Persembahan kecil, yang mungkin tidak
berarti apa-apa. Yang kuhadiahi untuk kalian, keluarga baruku.
***
Sampai saat ini, aku masih belum benar
mengerti kenapa aku bisa berada ditengah-tengah kalian. Aku masih belum paham,
bagaimana kemudian, kalian menjadi salah satu bagian terbaik (untuk saat ini)
dalam episode perjalananku.
Mungkin sedikit terlambat memaknainya. Tapi
tak apalah, daripada sama sekali tidak kusadari. Aku bangga berada diantara
kalian.
***
Masih sulit untuk memulai kalimat
tentang kalian yang baru kukenal. Belum bisa kupahami, tapi selalu kucoba untuk
mengerti. Sulit menceritakan kenapa kemudian aku bisa berjalan melintasi jalan
terjal menuju Kawah Ratu hari itu, dengan bergantian membawa ransel besar milik
seorang teman bersama dengan. Sulit menceritakan bagaimana aku bisa ‘terjebak’
dibawah rimbunnya pinus yang membentang, beralaskan spanduk yang kubawa dari
kampus bersama kalian. Sulit menceritakan bagaimana aku kemudian bisa
beriringan jalan, bersinggungan dan berbagi banyak hal bersama kalian.
Masih teringat saat itu, aku lebih
memilih menunggu kalian, orang-orang yang sebagian belum kukenal, ketimbang
berjalan bersama mereka yang lebih dahulu kukenal. Aku tidak tahu menunggu
siapa, seperti apa bentuk wajahnya dan bagaimana perawakannya. Aku hanya yakin,
seperti apapun kalian, aku bisa bersama kalian untuk beberapa hari ke depan. Berjalan
bersama, berdampingan dan menghabiskan waktu bersama.
Hutan pinus dikaki Kawah Ratu jadi saksi
bisu kita pernah bersama. Berbagi banyak hal. Susah, senang bahkan berbagi nasi
dan makanan. Meski harus dihiasi dengan misteri nasi uduk yang sampai hari ini
belum terungkap.
![]() |
| Diksar RZ |
Masih terputar juga tentang bahagianya,
semangatnya saat melakukan hal pertama bersama-sama dengan kalian. Kegiatan
pertama yang kuharap semangatnya selalu ada sampai kegiatan terakhir yang entah
kapan. Meski hanya menyapukan debu yang terurai di lantai masjid yang jauh dari
rumahku, atau walau cuma duduk bersama menikmati film yang tengah diputar. Itu lebih
dari sekedar hal yang bisa dikenang.
***
Ada banyak harap yang kutemukan saat
bersama kalian. Ada banyak asa yang kulihat memancar dari masing-masing mata
kalian yang kutatap. Harap dan asa tentang hidup yang lebih baik di hari esok. Tentang
berbagi ketulusan dan keikhlasan. Semangat dari raga dan hati kalian menular
padaku. Membuatku tidak lagi ragu melangkah lebih dalam, lebih jauh pada dunia
yang belum pernah kujamah, dunia relawan.
Mungkin terlalu dini jika aku katakan,
aku bangga berada diantara kalian, sementara aku belum begitu mengenal kalian.
Tapi yang kutahu, saat-saat bersama kalian adalah saat yang menenangkan dan
menyamankan. Menenangkan kehidupan sendiri dan menyamankan kehidupan orang
lain. Slogan ‘Tetap semangat bahagiakan ummat’ bukan hanya sekedar slogan yang
tercetak dan terucap oleh lisan, tapi juga tertanam dalam hati dan terlihat
dalam tindakan. Bersama kalian, semangat kalian dan adanya kalian, membuat aku
berani membuka segala kemungkinan memperbaiki hidup. Menjadi lebih baik dan
lebih baik lagi.
***
Lewat ini, aku mengenalkan kehidupanku
pada kalian. Kehidupan ‘penulis jalanan’ dan kehidupan presbem (seperti yang
selalu kalian bilang). Dan aku harap, aku bisa merasakan kehidupan kalian yang
membuatku selalu ingin berbagi.
Tidak ada yang tahu seberapa banyak
waktu yang aku dan kalian miliki. Yang pasti, akan selalu ada hal istimewa yang
menjadi potongan kenangan dalam memori yang tersimpan.
Dan ini hanya awal dimana aku yang masih
belum terlalu mengenal kalian menceritakan sedikit tentang kalian. Masih ada
banyak hal yang menunggu kita.
Dan akan selalu ada banyak kata yang
dapat kuketikkan jika itu tentang kalian. Jadi, siapkan saja ceritanya, aku
akan menuliskannya untuk kalian.
Dan ini adalah persembahan kecil yang
mungkin tidak berarti apa-apa. Yang kuhadiahi untuk kalian, keluarga baruku.
![]() |
| Masjidku Bersih & Hijau |
Untuk
kalian : Dwi Rahmi, Wafa’ Kamilah, Mutiara Intan, Hanifa Nur Azizah, Aisyah
Zahra, Riyadh Imanuddin, Dede Amanatillah & Mohamed Azmi Dzulkifli


Tidak ada komentar:
Posting Komentar