Jumat, 17 Januari 2014

Sekolah Relawan; Memupuk Mental Relawan



Sekolah Relawan bersama Bang Gaw dan Bude Kis.
Sabtu, 11 Januari 2014

Ada banyak cerita sabtu kemarin, yang entah kenapa, saya hanya ingin mengingatnya. Namun saat saya sadar, masing-masing orang punya sesuatu untuk dibagi kepada orang lain di sekitarnya. Sesuatu yang bermanfaat tentunya. Dan apa yang saya bagikan disini, saya harap bermanfaat untuk semua yang membacanya, khususnya saya sendiri.

Ini tentang RELAWAN. Ketika saya mengetik kata ‘RELAWAN’ maka artinya adalah setiap orang yang melakukan suatu hal yang bermanfaat untuk diri dan orang sekitarnya tanpa dia merasa kalau dia sudah melakukan sesuatu. Tidak dikhususkan untuk instansi atau komunitas tertentu. Relawan secara umum. Siapapun, kapanpun dan dimanapun.

Dalam catatan saya, ada beberapa point penting terkait dengan kerelawanan yang disampaikan dalam Sekolah Relawan oleh Bude Kiswanti (biasa dipanggil Bude Kis). Semuanya menarik. Namun ada salah satu yang membuat saya sadar tentang bagaimana seharusnya seorang relawan. Point kedua dalam catatan saya, kata Bude Kis bahwa RELAWAN itu Rasa Empati Lakukan Atau Waktu Anda Nihil. Simpel, tapi mengandung banyak makna. Saya mencoba memahaminya dengan kemampuan pemahaman saya. Ketika seseorang berempati pada sesuatu hal yang dialami oleh orang lain, maka sesungguhnya seseorang itu dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama adalah : seseorang itu harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain tersebut sebagai wujud nyata dari rasa empatinya. Pilihan keduanya, seseorang itu tidak melakukan suatu apapun sampai akhirnya seseorang itu sadar bahwa waktu yang dimilikinya berlalu begitu saja. Pemahaman yang masih kurang dari saya. Dan saya harap nantinya, akan ada pemahaman lain tentang apa yang saya singgung diatas, sehingga bisa bermanfaat untuk diri saya dan semuanya.

Kalau ada point kedua, maka seharusnya ada point pertama, bukan? Tentu saja. Ada point pertama yang saya bisa ambil dari Sekolah Relawan perdana di Taman Baca Warabal kemarin. Tapi sebelumnya, saya ingin memberitahukan, point-point ini bukan disusun berdasarkan suatu alasan tertentu. Point-point ini adalah point yang saya catatkan pada catatan saya.
Apa point pertamanya? Tekad. Sekali lagi, TEKAD, bukan nekad. Setiap orang paling tidak harus memiliki tekad. Memang apa bedanya orang bertekad dengan orang nekad? Saya jawab (lagi-lagi) dengan pemahaman saya. Orang yang memiliki tekad sejak awal ingin melakukan sesuatu, akan sadar bahwasanya setiap hal yang dilakukan ada caranya. Ada ilmunya. Ada pengetahuannya. Dan orang-orang yang memiliki tekad akan belajar cara, ilmu dan pengetahuannya sebelum melakukan sesuatu. Orang nekad, mungkin hanya bermodalkan sedikit hal yang diketahui dan merasa cukup akan ilmu yang sudah dimiliki. Maka, orang-orang yang memiliki tekad yang besar adalah orang-orang yang tidak pernah merasa puas akan ilmu yang mereka miliki. Selagi mereka bersyukur atas apa yang mereka miliki, mereka juga terus berusaha tanpa henti belajar tentang hal-hal baru. Dan sekali lagi, ingat, Tekad, bukan Nekad.

Next, point ketiga, yang sangat berhubungan dengan Sekolah Relawan adalah relawan juga butuh sekolah. Kapan waktunya relawan sekolah? Dua puluh empat jam setiap harinya. Tujuh hari setiap minggunya. Tiga puluh atau tiga puluh satu (dua puluh delapan khusus Februari) setiap bulannya. Tiga ratus enam pulih lima atau tiga ratus enam puluh enam hari setiap tahunnya. Itu adalah waktunya relawan sekolah. Apa maksudnya? Sekolahnya relawan adalah setiap waktu. Sekolah berarti belajar, mencari dan mendapatkan ilmu, mengembangkan pengetahuan, dan itu dilakukan setiap waktu oleh relawan. Kapanpun dan dimanapun. Sederhananya kalau boleh saya katakan, sekolahnya relawan adalah perjalanan kehidupan.

Selanjutnya, keempat, Bude Kis menyampaikan tentang dendam positif. Kata siapa dendam tidak diperbolehkan? Kalau dendam itu positif, kenapa tidak? Dendam positif akan membawa kita, sadar atau tidak, melangkah lebih jauh kedalam mimpi dan impian yang kita punya. Lebih mendekatkan kita pada cita-cita yang ingin kita gapai. Tak masalah berapa banyak suara yang mengatakan kalau kita tidak mampu. Bukan alasan berapa banyak cibiran, cerccaan atau hinaan yang ditimpakan pada kita. Asalkan kita mau, maka kelak kita akan mampu. Dendam positif, bukan dendam penuh amarah, namun dendam penuh semangat yang menggelora. Semangat menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Kelima, saya ingat sekali Bude Kis mengatakan : “Jangan bosan bercerita pada siapapun tentang mimpi Anda.” Bagaimanapun muluknya impian kita, jangan bosan bercerita. Bahkan dalam selingan, Bang Gaw menambahkan : “Tuliskan mimpi-mimpi kita.” Sederhana. Tidak peduli orang mengatakan mimpi yang ditulis atau diceritakan hanya membuat orang lain tertawa mengejek atau meremehkan. Tidak masalah meski saat ini mimpi dan impian itu hanya sekedar tulisan atau cerita. Toh kelak, akan ada satu dari sekian –bahkan mungkin semua- dari mimpi itu bisa diwujudkan.

Apakah cukup dengan tekad dan mimpi? Tentunya tidak. Yakin terhadap mimpi yang ingin diwujudkan adalah salah satu yang harus diperhatikan. Keyakinan yang besar kalau kita bisa meraih tiap impian yang sudah kita tulis dan ceritakan akan membuat kita lebih fokus dan konsisten dalam meraihnya. Fokus dan konsisten. Fokus. Dan konsisten. Fokus terhadap apa yang ingin diraih, konsisten dalam menjalankan apa yang perlu dilakukan untuk meraih apa yang difokuskan.

Ada saat dimana –tidak jarang- , orang-orang sekitar atau orang-orang yang kita beritahukan tentang mimpi kita, hanya menatap kita dengan penuh keraguan seakan tidak percaya kalau kita, orang-orang yang berani bermimpi, mampu mencapai mimpi-mimpi itu. Seringkali, tatapan tidak yakin, kicauan banyak orang diskitar membuat kita berfikir bahwa mewujudkan mimpi itu adalah hal ang mustahil. Apalagi kalau mimpi-mimpi itu terdengar sangat muluk. Benar begitu? Setiap orang pernah merasakannya. Tidak mungkin. Maka saat kita terjebak pada situasi tersebut, hal pertama yang perlu dilakukan oleh otak kita adalah merubah pemikiran “impossible” menjadi “I’M POSSIBLE”. Tidak ada yang tidak mungkin. Sesulit apapun suatu hal, mimpi atau keyakinan, tidak ada yang tidak mungkin. Semua hal mungkin untuk dilakukan. Setiap mimpi mungkin untuk diwujudkan. Meski kesempatan yang terlihat hanya 0,0…1%, atau bahkan tidak ada sama sekali, yakinlah bahwa selalu ada kemungkinan selamaa kita mau berusaha. Point penting saat seorang relawan atau siapapun mencapai titik ‘hampir menyerah’ adalah merubah IMPOSSIBLE menjadi I’M POSSIBLE.

Tidak semua orang disekitar mencemooh, menertawakan atau meragukan mimpi-mimpi. Orang-orang terdekat pastinya ada yang mendukung, men-support dan membantu kita dalam mewujudkan banyak mimpi. Maka menjadi atau melakukan sesuatu, berbagi dan sebagainya, kita butuh dukungan. Butuh dorongan. Butuh support. Dukungan dari orang-orang terdekat atas apa yang kita lakukan adalah salah satu point penting yang perlu diperhatikan. Tentunya tidak lupa dukungan terbesar adalah kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri.

Perjalanan seseorang, siapapun itu –relawan atau bukan-, merupakan salah satu bentuk nyata dari sebuah proses panjang bernama kehidupan. Hasil akhir dari kehidupan tentu bukan suatu hal yang dapat dilihat dengan kasat mata. Maka yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal adalah mengenalkan dan melibatkan diri secara langsung dalam proses tersebut. Mengenal bagaimana kehidupan itu berjalan dan melibatkan diri dalam setiap hal bermanfaat yang terjadi dalam hidup. Hasil akhir itu penting, tapi lebih penting usaha dan proses yang tak kenal kata akhir. Sampai diujung usia.

Masih banyak hal penting yang mungkin saya lewatkan dalam Sekolah Relawan perdana kemarin. Dan masih banyak point dalam catatan saya yang saya kurang bisa sampaikan dalam catatan ini. Sekelumit catatan diatas, keterbatasan saya dalam menerima semua hal dan menjelaskannya kembali menjadi sebuah bukti bahwa tidak akan habis kata untuk membahas hidup seseorang yang rela berbagi segala hal bermanfaat bagi diri sendiri dan orang sekitarnya. Seperti yang –lagi-lagi- disinggung oleh Bang Gaw, yaitu bahwa kita, manusia, sebagai manusia selalu punya batas. Selalu ingin lebih tahu dan tidak pernah puas akan hal-hal yang telah dimiliki. Punya keinginan yang tiada batas, namun dibatasi oleh kemampuan masing-masing dalam penerimaan, pemahaman, penjelasan dan penyampaian kembali. Maka hal yang dapat saya sampaikan di akhir adalah hal yang mungkin dari point-point di atas yang lebih perlu digarisbawahi. Bahwa seseorang sebagai Relawan selalu menjadi bagian dari KEHIDUPAN, bukan hanya mencari penghidupan. Bahkan mungkin sama sekali bukan mencari penghidupan. Artinya, bagaimanapun, dimanapun, seperti apapun, seseorang yang rela, seseorang yang mau berbagi banyak hal kepada diri sendiri dan orang lain hanya perlu memulai dengan ruang, bukan dengan uang. Beri ruang, atau buat ruang itu sendiri, maka seseorang yang bertekad, berkeyakinan, bermimpi, bersabar dan bersyukur akan menunjukkan hal-hal yang tidak pernah difikirkan oleh orang-orang manapun.

***
Dan sekali lagi saya tegaskan, ini tentang RELAWAN. Ketika saya mengetik kata ‘RELAWAN’ maka artinya adalah setiap orang yang melakukan suatu hal yang bermanfaat untuk diri dan orang sekitarnya tanpa dia merasa kalau dia sudah melakukan sesuatu. Tidak dikhususkan untuk instansi atau komunitas tertentu. Relawan secara umum. Siapapun, kapanpun dan dimanapun.

Terima kasih sudah menyempatkan membacanya. Sekali lagi, apa yang teman-teman baca diatas adalah sekelumit pemahaman saya yang sangat jauh dari cukup. Maka dengan merendahkan hati, saya harap teman-teman mau dan mampu berbagi pemahaman dengan saya agar selalu semakin baik pemahaman yang kita miliki. Pemahaman yang baik dan benar akan mempengaruhi setiap penjelasan dan penyampaian. Dan sebuah kewajiban untuk siapapun yang paham untuk menjelaskan dan menyampaikan kembali.

didedikasikan untuk semua orang,..
terinspirasi dari semua orang –khususnya semua yang hadir di Sekolah Relawan-,..
Bude Kis, Bang Gaw, semua komunitas dan instansi sosial yang hadir saat itu,..
mengutip kta-kata mba’ Anne yang selalu diulang-ulang, “Jangan bolos sekolahnya, sampai ketemu di Sekolah Relawan selanjutnya.

Posko Banjir Relawan RZ
di Bukit Duri, Tebet
Rabu, 15 Januari 2014; 00.06 WIB

Amirul Mufadilla

Tidak ada komentar:

Posting Komentar