Rabu, 18 Desember 2013

fille sans nom.. *

regardé une beauté de la romance, ..
tombé en amour avec un personnage sans nom, ..
le visage et, apparemment, pour certains, ..
la motion et ne portant pas, ..
Je n'ai pas honte de dire plus, ..
Je suis tombé en amour avec la fille sans nom, ..

(menatap satu keindahan dalam romansa,..
jatuh hati pada sosok tak bernama,..
yang wajah dan rupanya entah,..
yang gerak dan lakunya tiada,..
tak malu lagi aku berkata,..
aku jatuh cinta pada gadis tak bernama,..)



* : (gadis tak bernama,..)

Sabtu, 14 Desember 2013

Catatan Kehilangan (07/10/2010)

"kalung nie buat loe,biar loe inget sama kebandelan qta,..inget aja yee,jangan diulangin,..hehehe,.."
(alm. Adrian "Cakil" Gunawan)

membatu raga saat sampai pada pekarangan itu,..
menemukan bujur tubuh mu yang lalu membisu,..
tak lagi kudengar celoteh paraumu,..
tak mungkin lagi kutemukan lebar senyummu,..

beginikah rasanya saat tak bisa kuterima nyata adamu telah pergi,..??
seperti inikah sakitnya merasakan sendiri meski kutahu pada akhirnya kau harus pergi,..??

aku menatap jengah yang lalu enggan,..
mampir mendingin,..membekukan luruh airmataku,..
mengenang tiap jejak dan jajak adamu,..
aku menanti,..
berharap lagi kulihat kau terbangun,..
nyatanya,..

ah,..
sulit rasanya aku berdiri tanpa ada sepertimu,..
tak mungkin bersanding denganmu lagi demi menyumbangkan bait-bait lagu,..
kehilangan,..
aku luruh lemah dan jatuh ketika berhadapan dengan mu yang kaku,..
tapi aku harus lagi kuat saat esok ku tahu kau tak lagi ada padaku,..
aku kadung berjanji,..

akan menatap masa depanku,..
tak sama seperti aku menatap masa laluku,..
karena ku tahu,..
kau inginkan aku seperti itu,..

aku ikhlas,..
aku rela,..
atas kehilangan  ini,..
kehilangan atas dirimu,sahabatku,..

(teruntuk sahabat ku,..
dalam kenangan,..
(alm) Adrian "Cakil" Gunawan,..)

Catatan Jalanan

ada kejam terpancar dengan deru mesin bergema,..
bersama alunan asap hitam kendaraan,..
saat aku,..
bercengkrama dengan jalan,...

menatapku nanar seorang gadis seusia adikku,..
terperangkap dalam kelu nada sumbang,..
terjajar dari dudukku,..
ketika mendengar gitar usangnya mengalun,..

pun disudut lain,..
terdengar nyaring teriakkan seorang,..
melontarkan berita hangat yang tercetak,..
menghabiskan waktu menjajakan keringat...

kelam yang didapat.,,.
saat gitar usangnya dikatakan sumbang,...
kejam yang dirasa,..
saat makian halus tolak tawarannya,..

Jalanan,..
berisi kisah,..
tentang bisingnya nada sumbang dari sebuah gitar usang,..
bertutur cerita,.
tentang lancangnya kehidupan ,..
berbalut kejam,..
kata-kata "sampah masyarakat",..

tapi,..
apakah selalu seperti itu,...???
hanya ada buruk,...buruk,..dan buruk,.??
nggak,...TIDAK,..

selalu ada sisi baik,...
dari sebuah sisi yang buruk,..

Jalanan juga melantunkan merdunya dawai gitar,..
Jalanan juga menawarkan pelajaan kehidupan,..

pun jalanan,..
ajarkan kerasnya kehidupan,..
pada setiap yang bernaung di bawahnya,..

selalu ada tekad untuk berbuat baik,..
pada kehidupan yang sering tak baik,...
senantiasa ada niat untuk memperbaiki diri,...
dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi,...

Jalanan,..
dimana alunan musik kehidupan mengalun lebih keras,..
bersama dengan kejam,...

ada kawan kita diantaranya,...
ada saudara kita disana,...
di jalanan,...

>untuk kawan-kawan di jalanan,..tetep semangat,..<


-request dari mereka, 31/01/2010; 16.14 wib-

J O K E R

Aku lupa hari apa saat itu. Masih berusaha mengingat dengan baik. Tapi, semakin aku berusaha mengingat, semakin jauh ingatan itu. Yang pasti hari itu aku dan kamu melewati separuh malam bersama. Aku ingat menemanimu berkunjung ke rumah seorang teman yang katamu sudah lama tidak bersua. Namun sayang, sampai di rumah temanmu, hanya disambut oleh orang tuanya, sementara temanmu masih belum pulang dari bekerja.

Aku tidak terlalu ingin mengingat bagian itu. Yang kuingat malam itu, setelah aku dan kamu sedikit lebih lama menunggu, temanmu tidak kunjung pulang. Lalu kamu memutuskan untuk menunggunya di salah satu tempat makan pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya. Aku dan kamu berjalan menuju kesana, sambil berharap temanmu nanti akan datang menyusul. Aku tentu tidak berharap itu terjadi. Aku berharap temanmu lelah, lalu enggan menyusulmu ke tempat itu. Picik bukan.? Ya, aku ingin menghabiskan sebagian waktu itu bersamamu.

Aku ingat sepanjang perjalanan, kamu terus mengoceh tentang tempat makan pinggir jalan yang akan kita datangi. Katamu, tempat itu sebenarnya biasa saja, tapi selalu ramai oleh pengunjung. Tempatnya, seperti layaknya tempat makan yang ada di pinggiran jalan kotamu, dengan tenda kecil dan gerobak. Aku yang saat itu lapar hanya berharap kita cepat sampai disana.

Joker. Itu kata yang tertulis di spanduk yang menutupi gerobak yang ada disana. Seperti katamu, hampir pasti ramai. Kita mengambil tempat duduk yang ada. Menunya, bukan nasi atau makanan berat lainnya. Hanya roti bakar, pisang bakar, segala jenis masakan mie dan beberapa minuman. Seperti katamu sepanjang jalan tadi, tidak ada yang istimewa, tapi rasanya lumayan enak. Aku tterburu menghabiskan roti bakar kacang dan mie goreng karena lapar. Bahkan aku sampai harus memesan lagi karena saking laparnya. Kamu hanya tertawa melihat tingkahku saat itu.

Setelah semua yang dipesan habis, kita tidak langsung beranjak. Berbincang sejenak. Tentang banyak hal. Banyak hal yang kita bicarakan dan banyak hal yang sampai saat ini aku ingat tanpa perlu susah payah mengingatnya. Dan setelah kita sadar kita sudah cukup lama berada disana, kita akhirnya memutuskan untuk pulang. Aku, saat itu berharap, aku dapat mengunjungi tempat itu lagi bersamamu. Mengunjungi Joker.
***

Ini sudah yang kesekian aku mampir ke tempat ini, Joker. Tempat yang menyajikan menu roti bakar, pisang bakar dan segala macam jenis masakan mie serta minuman pastinya. Tempat ini masih sama seperti pertama aku mengunjunginya. Yang berbeda adalah aku mengunjunginya sendiri. Tanpa kamu. Aku menikmati aroma roti bakar dan wedang jahenya sendiri, tidak ada kamu.

Dan malam ini, setelah sekian kali mampir, baru kali ini aku merasa bahwa aku tidak harus kesini denganmu. Tempat ini mungkin menyisakan kenangan tersendiri. Buatku. Dan aku harap, aku selalu punya waktu untuk sekedar menyeruput segarnya wedang jahe bersama dengan aroma kenangan yang selalu lewat saat aku berada disini. Aroma kenangan tentang aku dan kamu.

Dan Joker, bukan lagi sekedar salah satu kartu atau tokoh jahat di film Batman, tapi jadi bagian yang tidak akan terlupakan.


Rabu, 11 Desember 2013

Untuk Kalian, Keluarga Baru




Persembahan kecil, yang mungkin tidak berarti apa-apa. Yang kuhadiahi untuk kalian, keluarga baruku.

***
Sampai saat ini, aku masih belum benar mengerti kenapa aku bisa berada ditengah-tengah kalian. Aku masih belum paham, bagaimana kemudian, kalian menjadi salah satu bagian terbaik (untuk saat ini) dalam episode perjalananku.
Mungkin sedikit terlambat memaknainya. Tapi tak apalah, daripada sama sekali tidak kusadari. Aku bangga berada diantara kalian.

***
Masih sulit untuk memulai kalimat tentang kalian yang baru kukenal. Belum bisa kupahami, tapi selalu kucoba untuk mengerti. Sulit menceritakan kenapa kemudian aku bisa berjalan melintasi jalan terjal menuju Kawah Ratu hari itu, dengan bergantian membawa ransel besar milik seorang teman bersama dengan. Sulit menceritakan bagaimana aku bisa ‘terjebak’ dibawah rimbunnya pinus yang membentang, beralaskan spanduk yang kubawa dari kampus bersama kalian. Sulit menceritakan bagaimana aku kemudian bisa beriringan jalan, bersinggungan dan berbagi banyak hal bersama kalian.

Masih teringat saat itu, aku lebih memilih menunggu kalian, orang-orang yang sebagian belum kukenal, ketimbang berjalan bersama mereka yang lebih dahulu kukenal. Aku tidak tahu menunggu siapa, seperti apa bentuk wajahnya dan bagaimana perawakannya. Aku hanya yakin, seperti apapun kalian, aku bisa bersama kalian untuk beberapa hari ke depan. Berjalan bersama, berdampingan dan menghabiskan waktu bersama.

Hutan pinus dikaki Kawah Ratu jadi saksi bisu kita pernah bersama. Berbagi banyak hal. Susah, senang bahkan berbagi nasi dan makanan. Meski harus dihiasi dengan misteri nasi uduk yang sampai hari ini belum terungkap.
Diksar RZ


Masih terputar juga tentang bahagianya, semangatnya saat melakukan hal pertama bersama-sama dengan kalian. Kegiatan pertama yang kuharap semangatnya selalu ada sampai kegiatan terakhir yang entah kapan. Meski hanya menyapukan debu yang terurai di lantai masjid yang jauh dari rumahku, atau walau cuma duduk bersama menikmati film yang tengah diputar. Itu lebih dari sekedar hal yang bisa dikenang.

***
Ada banyak harap yang kutemukan saat bersama kalian. Ada banyak asa yang kulihat memancar dari masing-masing mata kalian yang kutatap. Harap dan asa tentang hidup yang lebih baik di hari esok. Tentang berbagi ketulusan dan keikhlasan. Semangat dari raga dan hati kalian menular padaku. Membuatku tidak lagi ragu melangkah lebih dalam, lebih jauh pada dunia yang belum pernah kujamah, dunia relawan.

Mungkin terlalu dini jika aku katakan, aku bangga berada diantara kalian, sementara aku belum begitu mengenal kalian. Tapi yang kutahu, saat-saat bersama kalian adalah saat yang menenangkan dan menyamankan. Menenangkan kehidupan sendiri dan menyamankan kehidupan orang lain. Slogan ‘Tetap semangat bahagiakan ummat’ bukan hanya sekedar slogan yang tercetak dan terucap oleh lisan, tapi juga tertanam dalam hati dan terlihat dalam tindakan. Bersama kalian, semangat kalian dan adanya kalian, membuat aku berani membuka segala kemungkinan memperbaiki hidup. Menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

***
Lewat ini, aku mengenalkan kehidupanku pada kalian. Kehidupan ‘penulis jalanan’ dan kehidupan presbem (seperti yang selalu kalian bilang). Dan aku harap, aku bisa merasakan kehidupan kalian yang membuatku selalu ingin berbagi.

Tidak ada yang tahu seberapa banyak waktu yang aku dan kalian miliki. Yang pasti, akan selalu ada hal istimewa yang menjadi potongan kenangan dalam memori yang tersimpan.

Dan ini hanya awal dimana aku yang masih belum terlalu mengenal kalian menceritakan sedikit tentang kalian. Masih ada banyak hal yang menunggu kita.

Dan akan selalu ada banyak kata yang dapat kuketikkan jika itu tentang kalian. Jadi, siapkan saja ceritanya, aku akan menuliskannya untuk kalian.

Dan ini adalah persembahan kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa. Yang kuhadiahi untuk kalian, keluarga baruku. 

Masjidku Bersih & Hijau


Untuk kalian : Dwi Rahmi, Wafa’ Kamilah, Mutiara Intan, Hanifa Nur Azizah, Aisyah Zahra, Riyadh Imanuddin, Dede Amanatillah & Mohamed Azmi Dzulkifli

Kamu dan Cappucino



Tidak lama untuk mencapai coffeshop ini. Dengan berjalan, hanya membutuhkan waktu 15 menit. Melalui jalan berliku yang berakhir pada sebuah jalan raya, lalu dilanjut berjalan menepi sepanjang jalan raya. Sampai  di lampu merah, berbelok ke kanan dan menyebrang tak jauh setelahnya. Dari seberang jalan, kamu akan melihat betapa coffeshop ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Apa karena menunya yang enak dan istimewa? Murah? Entahlah. Buatku, duduk disini cukup merogoh kocek. Sebagian orang mungkin akan mengiyakan, tapi untukku, coffeshop ini menawarkan hal lain. Senyum ramah dari kasir dan manjanya nyala wifi membuatku betah berlama-lama disini. Musiknya alami. Deru dan klakson khas dari kendaraan bermotor yang ramai berlalu-lalang. Dan musik dari playlist yang aku dengar juga pastinya.

Ini sudah kesekian kalinya aku mampir. Tak terhitung jumlah gelas cappucino yang aku teguk. Rasanya masih sama. Seperti ada kamu disana. Meski saat kusadari, kamu hanya menemani aroma cappucino yang merebak. Menggoda hidungku, mampir sejenak lalu pergi begitu saja, tanpa jejak.

Aku masih tidak mengerti, kenapa –lagi-lagi- aku masih harus menikmati satu sesi dalam sebuah hariku dengan bayang dirimu. Meski hanya tipis hawa keberadaanmu, meski setipis aroma cappucino yang sedang kuhirup, itu jelas sekali, kamu.

Kamu tahu, bedanya cappucino dengan adamu? Aihh, ini bukan soal rayuan gombal atau semacamnya. Hanya sebuah tanya yang muncul begitu saja. Cappucino itu khas. Kopi Italia yang ternyata berasal dari Turki. Sementara kamu, kamu tidak memiliki ke-khas-an sama sekali. Kamu biasa. Sederhana. Bahkan kamu lebih sederhana dari detai kenangan yang kupunya. Tidak ada labirin dalam dirimu, tapi tetap menyisakan keingintahuan akan bagaimana kamu. Tidak seperti cappucino yang misterinya mendunia. Kamu dan duniamu, yang mungkin tidak ingin dimengerti oleh siapapun.

***

Aku ingat sekali saat itu, aku dan kamu mampir di salah satu coffeshop yang lebih mentereng dari tempatku duduk saat ini. Tepat diseberang Taman Menteng. Coffeshop yang terkenal dimana-mana, dengan plang merah hijau menyala bertuliskan angka 7 & 11. Angka kesukaanmu, seperti yang kamu katakan waktu itu.

Tidak secangkir cappucino pun yang kita bawa, hanya minuman bersoda dan semangkuk plastik nasi yang dipanaskan di microwave oleh kasir coffeshop tersebut. Setelah membayar, aku dan kamu bergegas keluar, menyeberang, menuju taman yang tengah ramai. Sibuk berceloteh riang, mengomentari ini-itu, sambil sesekali tertawa. Lalu aku membawamu duduk di atas rerumputan yang lembab. Aku terpeleset dan hampir jatuh, tapi kamu justru renyah menertawakanku. Aku dan kamu bersingsut duduk disana. Menikmati minuman dingin dan semangkuk plastik nasi. Menyenangkan. Sampai dua orang pengamen datang, menyanyikan lagu disela-sela nikmatnya santap malam. Tidak lama, aku dan kamu berkeliling, lalu pulang.

Aku masih mengingat detail bagian itu. Mengingat setiap ekspresi yang menyenangkan. Tidak ada secangkir cappucino pun malam itu. Hanya ada kamu.

Dan setelahnya, aku merayakan kembaliku sendiri di tempat yang kemarin kuceritakan. Tempat dimana aku dan kamu begitu dekat dengan langit. Dengan secangkir cappucino. Sendiri. Melakukan ‘ritual’ yang tidak satupun dari orang di dunia ini yang mengerti kecuali aku dan kamu.

***

Kamu tahu, apa kesamaanmu dengan cappucino? Aihh, lagi-lagi ini bukan rayuan gombal. Kamu tahu? Pasti tidak, karena aku tidak pernah mengatakannya padamu. Maka hari ini, aku akan tuliskan untukmu, meski kutahu kamu mungkin tidak akan pernah membacanya.

Kamu dan cappucino, adalah hal yang sama yang aku lewatkan.

Kamu dan cappucino adalah hal yang sama yang menenangkan dan menyenangkan.

Kamu dan cappucino adalah memori terindah yang pernah terhirup akal fikiran.

Kamu dan cappucino adalah salah satu bentuk terbaik penghambaan cinta untuk Tuhan yang aku siakan.

Kamu dan cappucino adalah …

Sabtu, 07 Desember 2013

Yang (Mungkin) Takkan Kembali



Aku melewati tempat itu tadi. Tempat dimana aku dan kamu biasa bercengkrama dulu. 10 menit lalu, aku ada disana. Memacu pelan laju sepeda motorku, lalu berhenti di salah satu sisi jalan tempat itu. Salah satu tempat tinggi yang ada di dekat kotamu dan kotaku. Salah satu tempat yang membuatku merasa sangat dekat dengan langit. Tempat yang selalu punya arti tersendiri buatku. Entah buatmu.
Saat aku melewatinya, aku merasa seseorang tengah memperhatikanku. Angin yang lembut menyapu kepalaku yang tidak tertutupi helm menggodaku untuk berhenti sejenak. Aku tergoda. Tak ada alasan untuk menolak pemberhentian laju jalanku disana. Tepat setelah berhenti, aku melihat laju kereta dua arah di bawahku. Hanya sepersekian detik, lalu suaranya mengilang. Dan lagi-lagi digantikan angin yang meracau perlahan.
Ada yang berubah dari tempat itu. Malam minggu seperti ini, tempat itu tidak lagi ramai oleh muda-mudi yang duduk diatas jok motor sambil menikmati indahnya langit malam. Hanya ada kencang deru kendaraan dan nyaring suara klakson bersahutan.
Di sisi yang kutempati, ada rambu dilarang parkir sepanjang jalan. Dari bawah keatas, sampai bawah lagi. Mungkin itu sebabnya tempat itu sunyi sekarang. Meski ada beberapa motor yang berhenti untuk sekedar menikmati angin malam, tempat itu kini sepi.
Aku menatap ke seberang jalan, tepat dimana disana terdapat tiang lampu penerangan jalan yang besar. Juga ada trotoar bagi penyebrang jalan. Mataku seperti mencari sesuatu, entah apa. Mungkin kepingan mozaik yang tertinggal disana. Atau mungkin hal lain? Entahlah. Aku hanya bisa menerka.
Aku terhenti disana, menikmati sejuknya angin tanpa melakukan apa-apa. Tidak juga aku berusaha mengenang, atau melupakan. Lima menit, cukup menenangkan dan menyenangkan disana. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
Tapi sebelum pergi, aku melakukan hal yang biasa kulakukan. Aku, -sebenarnya kamu- menyebutnya sebagai ‘ritual’. Memejamkan mata sejenak sambil melantunkan doa dalam hati. Menyampaikan harapan dan asa pada Dia Sang Pemilik Hati. Berharap, dari kolong langit yang tidak jauh ini, Dia mendengar dan mengabulkan setiap ucap dalam hati. Apa yang kuminta? Entahlah. Cukup aku dan Dia yang tahu. Toh kuyakin kamu tidak ingin tahu. (:

***
Kini aku ada disini, di salah satu tempat yang menyajikan makanan cepat saji ala Jepang. Tepatnya, berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kotaku. Dan lebih tepatnya lagi, aku berada di tempat duduk favoritku, -favoritmu juga mungkin- lantai dua dekat dengan jendela.
Terakhir aku kesini bersamamu adalah saat itu. Saat dimana aku ‘kembali pulang’ setelah sekian lama pergi. Saat dimana mungkin kamu enggan untuk mengingatnya. Saat paling menyebalkan dalam hidupmu, mungkin. Karena setelah itu, kamu yang pergi, meski aku memilih untuk tinggal.
Mengingat itu aku hanya bisa tersenyum. Pahit. Lebih pahit dari segelas ocha yang kini ada di tanganku. Tidak ada yang ingin aku ingat lagi. Tidak ada yang ingin aku ucapkan lagi. Aku hanya ingin memiliki kenangan atasmu, hanya sampai disini. Tidak lebih.

***

Apapun itu, semua hanya kenangan. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan ‘jalan pulang’. Karena aku tahu, jalan itu sudah tertutup runtuhan bebatuan besar. Karena aku tahu, aku tidak cukup pantas untuk ada disana, di’rumah itu’.
Aku tidak pernah ingin menyimpulkan apa-apa. Tapi jelas yang aku tahu, aku merasa mengerti arti dari seuntai kalimat yang berbunyi : “Ada saat dimana seseorang yang pergi meninggalkanmu, saat dia pergi dia membawa sebagian dari dirimu, hatimu atau bahkan kehidupanmu”.

***

Terima kasih, Tuhan, karena telah mengizinkanku tetap memiliki ingatan akan kenangan masa lalu. Dan terima kasih, untuk setiap inchi yang pernah melekat di tiap jalan yang pernah aku dan kamu lalui. Pada akhirnya, untukmu, terima kasih pada Nya, karena aku, meski sejejak, sejenak dan sesaat, pernah diizinkan bersinggungan denganmu. ((: :))