Aku disini. Belum ingin beranjak. Sesaat
setelah kamu pergi, aku menepi. Melihat dari sisi jalan punggungmu yang
berjaket biru dan tertutup tas hijau. Hampir persis seperti elegi yang pernah
aku tulis.
Tadinya kukira pertemuan denganmu kali
ini akan lebih singkat. Tapi tiga kotak kopi Nescafe, sekotak susu, sebotol
kopi dan sebungkus makanan cepat saji sisa-sisa teman obrolan menghiasi meja yang masih
aku tempati.
Dua jam lebih. Seratus empat puluh dua
menit tepatnya. Tak banyak bicara. Suaramu bahkan lebih sering tenggelam dalam
deru kendaraan di sisi sana.
Kamu tahu, aku pernah tuliskan tentang
kamu sebelum ini. Mungkin tak akan tersampaikan. Atau takkan pernah kamu baca.
Tentang kamu dan cappucinno.
Kamu sederhana. Tidak cantik atau
apalah. Persis seperti yang kamu katakan. Kamu bukan bidadari. Bukan malaikat.
Aku tidak pernah peduli kamu cantik atau
tidak. Aku hanya peduli, kamu sederhana seperti yang pernah aku
tuliskan.
Dan ketahuilah, meski mungkin kamu tidak
akan tahu dan tidak pernah ingin tahu, aku hanya ingin, satu-satunya tempat
kembaliku, kamu.
Meski aku tahu, kamu tidak ingin aku
kembali.
Walau aku tahu, ada perasaan yang kamu
jaga.
Meski aku tahu, aku masih dan mungkin
belum bisa pantas untukmu.
Aih, aku tidak ingin apa-apa. Aku tahu
rasamu. Jadi, aku hanya ingin men-skenariokan saja. Sutradara hidupku, tetap
Dia.
Terima kasih sudah mampir kesini. Aku
selalu ingin mengajakmu kesini untuk sekedar memandang renyahnya senyum
diantara ramainya deru kendaraan.
Terima kasih, Kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar