Rabu, 11 Desember 2013

Kamu dan Cappucino



Tidak lama untuk mencapai coffeshop ini. Dengan berjalan, hanya membutuhkan waktu 15 menit. Melalui jalan berliku yang berakhir pada sebuah jalan raya, lalu dilanjut berjalan menepi sepanjang jalan raya. Sampai  di lampu merah, berbelok ke kanan dan menyebrang tak jauh setelahnya. Dari seberang jalan, kamu akan melihat betapa coffeshop ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Apa karena menunya yang enak dan istimewa? Murah? Entahlah. Buatku, duduk disini cukup merogoh kocek. Sebagian orang mungkin akan mengiyakan, tapi untukku, coffeshop ini menawarkan hal lain. Senyum ramah dari kasir dan manjanya nyala wifi membuatku betah berlama-lama disini. Musiknya alami. Deru dan klakson khas dari kendaraan bermotor yang ramai berlalu-lalang. Dan musik dari playlist yang aku dengar juga pastinya.

Ini sudah kesekian kalinya aku mampir. Tak terhitung jumlah gelas cappucino yang aku teguk. Rasanya masih sama. Seperti ada kamu disana. Meski saat kusadari, kamu hanya menemani aroma cappucino yang merebak. Menggoda hidungku, mampir sejenak lalu pergi begitu saja, tanpa jejak.

Aku masih tidak mengerti, kenapa –lagi-lagi- aku masih harus menikmati satu sesi dalam sebuah hariku dengan bayang dirimu. Meski hanya tipis hawa keberadaanmu, meski setipis aroma cappucino yang sedang kuhirup, itu jelas sekali, kamu.

Kamu tahu, bedanya cappucino dengan adamu? Aihh, ini bukan soal rayuan gombal atau semacamnya. Hanya sebuah tanya yang muncul begitu saja. Cappucino itu khas. Kopi Italia yang ternyata berasal dari Turki. Sementara kamu, kamu tidak memiliki ke-khas-an sama sekali. Kamu biasa. Sederhana. Bahkan kamu lebih sederhana dari detai kenangan yang kupunya. Tidak ada labirin dalam dirimu, tapi tetap menyisakan keingintahuan akan bagaimana kamu. Tidak seperti cappucino yang misterinya mendunia. Kamu dan duniamu, yang mungkin tidak ingin dimengerti oleh siapapun.

***

Aku ingat sekali saat itu, aku dan kamu mampir di salah satu coffeshop yang lebih mentereng dari tempatku duduk saat ini. Tepat diseberang Taman Menteng. Coffeshop yang terkenal dimana-mana, dengan plang merah hijau menyala bertuliskan angka 7 & 11. Angka kesukaanmu, seperti yang kamu katakan waktu itu.

Tidak secangkir cappucino pun yang kita bawa, hanya minuman bersoda dan semangkuk plastik nasi yang dipanaskan di microwave oleh kasir coffeshop tersebut. Setelah membayar, aku dan kamu bergegas keluar, menyeberang, menuju taman yang tengah ramai. Sibuk berceloteh riang, mengomentari ini-itu, sambil sesekali tertawa. Lalu aku membawamu duduk di atas rerumputan yang lembab. Aku terpeleset dan hampir jatuh, tapi kamu justru renyah menertawakanku. Aku dan kamu bersingsut duduk disana. Menikmati minuman dingin dan semangkuk plastik nasi. Menyenangkan. Sampai dua orang pengamen datang, menyanyikan lagu disela-sela nikmatnya santap malam. Tidak lama, aku dan kamu berkeliling, lalu pulang.

Aku masih mengingat detail bagian itu. Mengingat setiap ekspresi yang menyenangkan. Tidak ada secangkir cappucino pun malam itu. Hanya ada kamu.

Dan setelahnya, aku merayakan kembaliku sendiri di tempat yang kemarin kuceritakan. Tempat dimana aku dan kamu begitu dekat dengan langit. Dengan secangkir cappucino. Sendiri. Melakukan ‘ritual’ yang tidak satupun dari orang di dunia ini yang mengerti kecuali aku dan kamu.

***

Kamu tahu, apa kesamaanmu dengan cappucino? Aihh, lagi-lagi ini bukan rayuan gombal. Kamu tahu? Pasti tidak, karena aku tidak pernah mengatakannya padamu. Maka hari ini, aku akan tuliskan untukmu, meski kutahu kamu mungkin tidak akan pernah membacanya.

Kamu dan cappucino, adalah hal yang sama yang aku lewatkan.

Kamu dan cappucino adalah hal yang sama yang menenangkan dan menyenangkan.

Kamu dan cappucino adalah memori terindah yang pernah terhirup akal fikiran.

Kamu dan cappucino adalah salah satu bentuk terbaik penghambaan cinta untuk Tuhan yang aku siakan.

Kamu dan cappucino adalah …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar