumah biasa di dekat kampus BSI Depok. Rumah yang disulap untuk kemudian dijadikan sarana belajar. Umi dan Abi –pemilik sekaligus pengurus PKBM-  mengubah hampir setengah bagian rumahnya untuk dijadikan ruang belajar kami. Ada dua pintu masuk ke rumah yang terletak ditepi kali Ciliwung itu. Pintu pertama langsung menuju ruang tamu kecil dan ruang keluarga. Sedang pintu kedua, disebelah kiri, menuju ruang belajar. Pagi hari, PKBM ini digunakan sebagai tempat belajar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang setara dengan TK, dan malamnya ramai oleh kawan-kawan sekolah persetaraan paket C.

Aku belajar disini. Setahun penuh.

Dan pagi itu, -setelah ber-futsal-, aku dan mereka (Zaenal, Aan, Ryan, Kiki, Andre, dan 13 orang lainnya) sesegera mungkin sampai di PKBM. Kami telah menyelesaikan ujian akhir sekolah 3 minggu yang lalu, dan hari itu, kabar kelulusan keluar. J

Rasanya hari itu akan jadi yang paling menyenangkan dan membanggakan bagiku. Bagaimana tidak, setelah setahun aku mengikuti pelajaran yang belum pernah diajarkan padaku, dan aku sama sekali tidak mengerti, hari ini aku akan menerima berita kelulusan.

Tapi…bayangan kegembiraan itu musnah seketika.

“Cuma Amir yang gag lulus…katanya lembar jawabannya ada yang hilang..”.

Itu kata-kata Umi yang tak sengaja kudengar saaat berbicara dengan Aan. Kata-kata yang tak pernah ingin aku dengar. Tak ingin aku berlama-lama, aku pergi. Pulang.

Malam harinya hujan -aku selalu membenci hujan-, dan aku kembali ke PKBM, memberanikan diri untuk bertanya pada Umi. Dan benar yang kudengar pagi itu, aku satu-satunya yang tidak lulus.

“Lembar jawaban geografi kamu gag ada,Mir..’ ujar Umi
“Masa gag ada sih, Mi..?” aku ngotot. “padahal ngumpulinnya bareng sama anak-anak yang laen..”
“Bener gag ada..”

Aku berinisiatif…

“Ya udah, besok saya ke Diknas deh..mau tanya nilai saya langsung..”

Setelah aku berucap begitu, Umi terdiam sejenak.

“Gag usah tanya, Mir..gag penting buat kamu..”

Tapi aku memaksa.
Dan jujur saja, aku penasaran saat itu juga.

Kalau memang benar lembar jawabanku hilang, kenapa nilai ku yang lain juga tidak ada…?. Dan kenapa Umi melarangku untuk langsung bertanya…? Aku penasaran, dan aku mencari tahu.

Aku memaksa Umi..kerutan di dahi Umi, matanya yang menunjukkan kebingungan membuatku tetap keukeuh bertanya.

Sampai akhirnya Umi menyerah, dan mengatakan hal yang sampai saat ini aku benci untuk mengingatnya..bahkan akhirnya kata-kata Umi itu yang kemudian membawaku untuk pergi jauh-jauh dari PKBM. Tanpa menoleh sedikitpun.

Malam itu jadi malam terkelamku. Aku makin membenci hujan –walaupun aku tahu hujan tak bersalah, bahkan dia tak tahu apa-apa-. Aku membiarkan diriku dalam balutan hujan seketika itu. Marah, kesal, sedih, semuanya bercampur jadi satu. Aku menagisi semuanya di dalam hujan yang cukup lebat kala itu..pukul delapan malam..aku mengulas satu persatu kejadian yang menimpaku 2 tahun belakangan itu. Dan aku menemukan diriku tak lain hanya seorang bodoh yang teramat sangat bodoh.

Aku memutuskan untuk berhenti –tanpa alasan yang jelas- dari Ma’had Gontor, mengecewakan banyak orang yang telah banyak menaruh harap padaku, kembali tanpa sedikitpun hal baik yang dapat kulakukan, tidak diterima di sekolah manapun, terjebak dalam sekolah persetaraan, bahkan aku tidak dapat lulus dari sana. Sungguh menyedihkan dan terpukulnya aku. Menyadari diriku tak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk sekedar mengembalikan senyum ibuku. Aku menemukan diriku terjebak dalam pilihanku yang tak jelas. Aku kalah. Aku pulang diguyur air hujan dengan keadaan kalah. Aku benci hari itu. Aku benci hujan hari itu. Aku benci diriku hari itu. Benci sejadi-jadinya. L

*****

Selasa, 14 Maret 2011, 21.37wib.

Dua setengah jam lagi dan aku belum menemukan cara mengakhiri deadline pertamaku ini. Ku cermati sejenak, dan aku merasa ganjil dengan tulisan ku sendiri. Tapi tak apalah. Ini awal, dan dari sini semuanya akan kumulai. Gelas berisi teh dihadapanku sudah dingin beberapa menit yang lalu, tapi masih menggodaku, dan aku menyeruputnya sedikit lagi. Aku berjalan ke dapur, meraih gelas dan mengambil air putih. Aku membawanya ke ruang tengah, untuk melanjutkan lagi ketikanku yang belum selesai tadi.
Tapi, melewati kamar mandi lalu kamr ibuku, aku terhenti. Menoleh. Menemukan beliau  -ibuku- pulas dalam tidurnya  -setelah tadi mengeluh sakit pada kakinya-. Aku tertegun sejenak. Menatap ibuku yang tengah tertidur dan…aku…


Aku menangis…
Entah kenapa tiba-tiba aku menangis…
Dan merasa sangat durhaka padanya…

Tapi,…

Aku juga merasa sangat ingin membuktikan kalau aku bisa berbakti padanya…aku ingin lakukan itu,…aku –dan siapapun pastinya- sangat ingin menemukan seorang ibu  tersenyum dan mengatakan “ibu bangga sama kamu…”

Aku terisak sejenak diantara sunyi yang mengendap, aku berjanji akan memperbaiki semuanya.

*****

Aku hanya dirumah sepanjang hari itu, -setelah berita buruk itu datang begitu saja- selama seminggu, terdiam, tak sanggup menatap wajah ibuku yang bersikap seolah tak tahu apa-apa. Walaupun beliau sedih karena ketidaklulusanku, tapi beliau tetap memamerkan senyumnya, karena beliau tahu apa alasanku tidak lulus, dan beliau menerimanya….karena hal itu,ibuku juga menginginkan aku untuk tidak lagi menjejakkan kakiku disana….di PKBM….

Seminggu itu juga nampaknya hujan jadi sering mampir. Sekedar gerimis atau bahkan sangat lebat. Aku yang hanya duduk di depan jendela kamarku, sering menatap hujan lamat-lamat. Lekat. Sambil mengingat setiap detik buncahan peristiwa dalam hidupku yang lalu. Seolah hujan ingin menemaniku. Aku belajar menghargai adanya. Seperti aku belajar menerima setiap jejak kekalahanku. Di Ma’had Gontor, SMA-SMA itu, dan di PKBM.

Dan aku benar-benar masih sangat tidak bias menerimanya. Karena aku tidak terbiasa kalah. Ini saat jatuh dalam hidupku yang mana aku benar-benar ingin menyerah.

Dan babak akhir itu selesai tanpa cacat…menyisakan potongan kesedihan yang tak pernah ingin aku mengingatnya.

*****

Aku bersyukur hari itu, -entah tanggal berapa- setelah berhari-hari ‘tidur’ dalam penyesalan, aku menyaksikan langit cerah. Maka aku memutuskan untuk pergi. Melepas penat berminggu-minggu lalu. Aku berjalan menuju perempatan Gunadarma, lalu mencegat angkot D11. Dan 15 menit kemudian aku menemukan diriku ada dalam Gramedia Depok, yang bersebelahan dengan Margo City. Aku berada diantara buku-buku dan mencermati tiap buku dirak-rak itu. Menikmati tiap detik waktu yang berharga meski hanya sekedar menumpang baca. Di tempat itu -Gramedia Book Store, Depok-, aku sering melepas jejak lelah dan gundah. Aku menemukan ketenangan tersendiri jika becengkrama dengan buku-buku. Mereka membawaku melampaui jauhnya fikiranku. Menenangkan.

Sayangnya, sejam kemudian, saat aku hendak mengambil buku Moga Bunda Disayang Allah,…
Bukk…
Seseorang dengan seragam SMA menabrakku. Menjatuhkan buku yang ada ditanganku. Aku terhenyak, sedang gadis itu berulangkali minta maaf atas ketidaksengajaannya.

Aku tak peduli dengan jatuhnya buku itu,…dengan ucapan maafnya yang terbta-bata…aku hanya tertegun melihat dan mengamati gadis berseragam SMA itu. Dan itu mengembalikan memoarku seketika. Lengkap dengan semua kegagalan yang kuraih.

Sudah petang. Aku membayar di kasir untuk satu buku yang kubeli. Lalu bersingsut pergi meninggalkan took buku itu. Aku menemukan mendung sudah menggelayut diantara riak kuning senja.

Hujan takkan turun hari ini, mendung itu hanya menggodaku agar aku bergegas, batinku…

Maka aku mengambil jalan pintas, menyebrang langsung tanpa melalui jembatan penyebrangan, yang kemudia disambut kerlingan klakson yang kencang seolah berteriak menyuruh minggir. Aku tak terlalu peduli.

Aku masuk dan menyusuri gang sempit itu, menuju UI untuk kemudian bejalan kaki kerumah. Pulang. Ramai disekitarku tak sedikitpun menggangu. Aku malah terpaku pada keadaan tadi, yang tiba-tiba membangkitkan kesedihan masa laluku. Nampaknya aku belum benar-benar ‘sembuh’ dari semua itu.
Tak ada jalan pintas lagi, maghrib menjelang.

20 menit kemudian,-setelah maghrib di masjid Ukhuwah,UI- aku berjalan dan telah sampai disini, tepi jalan akses UI, dan terhenti di depan plang besar PKBM. Lamat-lamat terdengar suara gemuruh dan tak lama setelahnya hujan datang. Tiba-tiba aku membencinya lagi.

Aku terlanjur berjalan dan telah basah, maka aku tak berniat berhenti. Aku kehujanan. Dalam keputusasaan lagi. Melewati jembatan UI, kemudian berjalan sedikit menanjak melewati tanah kosong (sekarang sudah menjadi taman di kampus Gunadarma) aku melihat sesuatu yang ganjil. Aku masih mengutuki hujan, dan aku menemukan keadaan yang aneh.

Disana, diatas tanah kosong itu aku lihat beberapa anak kecil bermain bola dibawah guyuran hujan. Itu biasa. Tapi tak jauh dari mereka, seorang bapak-bapak (kukira) duduk juga dibawah hujan mengamati anak-anak itu bermain bola. Aku tak pernah tau (bahkan sampai saat ini) apa yang membawaku menghampiri dan menyapa bapak-bapak itu (yang kutaksir usianya lebih dari 40 tahun). Aku duduk disebelahnya, bertanya..

“Pak,..koq ujan-ujanan..?lagi ngapain disini,Pak..??

Beliau hanya menoleh, dan tersenyum. Sama sekali tidak menampakkan ekspresi kedinginan. Lalu kembali menatap anak-anak itu. Sebentar-sebentar tertawa riang. Lalu..

“kamu sendiri kenapa ujan-ujanan,..??suka sama ujan..??” tiba-tiba beliau bertanya.
“nggak,Pak..saya keujanan..”jawabku singkat. “saya benci sama ujan….”

Namun aku menikmatinya. Kehujanan.

“saya juga..” kata bapak-bapak itu lagi.
“terus kenapa bapak ujan-ujanan..?”
“saya belajar menerima dan mencintai rahmat Nya…” beliau menoleh lagi. Kali ini aku mengamati wajahnya…dan aku tersadar..seketika aku sadar dan bergumam…
“bapak gag bisa lihat..?”

Beliau hanya tersenyum..tipis,..sangat tipis bahkan..

“apa bedanya bisa ngliat sama nggak..? kadang yang bisa ngeliat malah lebih buta dari yang buta..”
“maksudnya,Pak..??”

Hujan berganti jadi gerimis tepat pukul 7 malam kurang 6 menit…lapangan itu masih terang karena beberapa lampu yang dipasang.

“liat gerimisnya,…menurut kamu itu apa,…?”
“Cuma kumpulan air biasa,Pak..” jawabku ringan.
“hujan itu anugrah..buat anak-anak, buat orang buta seperti saya. Saya punya banyak masalah, tapi saya jadikan hujan sebagai obat buat perenungan saya. Anak-anak seneng pas ada ujan, mereka merasakan nikmat Tuhan tanpa disadari karena mereka masih belum ngerti apa itu rahmat dan nikmat Tuhan. Trus apa alasan saya buat benci sama rahmat Tuhan.?”

Kesadaranku seperti dihantam ombak yang mendeeras seketika itu juga. Bersamaan dengan kembali derasnya hujan. Salah seorang anak kecil yang bermain bola di tengah hujan tadi menghampiri bapak-bapak disebelahku, dan menariknya. Mengajaknya pulang.

“pulang sana,..hujan ini udah gag sehat..”

Lalu beliau –dituntun anak kecil tadi- pergi meninggalkan senyuman indah di bawah hujan. Pergi meninggalkanku sendiri yang perlahan menyadari kata-katanya. Kata-kata itu berdengung di telingaku..

“saya belajar menerima dan mencintai rahmat Nya…”
“apa bedanya bisa ngliat sama nggak..? kadang yang bisa ngeliat malah lebih buta dari yang buta..”
“…Trus apa alasan saya buat benci sama rahmat Tuhan.?”

Sepanjang sisa perjalananku malam itu, aku berfikir tentang banyak hal. Tentang masa yang sudah lewat lalu. Kesalahan-kesalahanku. Kegagalanku. Tapi kali saat itu aku sadar, mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Sama artinya aku menyerah, memupuskan tekad, membunuh semangat, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Maka aku memutuskan untuk memulai lagi –sama seperti saat ini-, memperbaiki lagi semuanya sesampainya aku dirumah nanti. Petang itu aku menggumamkan terima kasihku untuk 3 hal. Nikmat Tuhan yang tak pernah sejenak pun terhenti, bapak-bapak tua buta –yang sampai saat  ini aku tak pernah tau siapa dan ada dimana dia-, dan hujan.

Aku tak pernah lagi ingin membenci hujan. Malah aku ingin menjadi seperti bapak-bapak tua itu. Seseorang yang belajar menghargai dan mencintai hujan.

*****

Rabu, 15 Maret 2011,00.27wib

Aku tak berniat menyelesaikannya, karena aku ingin menyampaikan semua yang ada padaku untuk siapa saja yang mau membacanya. Teh dihadapanku sudah benar-benar sangat dingin. Sedingin udara yang menusuk-nusuk kulitku pagi ini. Aku menatap lagi layar komputer dihadapanku,ingin melanjutkan lagi tulisanku. Tapi…

…cukup…

Aku akan melakukannya lagi nanti, saat deadline keduaku. Seminggu lagi.
Aku melirik satu sudut dalam diariku, dan menemukan sebuah catatan kecil yang kutulis kemarin…aku tersenyum,…lega. Sangat lega. Dan sangat bersyukur tentunya.

“…bahwa hidup harus menerima,…penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti,…pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami,…pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apapun penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang menyedihkan dan menyakitkan….”
(Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,196 ; Tere Liye)