Kadang kita lupa kalau kita sedang berjalan.
Asyik menikmati obrolan hingga tak terasa sudah sampai pada tempat yang dituju.
Atau, kadang kita lupa kalau kita sudah sampai di persimpangan, dimana aku
harus mengambil jalan ke kiri dan kamu harus lurus berjalan. Tidak jarang kita
berlama-lama di suatu tempat yang ramai, tidak melakukan apapun, bahkan tanpa
berkata sepatahpun. Menikmati hening yang ada diantara ramai orang bersenda dan
bercanda di taman itu. Bahkan, yang kuingat, kita sering berjalan memutari tugu
raksasa itu tanpa tujuan, hanya memperhatikan sekitar sambil sesekali bercanda.
Tapi ada satu yang sangat kuingat, saat kita
benar-benar tengah diam diantara ramai yang benar-benar hingar tanpa melakukan
apa-apa. Hanya duduk, menikmati keramaian dengan cara kita masing-masing.
Setelah lama terdiam, kita sama-sama membuka mata dan saling menoleh, tertawa.
Hanya itu dan hanya seperti itu. Riang. Tanpa cela kesedihan.
##
Terakhir aku menjejakkan kakiku disini adalah
saat yang sama dimana aku melihatmu menangis. Terduduk diatas rerumputan yang
basah sambil memainkan bunga yang paling kau sukai, ilalang. Saat itu senja dan
hujan. Kamu melangkah pulang meninggalkan aku sendiri dengan semua rasa
bersalah dalam diri. Membiarkanku basah oleh gerimis yang menderas, senja itu.
Hingga aku memutuskan untuk pulang. Memutuskan untuk tidak lagi menyakitimu.
Memutuskan untuk tidak lagi tinggal karena aku tahu, mungkin, kamu tidak pernah
ingin aku kembali lagi. Tidak ingin aku menjadikanmu tempat pulang karena itu
selalu menyakitkan untukmu.
Maka aku pergi.
##
Senja hari ini menggodaku. Memaksaku menyusuri
jalan-jalan setapak pada taman ini. Matahari mengerling, menyajikan sisa terik
siang tadi. Hangat. Masih sama stelah 2 tahun lamanya.
Aku melangkah pelan, menikmati setiak jejak yang
menjajak tanah kenangan. Melewati setiap lembar daun yang jatuh berguguran
disapa lembut angin sore. Pada akhirnya, aku sampai disini, ditempat dimana
pernah aku dan kamu duduk saling memunggungi.
Aku memilih untuk duduk di area kosong yang ada
di sebelah gadis yang juga tengah duduk memandangi tugu dihadapannya. Aku
perhatikan, sessekali dia mengarahkan kameranya ke arah tugu, ke arah matahari
yang masih mengerling hangat. Aku tidak ingin mengganggunya, pun dia nampaknya
tidak terganggu dengan adaku.
Aku memilih untuk diam, menikmati sisa senja
dengan caraku. Sesekali mencuri pandang ke arah gadis yang spertinya juga
tengah menikmati sisa hangat matahari. Tas tokoh kartun tersandar di
punggungnya, sementara Canon yang tadi ditangannya, kini diletakkan
disampingnya. Tidak ada sepatah katapun. Tidak dariku, tidak pula dari gadis
itu. Tapi entah kenapa, rasanya menyenangkan bisa menikmati senja ini.
1 menit. 5 menit. 15 menit. Dan adzan maghrib
sempurna terdengar dari mushala dekat stasiun besar itu.
Sudah habis matahari,
menyisakan rona senja yang sempurna indah. Disusul mendung yang datang
tiba-tiba. Hujan. Menderas. Aku berdiri, begitu juga dengan gadis itu. Saat dia
berdiri, beberapa batang ilalang kering jatuh tanpa dia tahu. Dia berjalan,
berlalu dengan senyum khasnya. Riang.
Lalu aku? Aku memungut ilalang itu. Merapikannya,
lalu berjalan ke arah yang berbeda dari gadis itu. Berlalu memunggunginya
sambil sesekali menengok ke belakang, sampai gadis itu benar-benar menghilang.
##
Tidak ada kata yang terucap. Tidak ada laku yang
terjadi. Masih sama, duduk dan menyadari bahwa kamu ada dan tersenyum disana
adalah hal yang menyenangkan. Selalu menyenangkan. Meski mungkin hanya
perasaanku saja.
##
Dan kemudian, sekali lagi aku menoleh, memastikan
gadis itu benar-benar menghilang.
Aku ingat, namanya Hujan.
Selamat senja, Hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar