Selasa, 20 Mei 2014

Senandung Kala Senja



Senja yang panjang iitu tidak akan pernah berakhir.

Bisakah kamu mendengar suara itu? Awal kita menjejakkan kaki disini, langit sudah memberi tanda bahwa gerimis akan mampir. Aku tahu itu. Bukan karena aku pawang hujan, tapi lebih karena aku menonton berita perkiraan cuaca Jabodetabek pagi itu. Lalu, apa peduliku? Demi melihatmu menunjuk ke arah sisi pojok anak tangga tempat biasa siapa saja duduk disana, aku beranjak. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menatap lamat-lamat punggungmu yang membawa tas hijau-coklat besar itu, tadinya.

Sayangnya, perkiraanku tidak setepat pembawa berita tadi pagi. Ada banyak hal yang terjadi senja itu. Ada banyak hal menyenangkan dan menenangkan yang kutemui saat itu, bersamamu.

Aku tidak banyak melakukan apa-apa, hanya mengetik. Membaca dan sesekali mencuri pandang saat terdengar tawamu. Kalau saja boleh dan kalau saja bisa, aku pasti merekam setiap detik adamu sore itu.

Aku dan kamu membicarakan banyak hal. Bercerita dan berceloteh ria tentang segala sesuatu. Tentang kesibukanmu, sedikit membicarakan masa lalu dengan tersangka utamanya (aku), sesekali menyinggung mas mu yang saat disinggung matamu lebih bersinar, tentang banyak hal. Sayang aku tidak bisa seperti itu. Aku masih harus berbicara perlahan dan hati-hati. Tidak ingin banyak menyinggung tentang perasaanku karena pastinya kamu tahu akan berujung dimana.

Ah, sudahlah. Abaikan hal itu. Cukup es krim Feast coklat dan sekotak Nescafe Coffe cream yang mengingatnya.

Ada hal yang aku rasa dan mungkin tidak kamu sadari sama sekali. Saat kamu katakan jalan pikiranku tidak mudah untuk dimengerti, aku paham. Dan saat senja itu, aku kemudian memahami sesuatu.

Pikiranku seperti brankas dengan angka kombinasi yang akupun tidak tahu berapa angkanya. Dan adamu yang membiarkan aku datang, sadar atau tidak, sengaja atau tidak disengaja, merangsang tiap inchi syaraf otakku untuk mengingat angka-angka kombinasi tersebut, yang kemudian membuatku bisa membuka brankas itu sendiri.

Aku senang saat kamu akhirnya mau menerimaku kembali. Kembali hadir dalam kehidupan sederhanamu. Hanya kembali itu, kan? Aku mengerti kok. Tidak bisa kupungkiri, aku takut. Takut untuk mengakui kalau aku benar-benar ingin kembali. Meski begitu, antusiasme saat membicarakan segala sesuatu tentang tahu diri menyadarkanku akan sesuatu yang lebih penting.

Aku belajar banyak darimu. Aku banyak belajar darimu. Meski aku masih belum tahu apakah ada hasilnya atau tidak.

Dan saat ingat dengan kata-kata dalam baris sms malam itu, aku bersyukur.

Mendoakan itu keren, bukan? Maka aku tetap pada pilihan awalku sejak saat itu. Aku memilih untuk tetap mendoakanmu. Tidak, bukan hanya mendoakanmu, tapi menjadikan namamu sebagai bagian dari doa yang aku ucapkan. Rasanya, untuk saat ini, sampai saat yang entah kapan itu tiba, itu adalah hal terkeren yang bisa kulakukan.

Dan gerimis tidak lagi malu-malu. Bahkan langsung pergi digantikan hujan lebat yang hebat.

Senja yang panjang itu, tidak akan pernah berakhir. Kamu tahu kenapa? Karena senja itu ditutup oleh hujan dan imam shalat maghrib yang keduanya mengingatkan kita untuk tidak berhenti bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar