Sabtu, 15 Juni 2013

Tentang Hujan (catatan insomnia)


Kadang kita lupa kalau kita sedang berjalan. Asyik menikmati obrolan hingga tak terasa sudah sampai pada tempat yang dituju. Atau, kadang kita lupa kalau kita sudah sampai di persimpangan, dimana aku harus mengambil jalan ke kiri dan kamu harus lurus berjalan. Tidak jarang kita berlama-lama di suatu tempat yang ramai, tidak melakukan apapun, bahkan tanpa berkata sepatahpun. Menikmati hening yang ada diantara ramai orang bersenda dan bercanda di taman itu. Bahkan, yang kuingat, kita sering berjalan memutari tugu raksasa itu tanpa tujuan, hanya memperhatikan sekitar sambil sesekali bercanda.

Tapi ada satu yang sangat kuingat, saat kita benar-benar tengah diam diantara ramai yang benar-benar hingar tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk, menikmati keramaian dengan cara kita masing-masing. Setelah lama terdiam, kita sama-sama membuka mata dan saling menoleh, tertawa. Hanya itu dan hanya seperti itu. Riang. Tanpa cela kesedihan.

##

Terakhir aku menjejakkan kakiku disini adalah saat yang sama dimana aku melihatmu menangis. Terduduk diatas rerumputan yang basah sambil memainkan bunga yang paling kau sukai, ilalang. Saat itu senja dan hujan. Kamu melangkah pulang meninggalkan aku sendiri dengan semua rasa bersalah dalam diri. Membiarkanku basah oleh gerimis yang menderas, senja itu. Hingga aku memutuskan untuk pulang. Memutuskan untuk tidak lagi menyakitimu. Memutuskan untuk tidak lagi tinggal karena aku tahu, mungkin, kamu tidak pernah ingin aku kembali lagi. Tidak ingin aku menjadikanmu tempat pulang karena itu selalu menyakitkan untukmu.

Maka aku pergi.

##

Senja hari ini menggodaku. Memaksaku menyusuri jalan-jalan setapak pada taman ini. Matahari mengerling, menyajikan sisa terik siang tadi. Hangat. Masih sama stelah 2 tahun lamanya.

Aku melangkah pelan, menikmati setiak jejak yang menjajak tanah kenangan. Melewati setiap lembar daun yang jatuh berguguran disapa lembut angin sore. Pada akhirnya, aku sampai disini, ditempat dimana pernah aku dan kamu duduk saling memunggungi. 

Aku memilih untuk duduk di area kosong yang ada di sebelah gadis yang juga tengah duduk memandangi tugu dihadapannya. Aku perhatikan, sessekali dia mengarahkan kameranya ke arah tugu, ke arah matahari yang masih mengerling hangat. Aku tidak ingin mengganggunya, pun dia nampaknya tidak terganggu dengan adaku. 

Aku memilih untuk diam, menikmati sisa senja dengan caraku. Sesekali mencuri pandang ke arah gadis yang spertinya juga tengah menikmati sisa hangat matahari. Tas tokoh kartun tersandar di punggungnya, sementara Canon yang tadi ditangannya, kini diletakkan disampingnya. Tidak ada sepatah katapun. Tidak dariku, tidak pula dari gadis itu. Tapi entah kenapa, rasanya menyenangkan bisa menikmati senja ini. 

1 menit. 5 menit. 15 menit. Dan adzan maghrib sempurna terdengar dari mushala dekat stasiun besar itu. 

Sudah habis matahari, menyisakan rona senja yang sempurna indah. Disusul mendung yang datang tiba-tiba. Hujan. Menderas. Aku berdiri, begitu juga dengan gadis itu. Saat dia berdiri, beberapa batang ilalang kering jatuh tanpa dia tahu. Dia berjalan, berlalu dengan senyum khasnya. Riang.

Lalu aku? Aku memungut ilalang itu. Merapikannya, lalu berjalan ke arah yang berbeda dari gadis itu. Berlalu memunggunginya sambil sesekali menengok ke belakang, sampai gadis itu benar-benar menghilang.

##

Tidak ada kata yang terucap. Tidak ada laku yang terjadi. Masih sama, duduk dan menyadari bahwa kamu ada dan tersenyum disana adalah hal yang menyenangkan. Selalu menyenangkan. Meski mungkin hanya perasaanku saja. 

##

Dan kemudian, sekali lagi aku menoleh, memastikan gadis itu benar-benar menghilang. 

Aku ingat, namanya Hujan.

Selamat senja, Hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar