Jumat, 23 Agustus 2013

Aku dan Bening (end) : UTUH



Setelah hari itu, setelah bertahun –dua tahun lebih tepatnya- kuhabiskan pagiku duduk diam diatas pagar usang yang masih kokoh –entah saat ini-, aku mantap untuk melangkah pergi.
Bukan karena aku marah. Tidak pula karena aku kecewa. Lebih karena aku ingin memaafkan diriku sendiri atas 2 tahun bersama.

Aku pergi. Menuju tempat dimana harusnya aku berada. Belajar. Meninggalkan segala kebiasaan lama untuk menjajal setiap kesempatan baru yang ada jauh di luar tempatku berada. Merantau. Mencari dan menuntut banyak ilmu yang bisa aku dapatkan di luar duniaku yang kusadari ternyata sangatlah biasa.

****
Kepergianku saat itu, setelah 2 tahun melalui pagi bersama, membuat sebuah lubang dalam yang penuh dengan luka. Bening itu rapuh. Dan terluka. Itu yang kutahu dan kudengar. Meski begitu, maaf, aku tidak peduli.

Setahun setelah kepergianku, aku akhirnya mengucap kata itu.

“Tanpaku, tanpa senyumku, kamu akan jadi wanita yang lebih tangguh, Bening,” ujarku setenang mungkin lewat handphone ku.

Aku tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar, tapi aku tahu, diamnya adalah sedih yang mendalam. Perlahan, diam itu berubah jadi isak pelan. Aku paham.

“Menangislah, Bening. Tapi jangan lupa hapus air matamu setelah itu. Bangunlah setelahnya. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di luar sana. Maaf jika mungkin yang kusampaikan bukan hal yang ingin kau dengar, tapi percayalah, kelak, seuatu hari engkau akan paham.”

Isaknya makin terdengar. Aku tak tega. Tak tahan mendengarnya, namun harus segera disampaikan. Dan telepon ini harus segera selesai.

“ Kamu jahat.!!’ Kata pertama yang diucapkannya.

“Kamu nggak bisa seenaknya bilang seperti itu. Mudah untukmu bilang seperti itu, tapi tidak mudah buatku untuk melakukannya. Kenapa sekarang..?  Kenapa saat aku mulai sayang kamu..?”

Aku diam. Andai aku bisa menjaawab tanyanya, aku akan jawab.

“Belajarlah, karena aku belajar. Maaf atas kejahatanku, kelak kamu akan mengerti.”

Aku menutup handphone ku. Segera mematikannya dan berharap semua ini selesai dengan cepat.
Berharap dia belajar dengan cepat meski aku tahu itu tidak mungkin. Tapi aku percaya, kelak dia akan mengerti. Kelak Bening itu akan semakin mengerti bahwa dia lebih dari sekedar bening.
***
Kebersamaan yang menyenangkan. Siapapun yang bersamanya, tidak akan bisa melupakan sedikitpun apa yang sudah dilewati. Apalagi aku, yang saat itu menyandang status ‘pacar’ nya. Dia selalu bilang, aku selalu menyenangkan buatnya. Selalu. Meski pagi yang kami lewati hanyalah seperti itu saja –duduk memandangi pagi di atas kayu-kayu usang.

Perjalanan yang tak biasa menyentuhku perlahan. Pemahaman tentang keinginan hidup yang lebih baik di masa depan membawaku perlahan mengenal lebih dalam tentang bagaimana hidup seharusnya. Hidup sesuai dengan aturan dan jalan yang sudah ditetapkan.

Bertemu dengan banyak teman baru –setelah mengenalnya- dan mengerti akan hal baru lainnya. Saat itu kesadaranku mulai tumbuh. Kesadaran akan kehidupan yang jauh lebih menenangkan dan menyenangkan daripada setiap pagi yang kulewati dengannya.

Tapi, aku tak pernah tahu bagaimana cara mengatakan padanya tentang janji kehidupan yang lebih baik yang sudah kutemukan. Tidak pernah bisa. Bukan, tidak pernah tega lebih tepatnya, karena aku tahu, bagaimanapun baiknya bentuk kehidupan yang akan aku jelaskan tetap akan membuatnya merasa tersakiti.

Sampai hari itu. Sampai Sang Pemilik Hidup itu memberikanku jalan yang sangat jelas untuk melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku, yaitu meninggalkan dia dan kehidupannya. Meninggalkan Bening itu.

Hari itu, aku mendapat tawaran untuk belajar lebih jauh di negeri seberang, seperti yang selalu kuimpikan. Restu dari orang tuaku nun jauh disana sudah kukantongi. Urusan-urusan administrasi sudah terselesaikan dengan mudah. Sayang urusan hati yang sebenarnya mudah ini menjadi sangat rumit. Aku yang membuatnya rumit, dengan segala ketidakmampuan dan ketidak mauanku untuk menyakitinya. Berminggu aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya, namun tidak jua bisa bibir ini terucap karena tak ingin melihat Bening itu sedih.

Sampai dia menyadarinya. Bening menyadari ada yang salah denganku.

“Ada apa..? Ada yang mau lu ceritain..? Omongin aja..” ujarnya tiba-tiba sore itu.

“Ehh, enggak. Enggak ada apa-apa kok. Kenapa emang..? tanyaku gugup.

“Ada yang lu sembunyiin dari gue. Gue tau kok, gue kan cewek. Feeling gue bilang begitu. Kenapa..?” tanyanya lagi.

Sedetik. Lima detik. Satu menit.

“Heeiii,…haloo..”

“Eh, iya. Mmm, aku mau ngomong.”

“Yaudah ngomong,”

“Seminggu lagi aku pergi.” Akhirnya terucap juga kata-kata itu.

“Pergi..? Kemana..?”

“Kyoto.”

“Ngapain..?”

“Melanjutkan..”

“Impian bodohmu..?” potongnya cepat.

“Ya.” Jawabku singkat.
…..

Aku menunggu lama, meski aku tahu tidak akan ada lagi kata yang terucap. Senja sore itu berlalu begitu saja. Terasa sangat lama, menyisakan isak yang perlahan pergi menjauh. Aku enggan menoleh, tetap menikmati senjaku seperti biasa. Aku tahu ini akan terjadi, tapi tidak tahu kalau ini akan begitu menyakitkan. Buatku. Terlebih untuknya.

Setelah hari itu tidak ada lagi pagi yang menyenangkan. Tidak lagi aku temukan sosoknya duduk riang menungguku di atas kayu-kayu pagar yang usang. Aku hanya menemukan pagi yang bias. Semu. Sesaat lalu bergegas pulang. Tidak ada kabar darinya. Sama sekali. Aku pun tidak bertanya atau meminta.
***

Sudah lima hari berlalu saat itu. Malam itu aku akan resmi berangkat, maka siang itu aku mencoba mengiriminya pesan singkat.

“Malam nanti aku berangkat.”

Sangat singkat. Dan tidak seperti yang kuharapkan, dia tidak membalasnya. Bening itu mengabaikannya.

Sayangnya aku salah. Senja datang membawanya. Muncul begitu saja di pintu kamar kost ku. Raut wajahnya tak lagi bening. Layu. Sembab matanya menandakan dia tak henti menangis.

“Kapan lu balik kesini lagi..?”,

Dia menggenggam erat jemariku saat melontarkan pertanyaan itu. Aku diam. Tak menjawab. Lima detik. Dua puluh detik. Satu menit berlalu dan..

“Kapan lu balik kesini lagi..?.

Pertanyaan yang sama yang diulang dua kali. Aku menatap kosong matahari yang mulai terbenam di ufuk barat saat itu. Sejenak kemudian menoleh, menatap jemarinya yang erat mengisi sela-sela jemariku.

“Terlalu sulitkah menjawab pertanyaan gue..?”.

Mulai mellownya deh, batinku.

Aku masih menikmati senja yang perlahan turun di hadapanku. Tidak ingin merusaknya dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang –jujur- sangat tidak aku ketahui jawabannya. Aku tidak ingin mengabarkan apa-apa.

Dan akhirnya 5 menit berlalu dengan hening. Pelan aku menyimak gema adzan mampir di telingaku. Aku melepaskan jemariku dari genggamannya, lalu meraih wajahnya. Dia bangkit. Menoleh heran. Dan masih menunggu jawab dari pertanyaannya tadi tentunya. Melihat masam wajahnya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan itu, kubelai pelan rambutnya yang di kucir kuda sambil kurapikan beberapa helai rambut yang mampir di wajahnya. Aku tahu dia masih menunggu. Dan jujur aku sangat tergoda untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi, urung aku ungkapkan, karena –lagi-lagi- aku memang tidak tahu jawabnya. Aku berdiri, lalu mengulurkan tanganku. Dia masih menunggu dan enggan menyambutnya. Aku memaksa.

“Sudah maghrib, shalat yuk.”

Aku berkata pelan sambil menyuguhkan senyum terbaik yang aku bisa. Dia hanya diam. Aku tahu, senyumku –walaupun tidak manis- selalu mampu meluluhkannya. Tak lama kemudian dia menyambut malas uluran tanganku. Dan kami meninggalkan tempat ini dengan tanpa menyisakan jawaban.

Aku meninggalkan tempat ini tanpa menyisakan jawaban.
***

Maghrib usai lebih cepat dan malam hadir lebih awal. Aku bergegas, mengemasi semua yang ada di dalam kamar kost ku. Segala yang ada, bahkan lembar-lembar kenangan yang lusuh pun ikut ku benahi. Dia menungguku disana, diambang pintu. Masih menunggu dengan tanya yang sama. Aku berhenti sejenak, berdiri tegak, meletakkan dua jari ku yang membentuk huruf ‘V’ ke ujung-ujung bibirku, lalu menarik bibirku hingga membentuk senyum.
Melihatku seperti itu, dia tersenyum.

“Kemarilah,” pintaku.

 “Bisa gak lu ga usah pergi..?” tanyanya sesak.

“Aku ga bisa kasih kamu jawaban apa-apa. Maaf.”

“Kenapa?”

“Karena aku sayang kamu,”bisikku.

Isaknya makin terdengar, bersamaan dengan itu decit rem mobil terdengar di depan. Aku menoleh.

“Jemputanku sudah datang, aku selesaikan packingnya dulu ya..,” pintaku.

Dia diam, membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku menatapnya dari cermin yang ada di hadapanku, Dia menyeka air matanya. Dan aku menutup koper terakhirku. Koper dengan seribu kenangan yang ingin aku bawa kemanapun aku pergi.

Aku berbalik dan menemukan dia sudah tersenyum.

“Sekarang gue ngerti rasanya jadi lu..,” ucapnya pelan.

“Kata siapa..?”

“Kata gue..,” jawabnya.

Aku tersenyum, menghampirinya lalu menggenggam erat kedua tangannya.

“Kamu sudah banyak berubah. Sudah bisa belajar. Tapi kamu masih belum sepenuhnya mengerti. Yang kamu rasa saat ini adalah sedikit dari apa yang sudah aku rasa. Percayalah. Kamu akan mengerti, suatu hari nanti,” ujarku.

Dia menangis lagi, aku menyeka airmatanya lagi.

“Menangislah, tapi jangan lupa hapus air matamu,” kataku sambil meraih tas dan koperku. Terakhir, aku merengkuh kepalanya, membelai rambutnya dan mendaratkan kecupan ringan di keningnya.

“Aku pergi ya. Aku akan kembali, bila sudah waktunya. Tidak ada kata selamat tinggal, jadi jangan menungguku.” Ujarku saat itu.

Dia menyeka airmatanya, lalu tersenyum. Dan senyumnya adalah segalanya bagiku.
***

Dan hari ini, aku disini. Ditempat dimana aku dulu menikmati matahari pagi yng tidak pernah bisa kau lupakan. Tidak banyak yang berubah dari tempat ini, hanya saja pagar usang itu sudah tidak ada. Digantikan bangku kayu berangka besi dengan berhias pepohonan rindang disekitarnya. Tidak hanya satu bangku, tapi beberapa.

Aku memilih untuk mampir ketempat ini sebelum nanti aku pulang ke rumah orang tuaku. Duduk disalah satu bangku kosong. Menikmati terik yang nyaman karena tertutup oleh rindangnya dedaunan. Memejamkan mata sejenak. Tidak terasa, aku terlelap.

“Permisi, Mas. Boleh saya duduk disini.? Tempat lain ga ada yang kosong.”

Suara itu menggugahku dari tidur. Aku menegakkan kepala dan menoleh. Kemudian melihat sekitar, memastikan bangku-bangku lainnya penuh. Oiya, ini malam minggu. Meski masih siang, tempat ini ramai oleh keluarga yang sibuk mengajak anak-anaknya bermain di taman dekat sini –sudah ada taman untuk anak-anak sekarang-, ditambah beberapa muda-mudi yang duduk santai mengobrol.

“Oh iya, Mbak. Silahkan.” Aku mempersilahkannya duduk sambil tersenyum, lalu kembali bersandar dan memejamkan mataku.

“Lagi nunggu orang, Mas..?”

Gadis disebelahku membuka percakapan.

“Enggak, Mbak. Lagi istirahat aja.” Jawabku tanpa merubah posisi tubuhku.

Sepuluh menit hening. Aku rasa cukup aku mampir disini. Membuka mataku dan kemudian berdiri.

“Saya duluan, Mbak,” pamitku pada gadis yang masih asik dengan ipod ditangannya.

“Oh iya, Mas,” balas gadis itu sambil tersenyum.

Aku bergegas meninggalkan tempat ini, bergegas untuk pulang dan menemui orang tuaku. Bergegas menyampaikan berita gembira.
***

Pagi ini, mendung sisa semalam masih menggelayut manja di ufuk timur. Menutupi hadirnya sinar mentari yang sejatinya sudah ada sejak tadi. Jarum jam panjang di Army ku menunjuk ke angka 7. Sudah lewat pagi. Aku melanjutkan langkahku, menikmati pagi yang memabukkan. Yang membuat beberapa dari penghuni rumah yang aku lewati menarik selimut lagi karena hari ini hari libur nasional. Sayangnya, beberapa anak kecil justru bersemangat berlarian di halaman rumah dan taman sekitar rumahnya. Tertawa riang. Beberapa bahkan melambaikan tangannya padaku.

Aku, seperti biasa, menikmati pagi dengan caraku. Melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalan setapak depan rumah tempat aku kost dulu. Melangkah perlahan menuju padang rumput yang kini makin ramai oleh anak-anak kecil yang riang menyambut hari libur.

Tidak ada bangku kosong yang tersisa, selain bangku dibawah pohon rindang yang ditempati satu orang.

“Permisi, Mbak, boleh saya duduk?” tanyaku.

“Oh, iya Mas. Silahkan.”

“Sudah dari tadi disini, Mbak?”

“Lumayan, mas. Sayang kalau pgi seperti ini dilewatkan.”

“Iya, Mbak.”

Aku menatap lurus ke depan. Ke arah ramai.

“Oiya, Mbak, kenalkan. Nama saya Fajar.”

“Iya, saya tahu.”

Gadis itu menoleh dan tersenyum, tapi aku masih lekat menatap ke depan. Hanya sebentar, lalu dia pun lekat menatap ke depan.

“Sudah tercapai impian bodohnya, Mas..?” tanyanya kemudian, masih dengan tatapan lurus ke depan.

“Sudah, Mbak. Tapi minggu depan saya akan pergi lagi.”

“Masih..?”

“Ya.”

“Secepat itu kembali hanya untuk pergi lagi..?”

“Tepat.”

Hening tiba-tiba. Tidak ada tanya lanjutan.

“Kalau berkenan, mungkin kamu bisa ikut denganku.”

Dia menoleh. Saat itu juga, aku menyodorkan kotak beludru berwarna merah, sambil menyuguhkan senyum yang masih tidak terlalu manis. Dan berkata…

“Menikahlah denganku.”

Dan tak lama, aku menemukan senyum yang masih sama di wajah itu.

Senyum bening miliknya dulu.

Utuh. Senyum milik Bening.
(End)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar