Sabtu
lalu aku terpana mendengar seorang penulis hebat berceloteh. Ada juga sosok
yang kupanggil Bunda bersamanya. Mereka menyampaikan 2 ‘mantra hebat’ yang
seketika menyadarkanku. Dan hari ini, aku ingin memiliki ‘mantra’ itu lagi.
‘…man jadda wajada…”
-barang siapa bersungguh-sungguh akan sesuatu,
maka dia akan mendapatkannya…-
‘…man shabara zhafira…’
-barang siapa bersabar, maka dia akan
beruntung…-
Sebelum
ada di panggung utama itu, kucium tangan Bunda takzim. Dan aku temukan
senyumannya,..sama seperti senyum ibuku yang mengembang. Sama-sama senyuman
seorang ibu.
Hari
ini, aku memutuskan untuk memulainya. Memperbaiki apa yang salah dari hidupku
demi menopang masa depanku. Walau sebenarnya tidak diperkenankan aku untuk
terlalu jauh merencanakan, tapi aku tetap bermimpi. Aku ingin kembali menulis.
Menulis apapun yang ingin kutulis. Menyampaikan yang ingin kusampaikan. Berbagi
sedikit cerita pada siapa saja yang mau mendengar ceritaku.
Aku
melakukannya dari sini, mengawali perbaikan diriku dengan membiarkan diriku
sedikit berkisah. Tentang bagaimana kelam dan terang bergantian mampir dalam
jajak kehidupanku. Tentunya semuanya akan kumulai dari sana. …
Dari
waktu itu. …
Sejak
aku mengenal gerimis…
Dan
memanggil diriku lelaki gerimis…
*****
Matahari
pagi itu berbeda dari biasanya. Aku menemukan sedikit celah untuk mendung hadir
dibelahan bumi lain, menuju kesini, ke Depok. Hmm,..padahal masih paruh musim
kemarau, tapi tampaknya penghujan akan datang lebih awal. Lebih awal dari yang
biasanya, dan mungkin lebih lama. Ketahuilah, saat itu, aku sangat membenci
hujan L.
“Mir, besok malem masuk nggak..?Apa mau jalan aja,..?”.
Suara
Zaenal disebelahku sedikit mengganggu lamunanku ditengah ramainya derap kaki orang-orang disekitar kami. Aku hanya
menoleh, tersenyum dan mengangguk pelan,
lalu kembali sibuk dengan lamunanku.
“Jangan diajak ngomong, Nal,..lagi eror tuh anak,..hahaha..”.
“Jangan diajak ngomong, Nal,..lagi eror tuh anak,..hahaha..”.
Aan
yang duduk dibelakangku –dengan logat sundanya yang kental- berseloroh ringan,
lalu bangkit seraya melemparkan handuk
ke arahku. Aku meneriakinya dan hanya disambut gelak tawa dari Zaenal yang ikut
bangkit menyusul Aan, menuju orang-orang yang melambaikan tangannya pada kami. Mau
tidak mau, akupun ikut bangkit. Futsal di tempat parkir depan Balairung UI
dimulai lagi. Setelah babak pertama tadi, kini babak kedua…
*****
Namaku Amirul. Amirul Mufadilla. Mereka memanggilku Amir. Sangat nyaman dipanggil dengan nama itu, seolah aku benar-benar seorang amir dihadapan mereka. J Tapi aku tak pernah ingin benar-benar dipanggil Amir. Membingungkan bukan..? Begitulah.
Saat
itu adalah babak baru dalam kehidupanku. Aku menemukan diriku disini, diantara
orang-orang yang dulu kuanggap ‘rendah’ karena pendidikan mereka pun ‘rendah’.
Ironis karena aku terjebak pada bayang-bayang yang dulu sangat tidak
kuinginkan.
Adalah
aku pulang ke kota ini –Depok- -saat itu- dengan segala sakit yang kubawa dalam
hati. Sakit…karena aku melakukan apa yang tak pernah aku inginkan. Sakit…karena
aku tahu aku telah gagal. Bahkan sakit…karena aku dengan sadar telah menyakiti
banyak orang. Menghilangkan mimpi terindah seorang ibu dan segenap keluargaku
ketika itu.
Aku
(pasti) sangat mengecewakan mereka.
Masih
sangat jelas terekam dalam ingatanku, bagaimana aku ‘menyelesaikan’ semuanya.
“Aku mau pulang, bu.!”
“Aku mau pulang, bu.!”
Ucapku datar kala itu. Setelah 3,5 tahun keberadaanku di Ma’had Gontor. Di salah satu ruangan di wartel itu, aku terisak. Entah karena apa, begitu mudahnya kata-kata itu terucap. Seolah aku seperti anak baru yang dihadapkan dengan berbagai masalah Ma’had.
“Kamu yakin,Rul..? Kenapa..? Uang yang ibu kirim tiap bulan kurang..? Atau karena ibu gag pernah jenguk kamu,..?”.
Suara
ibuku terdengar diujung telepon. Sangat aku kenal suaranya. Suara ketika beliau
begitu sedih. Dan jujur,aku tak pernah ingin mendengarnya.
“..bukan, Bu.. Bukan itu alasannya…” andaikan aku jelaskan pun ibu gag akan ngerti…
“..bukan, Bu.. Bukan itu alasannya…” andaikan aku jelaskan pun ibu gag akan ngerti…
Tapi
aku juga tak mengerti kenapa aku bertahan dengan keputusanku. Pulang. Hanya
kata-kata itu yang ada dalam fikiranku. Bahkan aku tak sedikitpun berusaha
menjaga perasaan ibuku. Sungguh aku begitu berdosa. Pada ibuku. Dan beliau
hanya dapat mengatakan ‘ya’ dalam kesedihannya. Maka aku pergi dari sana, dari
Ma’had Gontor yang sudah 3,5 tahun aku bernaung dibawahnya, tanpa sesuatu yang
dapat aku banggakan.
Babak
pertama selesai.
Dan
babak selanjutnya dimulai.
Ketika
kemudian aku memilih bergabung di salah satu instansi masyarakat untuk belajar,
mengejar ketinggalanku. Aku terjebak dalam tempat yang tak pernah kubayangkan
sebelumnya. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) atau lebih dikenal dengan
sekolah persamaan / paket C. Setelah sebulan lebih aku mencari sekolah menengah
(SMAN,SMKN bahkan MAN) -dan tidak
satupun dari sekolah-sekolah itu mau menerimaku- , atas saran seorang teman,
aku memilih untuk menjadi ‘siswa’ di sekolah persamaan itu.
Disanalah
kemudian aku mengenal mereka, orang-orang yang masih dan selalu bersemangat
untuk belajar. Bahkan aku belajar lebih banyak dari mereka. J
*****
“Yee,..senyum-senyum sendiri…gila llu,Mir.?”
“Yee,..senyum-senyum sendiri…gila llu,Mir.?”
Ryan
meninju bahuku pelan setelah memakai bajunya, setelah dia dan kawan-kawan
mengalahkan aku dan timku pada pertandingan futsal hari itu.
“Sembarangan llu…Lu tuh gila…hahah..”
“Sembarangan llu…Lu tuh gila…hahah..”
Aku
membalasnya, dan berlari menjauh.
Kami
bergegas menuju ‘markas’ setelah berpelu ria pagi ini. Pastinya karena Umi,
salah satu pengurus PKBM, telah menunggu kami di PKBM dengan seteko air dingin
dan berbagai macam gorengan buatannya. Tempat yang kami sebut markas itu tak
lain adalah tempat belajar kami, PKBM itu sendiri. Tempatnya hanya rumah biasa
di dekat kampus BSI Depok. Rumah yang disulap untuk kemudian dijadikan sarana
belajar. Umi dan Abi –pemilik sekaligus pengurus PKBM- mengubah hampir setengah bagian rumahnya
untuk dijadikan ruang belajar kami. Ada dua pintu masuk ke rumah yang terletak
ditepi kali Ciliwung itu. Pintu pertama langsung menuju ruang tamu kecil dan
ruang keluarga. Sedang pintu kedua, disebelah kiri, menuju ruang belajar. Pagi
hari, PKBM ini digunakan sebagai tempat belajar PAUD (Pendidikan Anak Usia
Dini) yang setara dengan TK, dan malamnya ramai oleh kawan-kawan sekolah
persetaraan paket C.
Aku
belajar disini. Setahun penuh.
Dan
pagi itu, -setelah ber-futsal-, aku dan mereka (Zaenal, Aan, Ryan, Kiki, Andre,
dan 13 orang lainnya) sesegera mungkin sampai di PKBM. Kami telah menyelesaikan
ujian akhir sekolah 3 minggu yang lalu, dan hari itu, kabar kelulusan keluar. J
Rasanya
hari itu akan jadi yang paling menyenangkan dan membanggakan bagiku. Bagaimana
tidak, setelah setahun aku mengikuti pelajaran yang belum pernah diajarkan
padaku, dan aku sama sekali tidak mengerti, hari ini aku akan menerima berita
kelulusan.
Tapi…bayangan
kegembiraan itu musnah seketika.
“Cuma Amir yang gag lulus…katanya lembar jawabannya ada yang hilang..”.
“Cuma Amir yang gag lulus…katanya lembar jawabannya ada yang hilang..”.
Itu kata-kata Umi yang tak sengaja kudengar saaat berbicara dengan Aan. Kata-kata yang tak pernah ingin aku dengar. Tak ingin aku berlama-lama, aku pergi. Pulang.
Malam
harinya hujan -aku selalu membenci hujan-, dan aku kembali ke PKBM,
memberanikan diri untuk bertanya pada Umi. Dan benar yang kudengar pagi itu,
aku satu-satunya yang tidak lulus.
“Lembar jawaban geografi kamu gag ada,Mir..’ ujar Umi
“Masa gag ada sih, Mi..?” aku ngotot. “padahal ngumpulinnya bareng sama anak-anak yang laen..”
“Bener gag ada..”
“Lembar jawaban geografi kamu gag ada,Mir..’ ujar Umi
“Masa gag ada sih, Mi..?” aku ngotot. “padahal ngumpulinnya bareng sama anak-anak yang laen..”
“Bener gag ada..”
Aku berinisiatif…
“Ya udah, besok saya ke Diknas deh..mau tanya nilai saya langsung..”
Setelah aku berucap begitu, Umi terdiam sejenak.
“Gag usah tanya, Mir..gag penting buat kamu..”
Tapi aku memaksa.
Dan
jujur saja, aku penasaran saat itu juga.
Kalau
memang benar lembar jawabanku hilang, kenapa nilai ku yang lain juga tidak
ada…?. Dan kenapa Umi melarangku untuk langsung bertanya…? Aku penasaran, dan
aku mencari tahu.
Aku
memaksa Umi..kerutan di dahi Umi, matanya yang menunjukkan kebingungan
membuatku tetap keukeuh bertanya.
Sampai
akhirnya Umi menyerah, dan mengatakan hal yang sampai saat ini aku benci untuk
mengingatnya..bahkan akhirnya kata-kata Umi itu yang kemudian membawaku untuk
pergi jauh-jauh dari PKBM. Tanpa menoleh sedikitpun.
Malam
itu jadi malam terkelamku. Aku makin membenci hujan –walaupun aku tahu hujan
tak bersalah, bahkan dia tak tahu apa-apa-. Aku membiarkan diriku dalam balutan
hujan seketika itu. Marah, kesal, sedih, semuanya bercampur jadi satu. Aku
menagisi semuanya di dalam hujan yang cukup lebat kala itu..pukul delapan
malam..aku mengulas satu persatu kejadian yang menimpaku 2 tahun belakangan
itu. Dan aku menemukan diriku tak lain hanya seorang bodoh yang teramat sangat
bodoh.
Aku
memutuskan untuk berhenti –tanpa alasan yang jelas- dari Ma’had Gontor,
mengecewakan banyak orang yang telah banyak menaruh harap padaku, kembali tanpa
sedikitpun hal baik yang dapat kulakukan, tidak diterima di sekolah manapun,
terjebak dalam sekolah persetaraan, bahkan aku tidak dapat lulus dari sana.
Sungguh menyedihkan dan terpukulnya aku. Menyadari diriku tak mampu berbuat
apa-apa, bahkan untuk sekedar mengembalikan senyum ibuku. Aku menemukan diriku
terjebak dalam pilihanku yang tak jelas. Aku kalah. Aku pulang diguyur air
hujan dengan keadaan kalah. Aku benci hari itu. Aku benci hujan hari itu. Aku
benci diriku hari itu. Benci sejadi-jadinya. L
*****
Selasa,
14 Maret 2011, 21.37wib.
Dua
setengah jam lagi dan aku belum menemukan cara mengakhiri deadline pertamaku
ini. Ku cermati sejenak, dan aku merasa ganjil dengan tulisan ku sendiri. Tapi
tak apalah. Ini awal, dan dari sini semuanya akan kumulai. Gelas berisi teh
dihadapanku sudah dingin beberapa menit yang lalu, tapi masih menggodaku, dan
aku menyeruputnya sedikit lagi. Aku berjalan ke dapur, meraih gelas dan
mengambil air putih. Aku membawanya ke ruang tengah, untuk melanjutkan lagi
ketikanku yang belum selesai tadi.
Tapi,
melewati kamar mandi lalu kamr ibuku, aku terhenti. Menoleh. Menemukan
beliau -ibuku- pulas dalam tidurnya -setelah tadi mengeluh sakit pada kakinya-.
Aku tertegun sejenak. Menatap ibuku yang tengah tertidur dan…aku…
Aku menangis…
Entah
kenapa tiba-tiba aku menangis…
Dan
merasa sangat durhaka padanya…
Tapi,…
Aku
juga merasa sangat ingin membuktikan kalau aku bisa berbakti padanya…aku ingin
lakukan itu,…aku –dan siapapun pastinya- sangat ingin menemukan seorang ibu tersenyum dan mengatakan “ibu bangga sama
kamu…”
Aku
terisak sejenak diantara sunyi yang mengendap, aku berjanji akan memperbaiki
semuanya.
*****
Aku
hanya dirumah sepanjang hari itu, -setelah berita buruk itu datang begitu saja-
selama seminggu, terdiam, tak sanggup menatap wajah ibuku yang bersikap seolah
tak tahu apa-apa. Walaupun beliau sedih karena ketidaklulusanku, tapi beliau
tetap memamerkan senyumnya, karena beliau tahu apa alasanku tidak lulus, dan
beliau menerimanya….karena hal itu,ibuku
juga menginginkan aku untuk tidak lagi menjejakkan kakiku disana….di PKBM….
Seminggu
itu juga nampaknya hujan jadi sering mampir. Sekedar gerimis atau bahkan sangat
lebat. Aku yang hanya duduk di depan jendela kamarku, sering menatap hujan
lamat-lamat. Lekat. Sambil mengingat setiap detik buncahan peristiwa dalam
hidupku yang lalu. Seolah hujan ingin menemaniku. Aku belajar menghargai
adanya. Seperti aku belajar menerima setiap jejak kekalahanku. Di Ma’had
Gontor, SMA-SMA itu, dan di PKBM.
Dan
aku benar-benar masih sangat tidak bias menerimanya. Karena aku tidak terbiasa
kalah. Ini saat jatuh dalam hidupku yang mana aku benar-benar ingin menyerah.
Dan
babak akhir itu selesai tanpa cacat…menyisakan potongan kesedihan yang tak
pernah ingin aku mengingatnya.
*****
Aku
bersyukur hari itu, -entah tanggal berapa- setelah berhari-hari ‘tidur’ dalam
penyesalan, aku menyaksikan langit cerah. Maka aku memutuskan untuk pergi.
Melepas penat berminggu-minggu lalu. Aku berjalan menuju perempatan Gunadarma,
lalu mencegat angkot D11. Dan 15 menit kemudian aku menemukan diriku ada dalam
Gramedia Depok, yang bersebelahan dengan Margo City. Aku berada diantara
buku-buku dan mencermati tiap buku dirak-rak itu. Menikmati tiap detik waktu
yang berharga meski hanya sekedar menumpang baca. Di tempat itu -Gramedia Book
Store, Depok-, aku sering melepas jejak lelah dan gundah. Aku menemukan
ketenangan tersendiri jika becengkrama dengan buku-buku. Mereka membawaku
melampaui jauhnya fikiranku. Menenangkan.
Sayangnya,
sejam kemudian, saat aku hendak mengambil buku Moga Bunda Disayang Allah,…
Bukk…
Seseorang
dengan seragam SMA menabrakku. Menjatuhkan buku yang ada ditanganku. Aku
terhenyak, sedang gadis itu berulangkali minta maaf atas ketidaksengajaannya.
Aku
tak peduli dengan jatuhnya buku itu,…dengan ucapan maafnya yang terbta-bata…aku
hanya tertegun melihat dan mengamati gadis berseragam SMA itu. Dan itu
mengembalikan memoarku seketika. Lengkap dengan semua kegagalan yang kuraih.
Sudah
petang. Aku membayar di kasir untuk satu buku yang kubeli. Lalu bersingsut
pergi meninggalkan took buku itu. Aku menemukan mendung sudah menggelayut
diantara riak kuning senja.
Hujan takkan turun hari ini, mendung
itu hanya menggodaku agar aku bergegas,
batinku…
Maka
aku mengambil jalan pintas, menyebrang langsung tanpa melalui jembatan
penyebrangan, yang kemudia disambut kerlingan klakson yang kencang seolah
berteriak menyuruh minggir. Aku tak terlalu peduli.
Aku
masuk dan menyusuri gang sempit itu, menuju UI untuk kemudian bejalan kaki
kerumah. Pulang. Ramai disekitarku tak sedikitpun menggangu. Aku malah terpaku
pada keadaan tadi, yang tiba-tiba membangkitkan kesedihan masa laluku.
Nampaknya aku belum benar-benar ‘sembuh’ dari semua itu.
Tak
ada jalan pintas lagi, maghrib menjelang.
20
menit kemudian,-setelah maghrib di masjid Ukhuwah,UI- aku berjalan dan telah
sampai disini, tepi jalan akses UI, dan terhenti di depan plang besar PKBM.
Lamat-lamat terdengar suara gemuruh dan tak lama setelahnya hujan datang.
Tiba-tiba aku membencinya lagi.
Aku
terlanjur berjalan dan telah basah, maka aku tak berniat berhenti. Aku
kehujanan. Dalam keputusasaan lagi. Melewati jembatan UI, kemudian berjalan
sedikit menanjak melewati tanah kosong (sekarang sudah menjadi taman di kampus
Gunadarma) aku melihat sesuatu yang ganjil. Aku masih mengutuki hujan, dan aku
menemukan keadaan yang aneh.
Disana,
diatas tanah kosong itu aku lihat beberapa anak kecil bermain bola dibawah
guyuran hujan. Itu biasa. Tapi tak jauh dari mereka, seorang bapak-bapak
(kukira) duduk juga dibawah hujan mengamati anak-anak itu bermain bola. Aku tak
pernah tau (bahkan sampai saat ini) apa yang membawaku menghampiri dan menyapa
bapak-bapak itu (yang kutaksir usianya lebih dari 40 tahun). Aku duduk
disebelahnya, bertanya..
“Pak,..koq ujan-ujanan..?lagi ngapain disini,Pak..??
“Pak,..koq ujan-ujanan..?lagi ngapain disini,Pak..??
Beliau
hanya menoleh, dan tersenyum. Sama sekali tidak menampakkan ekspresi
kedinginan. Lalu kembali menatap anak-anak itu. Sebentar-sebentar tertawa
riang. Lalu..
“kamu sendiri kenapa ujan-ujanan,..??suka sama ujan..??” tiba-tiba beliau bertanya.
“nggak,Pak..saya keujanan..”jawabku singkat. “saya benci sama ujan….”
Namun aku menikmatinya. Kehujanan.
“saya juga..” kata bapak-bapak itu lagi.
“terus kenapa bapak ujan-ujanan..?”
“saya belajar menerima dan mencintai rahmat Nya…” beliau menoleh lagi. Kali ini aku mengamati wajahnya…dan aku tersadar..seketika aku sadar dan bergumam…
“bapak gag bisa lihat..?”
“kamu sendiri kenapa ujan-ujanan,..??suka sama ujan..??” tiba-tiba beliau bertanya.
“nggak,Pak..saya keujanan..”jawabku singkat. “saya benci sama ujan….”
Namun aku menikmatinya. Kehujanan.
“saya juga..” kata bapak-bapak itu lagi.
“terus kenapa bapak ujan-ujanan..?”
“saya belajar menerima dan mencintai rahmat Nya…” beliau menoleh lagi. Kali ini aku mengamati wajahnya…dan aku tersadar..seketika aku sadar dan bergumam…
“bapak gag bisa lihat..?”
Beliau
hanya tersenyum..tipis,..sangat tipis bahkan..
“apa bedanya bisa ngliat sama nggak..? kadang yang bisa ngeliat malah lebih buta dari yang buta..”
“maksudnya,Pak..??”
“apa bedanya bisa ngliat sama nggak..? kadang yang bisa ngeliat malah lebih buta dari yang buta..”
“maksudnya,Pak..??”
Hujan
berganti jadi gerimis tepat pukul 7 malam kurang 6 menit…lapangan itu masih
terang karena beberapa lampu yang dipasang.
“liat gerimisnya,…menurut kamu itu apa,…?”
“Cuma kumpulan air biasa,Pak..” jawabku ringan.
“hujan itu anugrah..buat anak-anak, buat orang buta seperti saya. Saya punya banyak masalah, tapi saya jadikan hujan sebagai obat buat perenungan saya. Anak-anak seneng pas ada ujan, mereka merasakan nikmat Tuhan tanpa disadari karena mereka masih belum ngerti apa itu rahmat dan nikmat Tuhan. Trus apa alasan saya buat benci sama rahmat Tuhan.?”
“liat gerimisnya,…menurut kamu itu apa,…?”
“Cuma kumpulan air biasa,Pak..” jawabku ringan.
“hujan itu anugrah..buat anak-anak, buat orang buta seperti saya. Saya punya banyak masalah, tapi saya jadikan hujan sebagai obat buat perenungan saya. Anak-anak seneng pas ada ujan, mereka merasakan nikmat Tuhan tanpa disadari karena mereka masih belum ngerti apa itu rahmat dan nikmat Tuhan. Trus apa alasan saya buat benci sama rahmat Tuhan.?”
Kesadaranku
seperti dihantam ombak yang mendeeras seketika itu juga. Bersamaan dengan
kembali derasnya hujan. Salah seorang anak kecil yang bermain bola di tengah
hujan tadi menghampiri bapak-bapak disebelahku, dan menariknya. Mengajaknya
pulang.
“pulang sana,..hujan ini udah gag sehat..”
“pulang sana,..hujan ini udah gag sehat..”
Lalu
beliau –dituntun anak kecil tadi- pergi meninggalkan senyuman indah di bawah
hujan. Pergi meninggalkanku sendiri yang perlahan menyadari kata-katanya.
Kata-kata itu berdengung di telingaku..
“saya belajar
menerima dan mencintai rahmat Nya…”
“apa bedanya bisa
ngliat sama nggak..? kadang yang bisa ngeliat malah lebih buta dari yang
buta..”
“…Trus apa alasan
saya buat benci sama rahmat Tuhan.?”
Sepanjang
sisa perjalananku malam itu, aku berfikir tentang banyak hal. Tentang masa yang
sudah lewat lalu. Kesalahan-kesalahanku. Kegagalanku. Tapi kali saat itu aku
sadar, mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan
kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Sama artinya aku
menyerah, memupuskan tekad, membunuh semangat, dan mengubur masa depan yang
belum terjadi.
Maka
aku memutuskan untuk memulai lagi –sama seperti saat ini-, memperbaiki lagi
semuanya sesampainya aku dirumah nanti. Petang itu aku menggumamkan terima
kasihku untuk 3 hal. Nikmat Tuhan yang tak pernah sejenak pun terhenti,
bapak-bapak tua buta –yang sampai saat
ini aku tak pernah tau siapa dan ada dimana dia-, dan hujan.
Aku
tak pernah lagi ingin membenci hujan. Malah aku ingin menjadi seperti
bapak-bapak tua itu. Seseorang yang belajar menghargai dan mencintai hujan.
*****
Rabu,
15 Maret 2011,00.27wib
Aku
tak berniat menyelesaikannya, karena aku ingin menyampaikan semua yang ada
padaku untuk siapa saja yang mau membacanya. Teh dihadapanku sudah benar-benar
sangat dingin. Sedingin udara yang menusuk-nusuk kulitku pagi ini. Aku menatap
lagi layar komputer dihadapanku,ingin melanjutkan lagi tulisanku. Tapi…
…cukup…
Aku
akan melakukannya lagi nanti, saat deadline keduaku. Seminggu lagi.
Aku
melirik satu sudut dalam diariku, dan menemukan sebuah catatan kecil yang
kutulis kemarin…aku tersenyum,…lega. Sangat lega. Dan sangat bersyukur
tentunya.
“…bahwa
hidup harus menerima,…penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus
mengerti,…pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami,…pemahaman yang
tulus. Tak peduli lewat apapun penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang.
Tak masalah meski lewat kejadian yang menyedihkan dan menyakitkan….”
(Daun
Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,196 ; Tere Liye)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar