Setelah
hari itu, setelah bertahun –dua tahun lebih tepatnya- kuhabiskan pagiku duduk
diam diatas pagar usang yang masih kokoh –entah saat ini-, aku mantap untuk
melangkah pergi.
Bukan
karena aku marah. Tidak pula karena aku kecewa. Lebih karena aku ingin
memaafkan diriku sendiri atas 2 tahun bersama.
Aku
pergi. Menuju tempat dimana harusnya aku berada. Belajar. Meninggalkan segala
kebiasaan lama untuk menjajal setiap kesempatan baru yang ada jauh di luar
tempatku berada. Merantau. Mencari dan menuntut banyak ilmu yang bisa aku
dapatkan di luar duniaku yang kusadari ternyata sangatlah biasa.
****
Kepergianku
saat itu, setelah 2 tahun melalui pagi bersama, membuat sebuah lubang dalam
yang penuh dengan luka. Bening itu rapuh. Dan terluka. Itu yang kutahu dan kudengar.
Meski begitu, maaf, aku tidak peduli.
Setahun
setelah kepergianku, aku akhirnya mengucap kata itu.
“Tanpaku,
tanpa senyumku, kamu akan jadi wanita yang lebih tangguh, Bening,” ujarku
setenang mungkin lewat handphone ku.
Aku
tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar, tapi aku tahu, diamnya adalah
sedih yang mendalam. Perlahan, diam itu berubah jadi isak pelan. Aku paham.
“Menangislah,
Bening. Tapi jangan lupa hapus air matamu setelah itu. Bangunlah setelahnya.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di luar sana. Maaf jika mungkin yang
kusampaikan bukan hal yang ingin kau dengar, tapi percayalah, kelak, seuatu
hari engkau akan paham.”
Isaknya
makin terdengar. Aku tak tega. Tak tahan mendengarnya, namun harus segera
disampaikan. Dan telepon ini harus segera selesai.
“
Kamu jahat.!!’ Kata pertama yang diucapkannya.
“Kamu
nggak bisa seenaknya bilang seperti itu. Mudah untukmu bilang seperti itu, tapi
tidak mudah buatku untuk melakukannya. Kenapa sekarang..? Kenapa saat aku mulai sayang kamu..?”
Aku
diam. Andai aku bisa menjaawab tanyanya, aku akan jawab.
“Belajarlah,
karena aku belajar. Maaf atas kejahatanku, kelak kamu akan mengerti.”
Aku menutup handphone ku. Segera mematikannya dan berharap semua ini selesai dengan cepat.
Berharap dia belajar dengan cepat meski aku tahu itu tidak mungkin. Tapi aku percaya, kelak dia akan mengerti. Kelak Bening itu akan semakin mengerti bahwa dia lebih dari sekedar bening.
***
Kebersamaan
yang menyenangkan. Siapapun yang bersamanya, tidak akan bisa melupakan sedikitpun
apa yang sudah dilewati. Apalagi aku, yang saat itu menyandang status ‘pacar’
nya. Dia selalu bilang, aku selalu menyenangkan buatnya. Selalu. Meski pagi
yang kami lewati hanyalah seperti itu saja –duduk memandangi pagi di atas
kayu-kayu usang.
Perjalanan
yang tak biasa menyentuhku perlahan. Pemahaman tentang keinginan hidup yang
lebih baik di masa depan membawaku perlahan mengenal lebih dalam tentang
bagaimana hidup seharusnya. Hidup sesuai dengan aturan dan jalan yang sudah
ditetapkan.
Bertemu
dengan banyak teman baru –setelah mengenalnya- dan mengerti akan hal baru
lainnya. Saat itu kesadaranku mulai tumbuh. Kesadaran akan kehidupan yang jauh
lebih menenangkan dan menyenangkan daripada setiap pagi yang kulewati
dengannya.
Tapi,
aku tak pernah tahu bagaimana cara mengatakan padanya tentang janji kehidupan
yang lebih baik yang sudah kutemukan. Tidak pernah bisa. Bukan, tidak pernah
tega lebih tepatnya, karena aku tahu, bagaimanapun baiknya bentuk kehidupan
yang akan aku jelaskan tetap akan membuatnya merasa tersakiti.
Sampai
hari itu. Sampai Sang Pemilik Hidup itu memberikanku jalan yang sangat jelas
untuk melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku, yaitu meninggalkan
dia dan kehidupannya. Meninggalkan Bening itu.
Hari
itu, aku mendapat tawaran untuk belajar lebih jauh di negeri seberang, seperti
yang selalu kuimpikan. Restu dari orang tuaku nun jauh disana sudah kukantongi.
Urusan-urusan administrasi sudah terselesaikan dengan mudah. Sayang urusan hati
yang sebenarnya mudah ini menjadi sangat rumit. Aku yang membuatnya rumit,
dengan segala ketidakmampuan dan ketidak mauanku untuk menyakitinya. Berminggu
aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya, namun tidak jua bisa bibir ini
terucap karena tak ingin melihat Bening itu sedih.
Sampai
dia menyadarinya. Bening menyadari ada yang salah denganku.
“Ada
apa..? Ada yang mau lu ceritain..? Omongin aja..” ujarnya tiba-tiba sore itu.
“Ehh,
enggak. Enggak ada apa-apa kok. Kenapa emang..? tanyaku gugup.
“Ada
yang lu sembunyiin dari gue. Gue tau kok, gue kan cewek. Feeling gue bilang
begitu. Kenapa..?” tanyanya lagi.
Sedetik.
Lima detik. Satu menit.
“Heeiii,…haloo..”
“Eh,
iya. Mmm, aku mau ngomong.”
“Yaudah
ngomong,”
“Seminggu
lagi aku pergi.” Akhirnya terucap juga kata-kata itu.
“Pergi..?
Kemana..?”
“Kyoto.”
“Ngapain..?”
“Melanjutkan..”
“Impian
bodohmu..?” potongnya cepat.
“Ya.”
Jawabku singkat.
…..
Aku
menunggu lama, meski aku tahu tidak akan ada lagi kata yang terucap. Senja sore
itu berlalu begitu saja. Terasa sangat lama, menyisakan isak yang perlahan
pergi menjauh. Aku enggan menoleh, tetap menikmati senjaku seperti biasa. Aku tahu
ini akan terjadi, tapi tidak tahu kalau ini akan begitu menyakitkan. Buatku. Terlebih
untuknya.
Setelah
hari itu tidak ada lagi pagi yang menyenangkan. Tidak lagi aku temukan sosoknya
duduk riang menungguku di atas kayu-kayu pagar yang usang. Aku hanya menemukan
pagi yang bias. Semu. Sesaat lalu bergegas pulang. Tidak ada kabar darinya. Sama
sekali. Aku pun tidak bertanya atau meminta.
***
Sudah
lima hari berlalu saat itu. Malam itu aku akan resmi berangkat, maka siang itu
aku mencoba mengiriminya pesan singkat.
“Malam
nanti aku berangkat.”
Sangat
singkat. Dan tidak seperti yang kuharapkan, dia tidak membalasnya. Bening itu
mengabaikannya.
Sayangnya
aku salah. Senja datang membawanya. Muncul begitu saja di pintu kamar kost ku.
Raut wajahnya tak lagi bening. Layu. Sembab matanya menandakan dia tak henti
menangis.
“Kapan
lu balik kesini lagi..?”,
Dia
menggenggam erat jemariku saat melontarkan pertanyaan itu. Aku diam. Tak
menjawab. Lima detik. Dua puluh detik. Satu menit berlalu dan..
“Kapan
lu balik kesini lagi..?.
Pertanyaan
yang sama yang diulang dua kali. Aku menatap kosong matahari yang mulai
terbenam di ufuk barat saat itu. Sejenak kemudian menoleh, menatap jemarinya
yang erat mengisi sela-sela jemariku.
“Terlalu
sulitkah menjawab pertanyaan gue..?”.
Mulai mellownya
deh,
batinku.
Aku
masih menikmati senja yang perlahan turun di hadapanku. Tidak ingin merusaknya
dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang –jujur- sangat tidak aku ketahui
jawabannya. Aku tidak ingin mengabarkan apa-apa.
Dan
akhirnya 5 menit berlalu dengan hening. Pelan aku menyimak gema adzan mampir di
telingaku. Aku melepaskan jemariku dari genggamannya, lalu meraih wajahnya. Dia
bangkit. Menoleh heran. Dan masih menunggu jawab dari pertanyaannya tadi
tentunya. Melihat masam wajahnya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan
itu, kubelai pelan rambutnya yang di kucir kuda sambil kurapikan beberapa helai
rambut yang mampir di wajahnya. Aku tahu dia masih menunggu. Dan jujur aku
sangat tergoda untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi, urung aku ungkapkan, karena
–lagi-lagi- aku memang tidak tahu jawabnya. Aku berdiri, lalu mengulurkan
tanganku. Dia masih menunggu dan enggan menyambutnya. Aku memaksa.
“Sudah
maghrib, shalat yuk.”
Aku
berkata pelan sambil menyuguhkan senyum terbaik yang aku bisa. Dia hanya diam. Aku
tahu, senyumku –walaupun tidak manis- selalu mampu meluluhkannya. Tak lama
kemudian dia menyambut malas uluran tanganku. Dan kami meninggalkan tempat ini dengan tanpa menyisakan
jawaban.
Aku meninggalkan
tempat ini tanpa menyisakan jawaban.
***
Maghrib
usai lebih cepat dan malam hadir lebih awal. Aku bergegas, mengemasi semua yang
ada di dalam kamar kost ku. Segala yang ada, bahkan lembar-lembar kenangan yang
lusuh pun ikut ku benahi. Dia menungguku disana, diambang pintu. Masih menunggu
dengan tanya yang sama. Aku berhenti sejenak, berdiri tegak, meletakkan dua
jari ku yang membentuk huruf ‘V’ ke ujung-ujung bibirku, lalu menarik bibirku
hingga membentuk senyum.
Melihatku
seperti itu, dia tersenyum.
“Kemarilah,”
pintaku.
“Bisa gak lu ga usah pergi..?” tanyanya sesak.
“Aku
ga bisa kasih kamu jawaban apa-apa. Maaf.”
“Kenapa?”
“Karena
aku sayang kamu,”bisikku.
Isaknya
makin terdengar, bersamaan dengan itu decit rem mobil terdengar di depan. Aku
menoleh.
“Jemputanku
sudah datang, aku selesaikan packingnya dulu ya..,” pintaku.
Dia
diam, membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku menatapnya dari cermin yang
ada di hadapanku, Dia menyeka air matanya. Dan aku menutup koper terakhirku.
Koper dengan seribu kenangan yang ingin aku bawa kemanapun aku pergi.
Aku
berbalik dan menemukan dia sudah tersenyum.
“Sekarang
gue ngerti rasanya jadi lu..,” ucapnya pelan.
“Kata
siapa..?”
“Kata
gue..,” jawabnya.
Aku
tersenyum, menghampirinya lalu menggenggam erat kedua tangannya.
“Kamu
sudah banyak berubah. Sudah bisa belajar. Tapi kamu masih belum sepenuhnya
mengerti. Yang kamu rasa saat ini adalah sedikit dari apa yang sudah aku rasa.
Percayalah. Kamu akan mengerti, suatu hari nanti,” ujarku.
Dia
menangis lagi, aku menyeka airmatanya lagi.
“Menangislah,
tapi jangan lupa hapus air matamu,” kataku sambil meraih tas dan koperku.
Terakhir, aku merengkuh kepalanya, membelai rambutnya dan mendaratkan kecupan
ringan di keningnya.
“Aku
pergi ya. Aku akan kembali, bila sudah waktunya. Tidak ada kata selamat
tinggal, jadi jangan menungguku.” Ujarku saat itu.
Dia
menyeka airmatanya, lalu tersenyum. Dan senyumnya adalah segalanya bagiku.
***
Dan
hari ini, aku disini. Ditempat dimana aku dulu menikmati matahari pagi yng
tidak pernah bisa kau lupakan. Tidak banyak yang berubah dari tempat ini, hanya
saja pagar usang itu sudah tidak ada. Digantikan bangku kayu berangka besi
dengan berhias pepohonan rindang disekitarnya. Tidak hanya satu bangku, tapi
beberapa.
Aku
memilih untuk mampir ketempat ini sebelum nanti aku pulang ke rumah orang
tuaku. Duduk disalah satu bangku kosong. Menikmati terik yang nyaman karena
tertutup oleh rindangnya dedaunan. Memejamkan mata sejenak. Tidak terasa, aku
terlelap.
“Permisi,
Mas. Boleh saya duduk disini.? Tempat lain ga ada yang kosong.”
Suara
itu menggugahku dari tidur. Aku menegakkan kepala dan menoleh. Kemudian melihat
sekitar, memastikan bangku-bangku lainnya penuh. Oiya, ini malam minggu. Meski masih
siang, tempat ini ramai oleh keluarga yang sibuk mengajak anak-anaknya bermain
di taman dekat sini –sudah ada taman untuk anak-anak sekarang-, ditambah
beberapa muda-mudi yang duduk santai mengobrol.
“Oh
iya, Mbak. Silahkan.” Aku mempersilahkannya duduk sambil tersenyum, lalu
kembali bersandar dan memejamkan mataku.
“Lagi
nunggu orang, Mas..?”
Gadis
disebelahku membuka percakapan.
“Enggak,
Mbak. Lagi istirahat aja.” Jawabku tanpa merubah posisi tubuhku.
Sepuluh
menit hening. Aku rasa cukup aku mampir disini. Membuka mataku dan kemudian
berdiri.
“Saya
duluan, Mbak,” pamitku pada gadis yang masih asik dengan ipod ditangannya.
“Oh
iya, Mas,” balas gadis itu sambil tersenyum.
Aku
bergegas meninggalkan tempat ini, bergegas untuk pulang dan menemui orang
tuaku. Bergegas menyampaikan berita gembira.
***
Pagi
ini, mendung sisa semalam masih menggelayut manja di ufuk timur. Menutupi
hadirnya sinar mentari yang sejatinya sudah ada sejak tadi. Jarum jam panjang
di Army ku menunjuk ke angka 7. Sudah lewat pagi. Aku melanjutkan langkahku,
menikmati pagi yang memabukkan. Yang membuat beberapa dari penghuni rumah yang
aku lewati menarik selimut lagi karena hari ini hari libur nasional. Sayangnya,
beberapa anak kecil justru bersemangat berlarian di halaman rumah dan taman
sekitar rumahnya. Tertawa riang. Beberapa bahkan melambaikan tangannya padaku.
Aku,
seperti biasa, menikmati pagi dengan caraku. Melangkahkan kaki perlahan menyusuri
jalan setapak depan rumah tempat aku kost dulu. Melangkah perlahan menuju
padang rumput yang kini makin ramai oleh anak-anak kecil yang riang menyambut
hari libur.
Tidak
ada bangku kosong yang tersisa, selain bangku dibawah pohon rindang yang
ditempati satu orang.
“Permisi,
Mbak, boleh saya duduk?” tanyaku.
“Oh,
iya Mas. Silahkan.”
“Sudah
dari tadi disini, Mbak?”
“Lumayan,
mas. Sayang kalau pgi seperti ini dilewatkan.”
“Iya,
Mbak.”
Aku
menatap lurus ke depan. Ke arah ramai.
“Oiya,
Mbak, kenalkan. Nama saya Fajar.”
“Iya,
saya tahu.”
Gadis
itu menoleh dan tersenyum, tapi aku masih lekat menatap ke depan. Hanya
sebentar, lalu dia pun lekat menatap ke depan.
“Sudah
tercapai impian bodohnya, Mas..?” tanyanya kemudian, masih dengan tatapan lurus
ke depan.
“Sudah,
Mbak. Tapi minggu depan saya akan pergi lagi.”
“Masih..?”
“Ya.”
“Secepat
itu kembali hanya untuk pergi lagi..?”
“Tepat.”
Hening
tiba-tiba. Tidak ada tanya lanjutan.
“Kalau
berkenan, mungkin kamu bisa ikut denganku.”
Dia
menoleh. Saat itu juga, aku menyodorkan kotak beludru berwarna merah, sambil
menyuguhkan senyum yang masih tidak terlalu manis. Dan berkata…
“Menikahlah
denganku.”
Dan
tak lama, aku menemukan senyum yang masih sama di wajah itu.
Senyum
bening miliknya dulu.
Utuh.
Senyum milik Bening.
(End)