regardé une beauté de la romance, ..
tombé en amour avec un personnage sans nom, ..
le visage et, apparemment, pour certains, ..
la motion et ne portant pas, ..
Je n'ai pas honte de dire plus, ..
Je suis tombé en amour avec la fille sans nom, ..
(menatap satu keindahan dalam romansa,..
jatuh hati pada sosok tak bernama,..
yang wajah dan rupanya entah,..
yang gerak dan lakunya tiada,..
tak malu lagi aku berkata,..
aku jatuh cinta pada gadis tak bernama,..)
* : (gadis tak bernama,..)
"maka, kopi seperti setiap kisah pahit, yang meski bisa dibuat semanis apapun, pahitnya tetap menemani. dan harus dikisahkan." - misterkopi -
Rabu, 18 Desember 2013
Sabtu, 14 Desember 2013
Catatan Kehilangan (07/10/2010)
"kalung nie buat loe,biar loe inget sama kebandelan qta,..inget aja yee,jangan diulangin,..hehehe,.."
(alm. Adrian "Cakil" Gunawan)
membatu raga saat sampai pada pekarangan itu,..
menemukan bujur tubuh mu yang lalu membisu,..
tak lagi kudengar celoteh paraumu,..
tak mungkin lagi kutemukan lebar senyummu,..
beginikah rasanya saat tak bisa kuterima nyata adamu telah pergi,..??
seperti inikah sakitnya merasakan sendiri meski kutahu pada akhirnya kau harus pergi,..??
aku menatap jengah yang lalu enggan,..
mampir mendingin,..membekukan luruh airmataku,..
mengenang tiap jejak dan jajak adamu,..
aku menanti,..
berharap lagi kulihat kau terbangun,..
nyatanya,..
ah,..
sulit rasanya aku berdiri tanpa ada sepertimu,..
tak mungkin bersanding denganmu lagi demi menyumbangkan bait-bait lagu,..
kehilangan,..
aku luruh lemah dan jatuh ketika berhadapan dengan mu yang kaku,..
tapi aku harus lagi kuat saat esok ku tahu kau tak lagi ada padaku,..
aku kadung berjanji,..
akan menatap masa depanku,..
tak sama seperti aku menatap masa laluku,..
karena ku tahu,..
kau inginkan aku seperti itu,..
aku ikhlas,..
aku rela,..
atas kehilangan ini,..
kehilangan atas dirimu,sahabatku,..
(teruntuk sahabat ku,..
dalam kenangan,..
(alm) Adrian "Cakil" Gunawan,..)
(alm. Adrian "Cakil" Gunawan)
membatu raga saat sampai pada pekarangan itu,..
menemukan bujur tubuh mu yang lalu membisu,..
tak lagi kudengar celoteh paraumu,..
tak mungkin lagi kutemukan lebar senyummu,..
beginikah rasanya saat tak bisa kuterima nyata adamu telah pergi,..??
seperti inikah sakitnya merasakan sendiri meski kutahu pada akhirnya kau harus pergi,..??
aku menatap jengah yang lalu enggan,..
mampir mendingin,..membekukan luruh airmataku,..
mengenang tiap jejak dan jajak adamu,..
aku menanti,..
berharap lagi kulihat kau terbangun,..
nyatanya,..
ah,..
sulit rasanya aku berdiri tanpa ada sepertimu,..
tak mungkin bersanding denganmu lagi demi menyumbangkan bait-bait lagu,..
kehilangan,..
aku luruh lemah dan jatuh ketika berhadapan dengan mu yang kaku,..
tapi aku harus lagi kuat saat esok ku tahu kau tak lagi ada padaku,..
aku kadung berjanji,..
akan menatap masa depanku,..
tak sama seperti aku menatap masa laluku,..
karena ku tahu,..
kau inginkan aku seperti itu,..
aku ikhlas,..
aku rela,..
atas kehilangan ini,..
kehilangan atas dirimu,sahabatku,..
(teruntuk sahabat ku,..
dalam kenangan,..
(alm) Adrian "Cakil" Gunawan,..)
Catatan Jalanan
ada kejam terpancar dengan deru mesin bergema,..
bersama alunan asap hitam kendaraan,..
saat aku,..
bercengkrama dengan jalan,...
menatapku nanar seorang gadis seusia adikku,..
terperangkap dalam kelu nada sumbang,..
terjajar dari dudukku,..
ketika mendengar gitar usangnya mengalun,..
pun disudut lain,..
terdengar nyaring teriakkan seorang,..
melontarkan berita hangat yang tercetak,..
menghabiskan waktu menjajakan keringat...
kelam yang didapat.,,.
saat gitar usangnya dikatakan sumbang,...
kejam yang dirasa,..
saat makian halus tolak tawarannya,..
Jalanan,..
berisi kisah,..
tentang bisingnya nada sumbang dari sebuah gitar usang,..
bertutur cerita,.
tentang lancangnya kehidupan ,..
berbalut kejam,..
kata-kata "sampah masyarakat",..
tapi,..
apakah selalu seperti itu,...???
hanya ada buruk,...buruk,..dan buruk,.??
nggak,...TIDAK,..
selalu ada sisi baik,...
dari sebuah sisi yang buruk,..
Jalanan juga melantunkan merdunya dawai gitar,..
Jalanan juga menawarkan pelajaan kehidupan,..
pun jalanan,..
ajarkan kerasnya kehidupan,..
pada setiap yang bernaung di bawahnya,..
selalu ada tekad untuk berbuat baik,..
pada kehidupan yang sering tak baik,...
senantiasa ada niat untuk memperbaiki diri,...
dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi,...
Jalanan,..
dimana alunan musik kehidupan mengalun lebih keras,..
bersama dengan kejam,...
ada kawan kita diantaranya,...
ada saudara kita disana,...
di jalanan,...
>untuk kawan-kawan di jalanan,..tetep semangat,..<
-request dari mereka, 31/01/2010; 16.14 wib-
bersama alunan asap hitam kendaraan,..
saat aku,..
bercengkrama dengan jalan,...
menatapku nanar seorang gadis seusia adikku,..
terperangkap dalam kelu nada sumbang,..
terjajar dari dudukku,..
ketika mendengar gitar usangnya mengalun,..
pun disudut lain,..
terdengar nyaring teriakkan seorang,..
melontarkan berita hangat yang tercetak,..
menghabiskan waktu menjajakan keringat...
kelam yang didapat.,,.
saat gitar usangnya dikatakan sumbang,...
kejam yang dirasa,..
saat makian halus tolak tawarannya,..
Jalanan,..
berisi kisah,..
tentang bisingnya nada sumbang dari sebuah gitar usang,..
bertutur cerita,.
tentang lancangnya kehidupan ,..
berbalut kejam,..
kata-kata "sampah masyarakat",..
tapi,..
apakah selalu seperti itu,...???
hanya ada buruk,...buruk,..dan buruk,.??
nggak,...TIDAK,..
selalu ada sisi baik,...
dari sebuah sisi yang buruk,..
Jalanan juga melantunkan merdunya dawai gitar,..
Jalanan juga menawarkan pelajaan kehidupan,..
pun jalanan,..
ajarkan kerasnya kehidupan,..
pada setiap yang bernaung di bawahnya,..
selalu ada tekad untuk berbuat baik,..
pada kehidupan yang sering tak baik,...
senantiasa ada niat untuk memperbaiki diri,...
dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi,...
Jalanan,..
dimana alunan musik kehidupan mengalun lebih keras,..
bersama dengan kejam,...
ada kawan kita diantaranya,...
ada saudara kita disana,...
di jalanan,...
>untuk kawan-kawan di jalanan,..tetep semangat,..<
-request dari mereka, 31/01/2010; 16.14 wib-
J O K E R
Aku lupa hari apa saat itu. Masih berusaha
mengingat dengan baik. Tapi, semakin aku berusaha mengingat, semakin jauh
ingatan itu. Yang pasti hari itu aku dan kamu melewati separuh malam bersama. Aku
ingat menemanimu berkunjung ke rumah seorang teman yang katamu sudah lama tidak
bersua. Namun sayang, sampai di rumah temanmu, hanya disambut oleh orang
tuanya, sementara temanmu masih belum pulang dari bekerja.
Aku tidak terlalu ingin mengingat bagian
itu. Yang kuingat malam itu, setelah aku dan kamu sedikit lebih lama menunggu,
temanmu tidak kunjung pulang. Lalu kamu memutuskan untuk menunggunya di salah
satu tempat makan pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya. Aku dan kamu berjalan
menuju kesana, sambil berharap temanmu nanti akan datang menyusul. Aku tentu
tidak berharap itu terjadi. Aku berharap temanmu lelah, lalu enggan menyusulmu
ke tempat itu. Picik bukan.? Ya, aku ingin menghabiskan sebagian waktu itu
bersamamu.
Aku ingat sepanjang perjalanan, kamu
terus mengoceh tentang tempat makan pinggir jalan yang akan kita datangi. Katamu,
tempat itu sebenarnya biasa saja, tapi selalu ramai oleh pengunjung. Tempatnya,
seperti layaknya tempat makan yang ada di pinggiran jalan kotamu, dengan tenda
kecil dan gerobak. Aku yang saat itu lapar hanya berharap kita cepat sampai
disana.
Joker. Itu kata yang tertulis di spanduk
yang menutupi gerobak yang ada disana. Seperti katamu, hampir pasti ramai. Kita
mengambil tempat duduk yang ada. Menunya, bukan nasi atau makanan berat
lainnya. Hanya roti bakar, pisang bakar, segala jenis masakan mie dan beberapa
minuman. Seperti katamu sepanjang jalan tadi, tidak ada yang istimewa, tapi
rasanya lumayan enak. Aku tterburu menghabiskan roti bakar kacang dan mie
goreng karena lapar. Bahkan aku sampai harus memesan lagi karena saking
laparnya. Kamu hanya tertawa melihat tingkahku saat itu.
Setelah semua yang dipesan habis, kita
tidak langsung beranjak. Berbincang sejenak. Tentang banyak hal. Banyak hal
yang kita bicarakan dan banyak hal yang sampai saat ini aku ingat tanpa perlu
susah payah mengingatnya. Dan setelah kita sadar kita sudah cukup lama berada
disana, kita akhirnya memutuskan untuk pulang. Aku, saat itu berharap, aku
dapat mengunjungi tempat itu lagi bersamamu. Mengunjungi Joker.
***
Ini sudah yang kesekian aku mampir ke
tempat ini, Joker. Tempat yang menyajikan menu roti bakar, pisang bakar dan
segala macam jenis masakan mie serta minuman pastinya. Tempat ini masih sama
seperti pertama aku mengunjunginya. Yang berbeda adalah aku mengunjunginya
sendiri. Tanpa kamu. Aku menikmati aroma roti bakar dan wedang jahenya sendiri,
tidak ada kamu.
Dan malam ini, setelah sekian kali
mampir, baru kali ini aku merasa bahwa aku tidak harus kesini denganmu. Tempat ini
mungkin menyisakan kenangan tersendiri. Buatku. Dan aku harap, aku selalu punya
waktu untuk sekedar menyeruput segarnya wedang jahe bersama dengan aroma
kenangan yang selalu lewat saat aku berada disini. Aroma kenangan tentang aku
dan kamu.
Dan Joker, bukan lagi sekedar salah satu
kartu atau tokoh jahat di film Batman, tapi jadi bagian yang tidak akan
terlupakan.
Rabu, 11 Desember 2013
Untuk Kalian, Keluarga Baru
Persembahan kecil, yang mungkin tidak
berarti apa-apa. Yang kuhadiahi untuk kalian, keluarga baruku.
***
Sampai saat ini, aku masih belum benar
mengerti kenapa aku bisa berada ditengah-tengah kalian. Aku masih belum paham,
bagaimana kemudian, kalian menjadi salah satu bagian terbaik (untuk saat ini)
dalam episode perjalananku.
Mungkin sedikit terlambat memaknainya. Tapi
tak apalah, daripada sama sekali tidak kusadari. Aku bangga berada diantara
kalian.
***
Masih sulit untuk memulai kalimat
tentang kalian yang baru kukenal. Belum bisa kupahami, tapi selalu kucoba untuk
mengerti. Sulit menceritakan kenapa kemudian aku bisa berjalan melintasi jalan
terjal menuju Kawah Ratu hari itu, dengan bergantian membawa ransel besar milik
seorang teman bersama dengan. Sulit menceritakan bagaimana aku bisa ‘terjebak’
dibawah rimbunnya pinus yang membentang, beralaskan spanduk yang kubawa dari
kampus bersama kalian. Sulit menceritakan bagaimana aku kemudian bisa
beriringan jalan, bersinggungan dan berbagi banyak hal bersama kalian.
Masih teringat saat itu, aku lebih
memilih menunggu kalian, orang-orang yang sebagian belum kukenal, ketimbang
berjalan bersama mereka yang lebih dahulu kukenal. Aku tidak tahu menunggu
siapa, seperti apa bentuk wajahnya dan bagaimana perawakannya. Aku hanya yakin,
seperti apapun kalian, aku bisa bersama kalian untuk beberapa hari ke depan. Berjalan
bersama, berdampingan dan menghabiskan waktu bersama.
Hutan pinus dikaki Kawah Ratu jadi saksi
bisu kita pernah bersama. Berbagi banyak hal. Susah, senang bahkan berbagi nasi
dan makanan. Meski harus dihiasi dengan misteri nasi uduk yang sampai hari ini
belum terungkap.
![]() |
| Diksar RZ |
Masih terputar juga tentang bahagianya,
semangatnya saat melakukan hal pertama bersama-sama dengan kalian. Kegiatan
pertama yang kuharap semangatnya selalu ada sampai kegiatan terakhir yang entah
kapan. Meski hanya menyapukan debu yang terurai di lantai masjid yang jauh dari
rumahku, atau walau cuma duduk bersama menikmati film yang tengah diputar. Itu lebih
dari sekedar hal yang bisa dikenang.
***
Ada banyak harap yang kutemukan saat
bersama kalian. Ada banyak asa yang kulihat memancar dari masing-masing mata
kalian yang kutatap. Harap dan asa tentang hidup yang lebih baik di hari esok. Tentang
berbagi ketulusan dan keikhlasan. Semangat dari raga dan hati kalian menular
padaku. Membuatku tidak lagi ragu melangkah lebih dalam, lebih jauh pada dunia
yang belum pernah kujamah, dunia relawan.
Mungkin terlalu dini jika aku katakan,
aku bangga berada diantara kalian, sementara aku belum begitu mengenal kalian.
Tapi yang kutahu, saat-saat bersama kalian adalah saat yang menenangkan dan
menyamankan. Menenangkan kehidupan sendiri dan menyamankan kehidupan orang
lain. Slogan ‘Tetap semangat bahagiakan ummat’ bukan hanya sekedar slogan yang
tercetak dan terucap oleh lisan, tapi juga tertanam dalam hati dan terlihat
dalam tindakan. Bersama kalian, semangat kalian dan adanya kalian, membuat aku
berani membuka segala kemungkinan memperbaiki hidup. Menjadi lebih baik dan
lebih baik lagi.
***
Lewat ini, aku mengenalkan kehidupanku
pada kalian. Kehidupan ‘penulis jalanan’ dan kehidupan presbem (seperti yang
selalu kalian bilang). Dan aku harap, aku bisa merasakan kehidupan kalian yang
membuatku selalu ingin berbagi.
Tidak ada yang tahu seberapa banyak
waktu yang aku dan kalian miliki. Yang pasti, akan selalu ada hal istimewa yang
menjadi potongan kenangan dalam memori yang tersimpan.
Dan ini hanya awal dimana aku yang masih
belum terlalu mengenal kalian menceritakan sedikit tentang kalian. Masih ada
banyak hal yang menunggu kita.
Dan akan selalu ada banyak kata yang
dapat kuketikkan jika itu tentang kalian. Jadi, siapkan saja ceritanya, aku
akan menuliskannya untuk kalian.
Dan ini adalah persembahan kecil yang
mungkin tidak berarti apa-apa. Yang kuhadiahi untuk kalian, keluarga baruku.
![]() |
| Masjidku Bersih & Hijau |
Untuk
kalian : Dwi Rahmi, Wafa’ Kamilah, Mutiara Intan, Hanifa Nur Azizah, Aisyah
Zahra, Riyadh Imanuddin, Dede Amanatillah & Mohamed Azmi Dzulkifli
Kamu dan Cappucino
Tidak lama untuk
mencapai coffeshop ini. Dengan berjalan, hanya membutuhkan waktu 15 menit.
Melalui jalan berliku yang berakhir pada sebuah jalan raya, lalu dilanjut
berjalan menepi sepanjang jalan raya. Sampai
di lampu merah, berbelok ke kanan dan menyebrang tak jauh setelahnya.
Dari seberang jalan, kamu akan melihat betapa coffeshop ini tidak pernah sepi
dari pengunjung. Apa karena menunya yang enak dan istimewa? Murah? Entahlah.
Buatku, duduk disini cukup merogoh kocek. Sebagian orang mungkin akan
mengiyakan, tapi untukku, coffeshop ini menawarkan hal lain. Senyum ramah dari
kasir dan manjanya nyala wifi membuatku betah berlama-lama disini. Musiknya
alami. Deru dan klakson khas dari kendaraan bermotor yang ramai berlalu-lalang.
Dan musik dari playlist yang aku dengar juga pastinya.
Ini sudah kesekian
kalinya aku mampir. Tak terhitung jumlah gelas cappucino yang aku teguk.
Rasanya masih sama. Seperti ada kamu disana. Meski saat kusadari, kamu hanya
menemani aroma cappucino yang merebak. Menggoda hidungku, mampir sejenak lalu
pergi begitu saja, tanpa jejak.
Aku masih tidak
mengerti, kenapa –lagi-lagi- aku masih harus menikmati satu sesi dalam sebuah
hariku dengan bayang dirimu. Meski hanya tipis hawa keberadaanmu, meski setipis
aroma cappucino yang sedang kuhirup, itu jelas sekali, kamu.
Kamu tahu, bedanya
cappucino dengan adamu? Aihh, ini bukan soal rayuan gombal atau semacamnya. Hanya
sebuah tanya yang muncul begitu saja. Cappucino itu khas. Kopi Italia yang
ternyata berasal dari Turki. Sementara kamu, kamu tidak memiliki ke-khas-an
sama sekali. Kamu biasa. Sederhana. Bahkan kamu lebih sederhana dari detai
kenangan yang kupunya. Tidak ada labirin dalam dirimu, tapi tetap menyisakan
keingintahuan akan bagaimana kamu. Tidak seperti cappucino yang misterinya
mendunia. Kamu dan duniamu, yang mungkin tidak ingin dimengerti oleh siapapun.
***
Aku ingat sekali saat
itu, aku dan kamu mampir di salah satu coffeshop yang lebih mentereng dari
tempatku duduk saat ini. Tepat diseberang Taman Menteng. Coffeshop yang
terkenal dimana-mana, dengan plang merah hijau menyala bertuliskan angka 7
& 11. Angka kesukaanmu, seperti yang kamu katakan waktu itu.
Tidak secangkir
cappucino pun yang kita bawa, hanya minuman bersoda dan semangkuk plastik nasi
yang dipanaskan di microwave oleh kasir coffeshop tersebut. Setelah membayar,
aku dan kamu bergegas keluar, menyeberang, menuju taman yang tengah ramai. Sibuk
berceloteh riang, mengomentari ini-itu, sambil sesekali tertawa. Lalu aku
membawamu duduk di atas rerumputan yang lembab. Aku terpeleset dan hampir
jatuh, tapi kamu justru renyah menertawakanku. Aku dan kamu bersingsut duduk
disana. Menikmati minuman dingin dan semangkuk plastik nasi. Menyenangkan. Sampai
dua orang pengamen datang, menyanyikan lagu disela-sela nikmatnya santap malam.
Tidak lama, aku dan kamu berkeliling, lalu pulang.
Aku masih mengingat
detail bagian itu. Mengingat setiap ekspresi yang menyenangkan. Tidak ada
secangkir cappucino pun malam itu. Hanya ada kamu.
Dan setelahnya, aku
merayakan kembaliku sendiri di tempat yang kemarin kuceritakan. Tempat dimana
aku dan kamu begitu dekat dengan langit. Dengan secangkir cappucino. Sendiri. Melakukan
‘ritual’ yang tidak satupun dari orang di dunia ini yang mengerti kecuali aku
dan kamu.
***
Kamu tahu, apa
kesamaanmu dengan cappucino? Aihh, lagi-lagi ini bukan rayuan gombal. Kamu tahu?
Pasti tidak, karena aku tidak pernah mengatakannya padamu. Maka hari ini, aku
akan tuliskan untukmu, meski kutahu kamu mungkin tidak akan pernah membacanya.
Kamu dan cappucino,
adalah hal yang sama yang aku lewatkan.
Kamu dan cappucino
adalah hal yang sama yang menenangkan dan menyenangkan.
Kamu dan cappucino
adalah memori terindah yang pernah terhirup akal fikiran.
Kamu dan cappucino
adalah salah satu bentuk terbaik penghambaan cinta untuk Tuhan yang aku siakan.
Kamu dan cappucino
adalah …
Sabtu, 07 Desember 2013
Yang (Mungkin) Takkan Kembali
Aku melewati tempat itu
tadi. Tempat dimana aku dan kamu biasa bercengkrama dulu. 10 menit lalu, aku
ada disana. Memacu pelan laju sepeda motorku, lalu berhenti di salah satu sisi
jalan tempat itu. Salah satu tempat tinggi yang ada di dekat kotamu dan kotaku.
Salah satu tempat yang membuatku merasa sangat dekat dengan langit. Tempat yang
selalu punya arti tersendiri buatku. Entah buatmu.
Saat aku melewatinya,
aku merasa seseorang tengah memperhatikanku. Angin yang lembut menyapu kepalaku
yang tidak tertutupi helm menggodaku untuk berhenti sejenak. Aku tergoda. Tak ada
alasan untuk menolak pemberhentian laju jalanku disana. Tepat setelah berhenti,
aku melihat laju kereta dua arah di bawahku. Hanya sepersekian detik, lalu
suaranya mengilang. Dan lagi-lagi digantikan angin yang meracau perlahan.
Ada yang berubah dari
tempat itu. Malam minggu seperti ini, tempat itu tidak lagi ramai oleh
muda-mudi yang duduk diatas jok motor sambil menikmati indahnya langit malam. Hanya
ada kencang deru kendaraan dan nyaring suara klakson bersahutan.
Di sisi yang kutempati,
ada rambu dilarang parkir sepanjang jalan. Dari bawah keatas, sampai bawah
lagi. Mungkin itu sebabnya tempat itu sunyi sekarang. Meski ada beberapa motor
yang berhenti untuk sekedar menikmati angin malam, tempat itu kini sepi.
Aku menatap ke seberang
jalan, tepat dimana disana terdapat tiang lampu penerangan jalan yang besar. Juga
ada trotoar bagi penyebrang jalan. Mataku seperti mencari sesuatu, entah apa. Mungkin
kepingan mozaik yang tertinggal disana. Atau mungkin hal lain? Entahlah. Aku hanya
bisa menerka.
Aku terhenti disana,
menikmati sejuknya angin tanpa melakukan apa-apa. Tidak juga aku berusaha
mengenang, atau melupakan. Lima menit, cukup menenangkan dan menyenangkan
disana. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
Tapi sebelum pergi, aku
melakukan hal yang biasa kulakukan. Aku, -sebenarnya kamu- menyebutnya sebagai ‘ritual’.
Memejamkan mata sejenak sambil melantunkan doa dalam hati. Menyampaikan harapan
dan asa pada Dia Sang Pemilik Hati. Berharap, dari kolong langit yang tidak
jauh ini, Dia mendengar dan mengabulkan setiap ucap dalam hati. Apa yang
kuminta? Entahlah. Cukup aku dan Dia yang tahu. Toh kuyakin kamu tidak ingin
tahu. (:
***
Kini aku ada disini, di
salah satu tempat yang menyajikan makanan cepat saji ala Jepang. Tepatnya,
berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kotaku. Dan lebih tepatnya
lagi, aku berada di tempat duduk favoritku, -favoritmu juga mungkin- lantai dua
dekat dengan jendela.
Terakhir aku kesini
bersamamu adalah saat itu. Saat dimana aku ‘kembali pulang’ setelah sekian lama
pergi. Saat dimana mungkin kamu enggan untuk mengingatnya. Saat paling
menyebalkan dalam hidupmu, mungkin. Karena setelah itu, kamu yang pergi, meski
aku memilih untuk tinggal.
Mengingat itu aku hanya
bisa tersenyum. Pahit. Lebih pahit dari segelas ocha yang kini ada di tanganku.
Tidak ada yang ingin aku ingat lagi. Tidak ada yang ingin aku ucapkan lagi. Aku
hanya ingin memiliki kenangan atasmu, hanya sampai disini. Tidak lebih.
***
Apapun itu, semua hanya
kenangan. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan ‘jalan pulang’. Karena aku
tahu, jalan itu sudah tertutup runtuhan bebatuan besar. Karena aku tahu, aku
tidak cukup pantas untuk ada disana, di’rumah itu’.
Aku tidak pernah ingin
menyimpulkan apa-apa. Tapi jelas yang aku tahu, aku merasa mengerti arti dari
seuntai kalimat yang berbunyi : “Ada saat dimana seseorang yang pergi
meninggalkanmu, saat dia pergi dia membawa sebagian dari dirimu, hatimu atau
bahkan kehidupanmu”.
***
Terima kasih, Tuhan,
karena telah mengizinkanku tetap memiliki ingatan akan kenangan masa lalu. Dan
terima kasih, untuk setiap inchi yang pernah melekat di tiap jalan yang pernah
aku dan kamu lalui. Pada akhirnya, untukmu, terima kasih pada Nya, karena aku,
meski sejejak, sejenak dan sesaat, pernah diizinkan bersinggungan denganmu. ((: :))
Langganan:
Komentar (Atom)


