Tidak lama untuk
mencapai coffeshop ini. Dengan berjalan, hanya membutuhkan waktu 15 menit.
Melalui jalan berliku yang berakhir pada sebuah jalan raya, lalu dilanjut
berjalan menepi sepanjang jalan raya. Sampai
di lampu merah, berbelok ke kanan dan menyebrang tak jauh setelahnya.
Dari seberang jalan, kamu akan melihat betapa coffeshop ini tidak pernah sepi
dari pengunjung. Apa karena menunya yang enak dan istimewa? Murah? Entahlah.
Buatku, duduk disini cukup merogoh kocek. Sebagian orang mungkin akan
mengiyakan, tapi untukku, coffeshop ini menawarkan hal lain. Senyum ramah dari
kasir dan manjanya nyala wifi membuatku betah berlama-lama disini. Musiknya
alami. Deru dan klakson khas dari kendaraan bermotor yang ramai berlalu-lalang.
Dan musik dari playlist yang aku dengar juga pastinya.
Ini sudah kesekian
kalinya aku mampir. Tak terhitung jumlah gelas cappucino yang aku teguk.
Rasanya masih sama. Seperti ada kamu disana. Meski saat kusadari, kamu hanya
menemani aroma cappucino yang merebak. Menggoda hidungku, mampir sejenak lalu
pergi begitu saja, tanpa jejak.
Aku masih tidak
mengerti, kenapa –lagi-lagi- aku masih harus menikmati satu sesi dalam sebuah
hariku dengan bayang dirimu. Meski hanya tipis hawa keberadaanmu, meski setipis
aroma cappucino yang sedang kuhirup, itu jelas sekali, kamu.
Kamu tahu, bedanya
cappucino dengan adamu? Aihh, ini bukan soal rayuan gombal atau semacamnya. Hanya
sebuah tanya yang muncul begitu saja. Cappucino itu khas. Kopi Italia yang
ternyata berasal dari Turki. Sementara kamu, kamu tidak memiliki ke-khas-an
sama sekali. Kamu biasa. Sederhana. Bahkan kamu lebih sederhana dari detai
kenangan yang kupunya. Tidak ada labirin dalam dirimu, tapi tetap menyisakan
keingintahuan akan bagaimana kamu. Tidak seperti cappucino yang misterinya
mendunia. Kamu dan duniamu, yang mungkin tidak ingin dimengerti oleh siapapun.
***
Aku ingat sekali saat
itu, aku dan kamu mampir di salah satu coffeshop yang lebih mentereng dari
tempatku duduk saat ini. Tepat diseberang Taman Menteng. Coffeshop yang
terkenal dimana-mana, dengan plang merah hijau menyala bertuliskan angka 7
& 11. Angka kesukaanmu, seperti yang kamu katakan waktu itu.
Tidak secangkir
cappucino pun yang kita bawa, hanya minuman bersoda dan semangkuk plastik nasi
yang dipanaskan di microwave oleh kasir coffeshop tersebut. Setelah membayar,
aku dan kamu bergegas keluar, menyeberang, menuju taman yang tengah ramai. Sibuk
berceloteh riang, mengomentari ini-itu, sambil sesekali tertawa. Lalu aku
membawamu duduk di atas rerumputan yang lembab. Aku terpeleset dan hampir
jatuh, tapi kamu justru renyah menertawakanku. Aku dan kamu bersingsut duduk
disana. Menikmati minuman dingin dan semangkuk plastik nasi. Menyenangkan. Sampai
dua orang pengamen datang, menyanyikan lagu disela-sela nikmatnya santap malam.
Tidak lama, aku dan kamu berkeliling, lalu pulang.
Aku masih mengingat
detail bagian itu. Mengingat setiap ekspresi yang menyenangkan. Tidak ada
secangkir cappucino pun malam itu. Hanya ada kamu.
Dan setelahnya, aku
merayakan kembaliku sendiri di tempat yang kemarin kuceritakan. Tempat dimana
aku dan kamu begitu dekat dengan langit. Dengan secangkir cappucino. Sendiri. Melakukan
‘ritual’ yang tidak satupun dari orang di dunia ini yang mengerti kecuali aku
dan kamu.
***
Kamu tahu, apa
kesamaanmu dengan cappucino? Aihh, lagi-lagi ini bukan rayuan gombal. Kamu tahu?
Pasti tidak, karena aku tidak pernah mengatakannya padamu. Maka hari ini, aku
akan tuliskan untukmu, meski kutahu kamu mungkin tidak akan pernah membacanya.
Kamu dan cappucino,
adalah hal yang sama yang aku lewatkan.
Kamu dan cappucino
adalah hal yang sama yang menenangkan dan menyenangkan.
Kamu dan cappucino
adalah memori terindah yang pernah terhirup akal fikiran.
Kamu dan cappucino
adalah salah satu bentuk terbaik penghambaan cinta untuk Tuhan yang aku siakan.
Kamu dan cappucino
adalah …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar