Ada yang mengenal mereka? Tidak? Baiklah, akan kukenalkan mereka pada
kalian. Namanya Aya (kiri) dan Rendy (kanan). Mereka adalah dua dari
sekian banyak kanak-kanak yang hampir selalu bersamaku dalam tujuh hari
terakhir ini.
Ketika kalian melihat gambar di atas, hal
apa yang pertama kalian temukan? Tidak tahu? Akan aku beritahu.
Senyuman. Itu adalah hal pertama yang akan dan harusnya kalian temukan
setelah melihat gambar di atas. Dan itu juga adalah alasan pertama
kenapa aku menulis ini. Tapi jelas, itu adalah hal terakhir juga yang
ingin aku lihat saat aku pergi dari tempat ini, Bukit Duri Utara (Tong
Tek), Tebet.
Aku sengaja mengambil gambar dengan mereka
sebagai kenang-kenangan jika suatu saat aku meninggalkan tempat ini.
Seminggu aku ada disini, sejak berkah air yang melimpah (red : banjir)
pertama mampir singgah disini. Aku dan teman-temanku (Relawan RZ) sampai
tepat setelah air sudah melenggang pergi. Meski begitu, niat pertama
datang kesini tidak bisa lagi terhenti. Meski air pergi, posko bencana
banjir yang ingin kami dirikan tetap berdiri.
Ada banyak
hal istimewa yang tertanam sampai hari ini. Bersyukur aku bisa bersama
dengan orang-orang luar biasa di tengah-tengah banjir yang mendera
setiap sudut ibukota dan sekitarnya. Dari sebuah titik kecil pada peta
inilah cerita tentang cinta yang ikut mengalir ini dimulai. Ada di
dalamnya orang-orang luar biasa yang bersama denganku. Siapa saja
mereka?
Yang pertama adalah mereka yang dengan penuh
semangat datang bersamaku kesini saat itu. Mengenakan kaos orange-hitam,
memberikan senyuman, membagikan semangat dan masih banyak lagi. Relawan
RZ, begitu mereka dipanggil. Orang-orang yang bersedia menyisihkan dan
meluangkan waktu, tenaga, harta dan fikiran demi membantu dan
meringankan beban orang-orang di sekitarnya. Tanpa pamrih. Juga
relawan-relawan lain yang mau melakukan banyak hal.
Yang
kedua, tak kalah hebatnya adalah mereka, ibu-ibu dan ayah-ayah baruku.
Ibu dan ayah angkat yang banyak. Yang memberikan kesempatan pada aku dan
teman-temanku, Relawan RZ untuk membantu sedikit bantuan. Yang menerima
segala macam kondisi. Meski air menggenangi rumah mereka, senyum mereka
juga menggenangi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka hampir
seperti teman-teman relawanku, atau mungkin lebih hebat dari teman-teman
relawanku, yang meski banjir sudah surut, semangat mereka tidak pernah
surut. Semangat berbagi dan senantiasa tersenyum meski musibah kembali.
Yang
ketiga, tentu saja adalah kanak-kanak itu. Ada banyak kanak-kanak yang
mungkin tidak mengerti kenapa air memenuhi rumah mereka. Ada banyak
kanak-kanak yang menganggap genangan air di jalan depan rumah mereka
adalah kolam sementara yang bisa mereka gunakan untuk berenang. Lihat
dan temukan senyum yang tak putus dari bibir manis mereka.
Masih
banyak hal yang belum bisa diceritakan disini. Masih ada banyak kata
yang akan terangkai untuk menceritakan kisah-kisah tersembunyi dalam
setiap peristiwa.
Bersama kesulitan selalu ada kemudahan,
bukan? Ingat, Kawan. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bukan
setelah kesulitan baru ada kemudahan.
Sedih dan bahagia
itu satu paket. Sama halnya dengan musibah dan hikmah, satu paket. Maka
bagaimanapun bentuk akhir dari hujan, selalu ada berkah di dalamnya.
Dan yang ingin aku sampaikan dalam paragraf terakhir ini adalah tentang aku yang kemudian jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta.
Pada semangat berbagi milik kawan-kawan Relawan ku,..
Pada tawa tak terperi milik warga yang kutinggali,..
Pada senyum milik kanak-kanak yang meski banjir rapi mengunjungi, senyumnya tetap berseri.
Tetaplah tersenyum. Tetaplah berbagi. Tetaplah semangat.
Karena dengan tersenyum, dengan berbagi dan dengan semangat kita dapat bahagiakan umat.
:) :) ^_^ (: (:
