Senja yang panjang iitu tidak akan pernah berakhir.
Bisakah kamu mendengar suara itu? Awal kita
menjejakkan kaki disini, langit sudah memberi tanda bahwa gerimis akan mampir. Aku
tahu itu. Bukan karena aku pawang hujan, tapi lebih karena aku menonton berita
perkiraan cuaca Jabodetabek pagi itu. Lalu, apa peduliku? Demi melihatmu
menunjuk ke arah sisi pojok anak tangga tempat biasa siapa saja duduk disana,
aku beranjak. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menatap lamat-lamat
punggungmu yang membawa tas hijau-coklat besar itu, tadinya.
Sayangnya, perkiraanku tidak setepat
pembawa berita tadi pagi. Ada banyak hal yang terjadi senja itu. Ada banyak hal
menyenangkan dan menenangkan yang kutemui saat itu, bersamamu.
Aku tidak banyak melakukan apa-apa, hanya
mengetik. Membaca dan sesekali mencuri pandang saat terdengar tawamu. Kalau saja
boleh dan kalau saja bisa, aku pasti merekam setiap detik adamu sore itu.
Aku dan kamu membicarakan banyak hal. Bercerita
dan berceloteh ria tentang segala sesuatu. Tentang kesibukanmu, sedikit
membicarakan masa lalu dengan tersangka utamanya (aku), sesekali menyinggung
mas mu yang saat disinggung matamu lebih bersinar, tentang banyak hal. Sayang aku
tidak bisa seperti itu. Aku masih harus berbicara perlahan dan hati-hati. Tidak
ingin banyak menyinggung tentang perasaanku karena pastinya kamu tahu akan
berujung dimana.
Ah, sudahlah. Abaikan hal itu. Cukup es
krim Feast coklat dan sekotak Nescafe Coffe cream yang mengingatnya.
Ada hal yang aku rasa dan mungkin tidak
kamu sadari sama sekali. Saat kamu katakan jalan pikiranku tidak mudah untuk
dimengerti, aku paham. Dan saat senja itu, aku kemudian memahami sesuatu.
Pikiranku seperti brankas dengan angka
kombinasi yang akupun tidak tahu berapa angkanya. Dan adamu yang membiarkan aku
datang, sadar atau tidak, sengaja atau tidak disengaja, merangsang tiap inchi
syaraf otakku untuk mengingat angka-angka kombinasi tersebut, yang kemudian
membuatku bisa membuka brankas itu sendiri.
Aku senang saat kamu akhirnya mau
menerimaku kembali. Kembali hadir dalam kehidupan sederhanamu. Hanya kembali
itu, kan? Aku mengerti kok. Tidak bisa kupungkiri, aku takut. Takut untuk
mengakui kalau aku benar-benar ingin kembali. Meski begitu, antusiasme saat
membicarakan segala sesuatu tentang tahu diri menyadarkanku akan sesuatu yang
lebih penting.
Aku belajar banyak darimu. Aku banyak
belajar darimu. Meski aku masih belum tahu apakah ada hasilnya atau tidak.
Dan saat ingat dengan kata-kata dalam
baris sms malam itu, aku bersyukur.
Mendoakan itu keren, bukan? Maka aku
tetap pada pilihan awalku sejak saat itu. Aku memilih untuk tetap mendoakanmu. Tidak,
bukan hanya mendoakanmu, tapi menjadikan namamu sebagai bagian dari doa yang
aku ucapkan. Rasanya, untuk saat ini, sampai saat yang entah kapan itu tiba,
itu adalah hal terkeren yang bisa kulakukan.
Dan gerimis tidak lagi malu-malu. Bahkan
langsung pergi digantikan hujan lebat yang hebat.
Senja yang panjang itu, tidak akan
pernah berakhir. Kamu tahu kenapa? Karena senja itu ditutup oleh hujan dan imam
shalat maghrib yang keduanya mengingatkan kita untuk tidak berhenti bersyukur.