Sabtu, 07 Desember 2013

Yang (Mungkin) Takkan Kembali



Aku melewati tempat itu tadi. Tempat dimana aku dan kamu biasa bercengkrama dulu. 10 menit lalu, aku ada disana. Memacu pelan laju sepeda motorku, lalu berhenti di salah satu sisi jalan tempat itu. Salah satu tempat tinggi yang ada di dekat kotamu dan kotaku. Salah satu tempat yang membuatku merasa sangat dekat dengan langit. Tempat yang selalu punya arti tersendiri buatku. Entah buatmu.
Saat aku melewatinya, aku merasa seseorang tengah memperhatikanku. Angin yang lembut menyapu kepalaku yang tidak tertutupi helm menggodaku untuk berhenti sejenak. Aku tergoda. Tak ada alasan untuk menolak pemberhentian laju jalanku disana. Tepat setelah berhenti, aku melihat laju kereta dua arah di bawahku. Hanya sepersekian detik, lalu suaranya mengilang. Dan lagi-lagi digantikan angin yang meracau perlahan.
Ada yang berubah dari tempat itu. Malam minggu seperti ini, tempat itu tidak lagi ramai oleh muda-mudi yang duduk diatas jok motor sambil menikmati indahnya langit malam. Hanya ada kencang deru kendaraan dan nyaring suara klakson bersahutan.
Di sisi yang kutempati, ada rambu dilarang parkir sepanjang jalan. Dari bawah keatas, sampai bawah lagi. Mungkin itu sebabnya tempat itu sunyi sekarang. Meski ada beberapa motor yang berhenti untuk sekedar menikmati angin malam, tempat itu kini sepi.
Aku menatap ke seberang jalan, tepat dimana disana terdapat tiang lampu penerangan jalan yang besar. Juga ada trotoar bagi penyebrang jalan. Mataku seperti mencari sesuatu, entah apa. Mungkin kepingan mozaik yang tertinggal disana. Atau mungkin hal lain? Entahlah. Aku hanya bisa menerka.
Aku terhenti disana, menikmati sejuknya angin tanpa melakukan apa-apa. Tidak juga aku berusaha mengenang, atau melupakan. Lima menit, cukup menenangkan dan menyenangkan disana. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
Tapi sebelum pergi, aku melakukan hal yang biasa kulakukan. Aku, -sebenarnya kamu- menyebutnya sebagai ‘ritual’. Memejamkan mata sejenak sambil melantunkan doa dalam hati. Menyampaikan harapan dan asa pada Dia Sang Pemilik Hati. Berharap, dari kolong langit yang tidak jauh ini, Dia mendengar dan mengabulkan setiap ucap dalam hati. Apa yang kuminta? Entahlah. Cukup aku dan Dia yang tahu. Toh kuyakin kamu tidak ingin tahu. (:

***
Kini aku ada disini, di salah satu tempat yang menyajikan makanan cepat saji ala Jepang. Tepatnya, berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kotaku. Dan lebih tepatnya lagi, aku berada di tempat duduk favoritku, -favoritmu juga mungkin- lantai dua dekat dengan jendela.
Terakhir aku kesini bersamamu adalah saat itu. Saat dimana aku ‘kembali pulang’ setelah sekian lama pergi. Saat dimana mungkin kamu enggan untuk mengingatnya. Saat paling menyebalkan dalam hidupmu, mungkin. Karena setelah itu, kamu yang pergi, meski aku memilih untuk tinggal.
Mengingat itu aku hanya bisa tersenyum. Pahit. Lebih pahit dari segelas ocha yang kini ada di tanganku. Tidak ada yang ingin aku ingat lagi. Tidak ada yang ingin aku ucapkan lagi. Aku hanya ingin memiliki kenangan atasmu, hanya sampai disini. Tidak lebih.

***

Apapun itu, semua hanya kenangan. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan ‘jalan pulang’. Karena aku tahu, jalan itu sudah tertutup runtuhan bebatuan besar. Karena aku tahu, aku tidak cukup pantas untuk ada disana, di’rumah itu’.
Aku tidak pernah ingin menyimpulkan apa-apa. Tapi jelas yang aku tahu, aku merasa mengerti arti dari seuntai kalimat yang berbunyi : “Ada saat dimana seseorang yang pergi meninggalkanmu, saat dia pergi dia membawa sebagian dari dirimu, hatimu atau bahkan kehidupanmu”.

***

Terima kasih, Tuhan, karena telah mengizinkanku tetap memiliki ingatan akan kenangan masa lalu. Dan terima kasih, untuk setiap inchi yang pernah melekat di tiap jalan yang pernah aku dan kamu lalui. Pada akhirnya, untukmu, terima kasih pada Nya, karena aku, meski sejejak, sejenak dan sesaat, pernah diizinkan bersinggungan denganmu. ((: :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar