Sabtu, 01 Februari 2014

Ketika Relawan Jatuh Cinta (part 1)

Ada yang mengenal mereka? Tidak? Baiklah, akan kukenalkan mereka pada kalian. Namanya Aya (kiri) dan Rendy (kanan). Mereka adalah dua dari sekian banyak kanak-kanak yang hampir selalu bersamaku dalam tujuh hari terakhir ini.

Ketika kalian melihat gambar di atas, hal apa yang pertama kalian temukan? Tidak tahu? Akan aku beritahu. Senyuman. Itu adalah hal pertama yang akan dan harusnya kalian temukan setelah melihat gambar di atas. Dan itu juga adalah alasan pertama kenapa aku menulis ini. Tapi jelas, itu adalah hal terakhir juga yang ingin aku lihat saat aku pergi dari tempat ini, Bukit Duri Utara (Tong Tek), Tebet.

Aku sengaja mengambil gambar dengan mereka sebagai kenang-kenangan jika suatu saat aku meninggalkan tempat ini. Seminggu aku ada disini, sejak berkah air yang melimpah (red : banjir) pertama mampir singgah disini. Aku dan teman-temanku (Relawan RZ) sampai tepat setelah air sudah melenggang pergi. Meski begitu, niat pertama datang kesini tidak bisa lagi terhenti. Meski air pergi, posko bencana banjir yang ingin kami dirikan tetap berdiri.

Ada banyak hal istimewa yang tertanam sampai hari ini. Bersyukur aku bisa bersama dengan orang-orang luar biasa di tengah-tengah banjir yang mendera setiap sudut ibukota dan sekitarnya. Dari sebuah titik kecil pada peta inilah cerita tentang cinta yang ikut mengalir ini dimulai. Ada di dalamnya orang-orang luar biasa yang bersama denganku. Siapa saja mereka?

Yang pertama adalah mereka yang dengan penuh semangat datang bersamaku kesini saat itu. Mengenakan kaos orange-hitam, memberikan senyuman, membagikan semangat dan masih banyak lagi. Relawan RZ, begitu mereka dipanggil. Orang-orang yang bersedia menyisihkan dan meluangkan waktu, tenaga, harta dan fikiran demi membantu dan meringankan beban orang-orang di sekitarnya. Tanpa pamrih. Juga relawan-relawan lain yang mau melakukan banyak hal.

Yang kedua, tak kalah hebatnya adalah mereka, ibu-ibu dan ayah-ayah baruku. Ibu dan ayah angkat yang banyak. Yang memberikan kesempatan pada aku dan teman-temanku, Relawan RZ untuk membantu sedikit bantuan. Yang menerima segala macam kondisi. Meski air menggenangi rumah mereka, senyum mereka juga menggenangi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka hampir seperti teman-teman relawanku, atau mungkin lebih hebat dari teman-teman relawanku, yang meski banjir sudah surut, semangat mereka tidak pernah surut. Semangat berbagi dan senantiasa tersenyum meski musibah kembali.

Yang ketiga, tentu saja adalah kanak-kanak itu. Ada banyak kanak-kanak yang mungkin tidak mengerti kenapa air memenuhi rumah mereka. Ada banyak kanak-kanak yang menganggap genangan air di jalan depan rumah mereka adalah kolam sementara yang bisa mereka gunakan untuk berenang. Lihat dan temukan senyum yang tak putus dari bibir manis mereka.

Masih banyak hal yang belum bisa diceritakan disini. Masih ada banyak kata yang akan terangkai untuk menceritakan kisah-kisah tersembunyi dalam setiap peristiwa.

Bersama kesulitan selalu ada kemudahan, bukan? Ingat, Kawan. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bukan setelah kesulitan baru ada kemudahan.

Sedih dan bahagia itu satu paket. Sama halnya dengan musibah dan hikmah, satu paket. Maka bagaimanapun bentuk akhir dari hujan, selalu ada berkah di dalamnya.

Dan yang ingin aku sampaikan dalam paragraf terakhir ini adalah tentang aku yang kemudian jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta.
Pada semangat berbagi milik kawan-kawan Relawan ku,..
Pada tawa tak terperi milik warga yang kutinggali,..
Pada senyum milik kanak-kanak yang meski banjir rapi mengunjungi, senyumnya tetap berseri.

Tetaplah tersenyum. Tetaplah berbagi. Tetaplah semangat.

Karena dengan tersenyum, dengan berbagi dan dengan semangat kita dapat bahagiakan umat.
:) :) ^_^ (: (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar