Aku melewati tempat itu
tadi. Tempat dimana aku dan kamu biasa bercengkrama dulu. 10 menit lalu, aku
ada disana. Memacu pelan laju sepeda motorku, lalu berhenti di salah satu sisi
jalan tempat itu. Salah satu tempat tinggi yang ada di dekat kotamu dan kotaku.
Salah satu tempat yang membuatku merasa sangat dekat dengan langit. Tempat yang
selalu punya arti tersendiri buatku. Entah buatmu.
Saat aku melewatinya,
aku merasa seseorang tengah memperhatikanku. Angin yang lembut menyapu kepalaku
yang tidak tertutupi helm menggodaku untuk berhenti sejenak. Aku tergoda. Tak ada
alasan untuk menolak pemberhentian laju jalanku disana. Tepat setelah berhenti,
aku melihat laju kereta dua arah di bawahku. Hanya sepersekian detik, lalu
suaranya mengilang. Dan lagi-lagi digantikan angin yang meracau perlahan.
Ada yang berubah dari
tempat itu. Malam minggu seperti ini, tempat itu tidak lagi ramai oleh
muda-mudi yang duduk diatas jok motor sambil menikmati indahnya langit malam. Hanya
ada kencang deru kendaraan dan nyaring suara klakson bersahutan.
Di sisi yang kutempati,
ada rambu dilarang parkir sepanjang jalan. Dari bawah keatas, sampai bawah
lagi. Mungkin itu sebabnya tempat itu sunyi sekarang. Meski ada beberapa motor
yang berhenti untuk sekedar menikmati angin malam, tempat itu kini sepi.
Aku menatap ke seberang
jalan, tepat dimana disana terdapat tiang lampu penerangan jalan yang besar. Juga
ada trotoar bagi penyebrang jalan. Mataku seperti mencari sesuatu, entah apa. Mungkin
kepingan mozaik yang tertinggal disana. Atau mungkin hal lain? Entahlah. Aku hanya
bisa menerka.
Aku terhenti disana,
menikmati sejuknya angin tanpa melakukan apa-apa. Tidak juga aku berusaha
mengenang, atau melupakan. Lima menit, cukup menenangkan dan menyenangkan
disana. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
Tapi sebelum pergi, aku
melakukan hal yang biasa kulakukan. Aku, -sebenarnya kamu- menyebutnya sebagai ‘ritual’.
Memejamkan mata sejenak sambil melantunkan doa dalam hati. Menyampaikan harapan
dan asa pada Dia Sang Pemilik Hati. Berharap, dari kolong langit yang tidak
jauh ini, Dia mendengar dan mengabulkan setiap ucap dalam hati. Apa yang
kuminta? Entahlah. Cukup aku dan Dia yang tahu. Toh kuyakin kamu tidak ingin
tahu. (:
***
Kini aku ada disini, di
salah satu tempat yang menyajikan makanan cepat saji ala Jepang. Tepatnya,
berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kotaku. Dan lebih tepatnya
lagi, aku berada di tempat duduk favoritku, -favoritmu juga mungkin- lantai dua
dekat dengan jendela.
Terakhir aku kesini
bersamamu adalah saat itu. Saat dimana aku ‘kembali pulang’ setelah sekian lama
pergi. Saat dimana mungkin kamu enggan untuk mengingatnya. Saat paling
menyebalkan dalam hidupmu, mungkin. Karena setelah itu, kamu yang pergi, meski
aku memilih untuk tinggal.
Mengingat itu aku hanya
bisa tersenyum. Pahit. Lebih pahit dari segelas ocha yang kini ada di tanganku.
Tidak ada yang ingin aku ingat lagi. Tidak ada yang ingin aku ucapkan lagi. Aku
hanya ingin memiliki kenangan atasmu, hanya sampai disini. Tidak lebih.
***
Apapun itu, semua hanya
kenangan. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan ‘jalan pulang’. Karena aku
tahu, jalan itu sudah tertutup runtuhan bebatuan besar. Karena aku tahu, aku
tidak cukup pantas untuk ada disana, di’rumah itu’.
Aku tidak pernah ingin
menyimpulkan apa-apa. Tapi jelas yang aku tahu, aku merasa mengerti arti dari
seuntai kalimat yang berbunyi : “Ada saat dimana seseorang yang pergi
meninggalkanmu, saat dia pergi dia membawa sebagian dari dirimu, hatimu atau
bahkan kehidupanmu”.
***
Terima kasih, Tuhan,
karena telah mengizinkanku tetap memiliki ingatan akan kenangan masa lalu. Dan
terima kasih, untuk setiap inchi yang pernah melekat di tiap jalan yang pernah
aku dan kamu lalui. Pada akhirnya, untukmu, terima kasih pada Nya, karena aku,
meski sejejak, sejenak dan sesaat, pernah diizinkan bersinggungan denganmu. ((: :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar