Minggu, 18 Mei 2014

Terima kasih, Kamu.



Aku disini. Belum ingin beranjak. Sesaat setelah kamu pergi, aku menepi. Melihat dari sisi jalan punggungmu yang berjaket biru dan tertutup tas hijau. Hampir persis seperti elegi yang pernah aku tulis.

Tadinya kukira pertemuan denganmu kali ini akan lebih singkat. Tapi tiga kotak kopi Nescafe, sekotak susu, sebotol kopi dan sebungkus makanan cepat saji sisa-sisa teman obrolan menghiasi meja yang masih aku tempati.

Dua jam lebih. Seratus empat puluh dua menit tepatnya. Tak banyak bicara. Suaramu bahkan lebih sering tenggelam dalam deru kendaraan di sisi sana.

Kamu tahu, aku pernah tuliskan tentang kamu sebelum ini. Mungkin tak akan tersampaikan. Atau takkan pernah kamu baca. Tentang kamu dan cappucinno.

Kamu sederhana. Tidak cantik atau apalah. Persis seperti yang kamu katakan. Kamu bukan bidadari. Bukan malaikat.

Aku tidak pernah peduli kamu cantik atau tidak. Aku hanya peduli, kamu sederhana seperti yang pernah aku tuliskan.

Dan ketahuilah, meski mungkin kamu tidak akan tahu dan tidak pernah ingin tahu, aku hanya ingin, satu-satunya tempat kembaliku, kamu.

Meski aku tahu, kamu tidak ingin aku kembali.

Walau aku tahu, ada perasaan yang kamu jaga.

Meski aku tahu, aku masih dan mungkin belum bisa pantas untukmu.

Aih, aku tidak ingin apa-apa. Aku tahu rasamu. Jadi, aku hanya ingin men-skenariokan saja. Sutradara hidupku, tetap Dia.

Terima kasih sudah mampir kesini. Aku selalu ingin mengajakmu kesini untuk sekedar memandang renyahnya senyum diantara ramainya deru kendaraan.

Terima kasih, Kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar