Rabu, 30 Januari 2013

perjalanan..

Ini perjalanan pertama di tahun ini. ‘Menumpang’ perjalanan ke Bandung. Saya sudah bersiap sejak semalam. Tidak banyak, hanya tas yang berisi laptop dan handphone yang pasti harus dibawa. Tas saya kosong. Sengaja, dengan harapan saya dapat mengisinya dengan banyak oleh-oleh. Itu rencana awal saya. Tapi, rencana kita tidak selalu diaminkan semesta, bukan?
Perjalanan pertama ini istimewa buat saya. Bukan hanya karena saya mendampingi rekan-rekan, tapi juga saya mendampingi diri saya sendiri. Dari buku yang saya baca, perjalanan, sedekat apapun dapat membawa hati kita belajar lebih jauh dari jarak yang kita tempuh. Kaki mungin tidak lama dan tidak jauh menapak, tapi hati tentunya akan belajar lebih lama dan lebih jauh.
Bus besar 59 seat yang saya tumpangi hampir dipastikan penuh. Ramai oleh canda tawa riang. Tujuannya adalah Gedung Merdeka. Kalian tahu ini? Saya pun tidak tahu. Yang saya tahu gedung ini adalah gedung bersejarah. Tempat dimana konferensi ternama dilaksanakan tahun 1955. Konferensi Asia Afrika. Tempat yang kini menjadi museum, yang menyimpan banyak kenangan tentang peristiwa besar itu.
Hati saya pun begitu. Hati saya menjadi museum, menyimpan banyak kenangan tentang banyak peristiwa yang sudah pernah terjadi. Saya tidak pernah tahu seberapa luas hati yang dimiliki manusia. Yang saya tahu, hati itu mampu menyimpan banyak hal. Lebih banyak dari memori komputer terbesar yang ada. Dan sejak pagi, sejak bus yang saya tumpangi menderu pelan, saya sudah mulai mencoba mengukur luasnya hati yang saya punya. Sampai senja ini, saya belum dapat menentukan berapa luasnya.
Perjalanan hari ini lancar. Hanya sesekali macet sebentar. Tapi tidak dengan sisi kanan atau arah balik dari arah ke Bandung. Macet panjang menjadi pemandangan yang memuakkan untuk beberapa orang yang melewati jalan ini. Tapi tidak buat saya. Macet artinya kita harus menikmati setiap sisi jalan yang kita lalui sedikit lebih lama. Saya memperhatikan dengan jelas apa-apa yang saya lewati selama 3 jam perjalanan  ini. Sempat terhenti sejenak di rest area di km72 memaksa saya menikmati secangkir cappucino kesukaan saya. Saya duduk sendiri saat sendiri. Karena saya ingin sendiri. Sayang, baru 10 menit berhenti, semua penumpang digiring kembali masuk ke dalam bus. Pemberhentian yang singkat. 10 menit itu singkat kan? Singkatlah. Tapi berkesan. Karena saya memanfaatkannya dengan baik. Dengan menyeruput sedikit demi sedikit cappucino yang saya beli.
Hati kita juga kadang seperti itu kan? Mengalami dan merasakan ‘berhenti sesaat’ dalam banyak hal. Banyak hal bisa kita artikan apa saja. Tergantung kita melihatnya dari sisi mana dan siapa. Bukankah begitu? Dan akan selalu begitu. Ada kalanya kita ‘berhenti sesaat’ karena kita lelah. Karena kita jenuh. Itu biasa. Saat kita sampai pada titik jenuh kita, kita butuh ‘berhenti sesaat’. Kembali lagi, berhenti seperti apa dan bagaimana.
10 menit yang berjalan lamban buat saya adalah karena saya ingin berhenti sesaat. Bukan karena jenuh. Bukan karena bosan. Saya ingin berhenti untuk memisah dan memilah banyak hal. Memisah luka, memilah kenangan dan menentukan pelajaran berarti di pemberhentian sejenak ini. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi untuk kesekian kalinya saya bersyukur. Tuhan mengizinkan saya menikmati pemberhentian sejenak ini. Rasanya itu sudah lebih dari cukup. Saya memilah, memisah dan menentukan. Sebagian saya simpan rapi dalam rak hati yang lagi-lagi perlu  saya beritahukan bahwa sangat luas. Saya beri tanda agar mudah mengingatnya. Sebagian lagi saya hempaskan begitu saja di palung terdalam. Persis gudang memori yang tak ingin saya jangkau. Dan sebagian terakhir kubiarkan menguap bersama asap cappucino yang mengepul jauh. Membiarkannya menyatu dan meghilang bersama desau angin. Pada akhirnya, desah lega saya menyapa, disusul dengan hilangnya kepulan pada gelas kertas yang ada dihadapan saya. Saya siap melanjutkan perjalanan.
***
Bus kembali melaju. Lagu-lagu yang diputar menemani dan meriangkan setiap raga yang hadir hari ini. Mencairkan ketegangan dan menguapkannya menjadi keceriaan. Hanya ada tawa canda yang terdengar. Sementara tawa menyatu dengan setiap mereka, saya duduk diam disis jendela. Memandang jauh keluar. Menikmati matahari yang kian hangat. Senyumnya tulus menghangatkan sisi wajah. Benar-benar hangat. Sayangnya sisa cappucino dihadapan sudah terlebih dahulu dingin.
Saya ingat tentang Milli. Salah satu tokoh dalam salah satu film favorit. Tentang cinta dan kopi. Dalam satu scene, melalui pesan singkat, Milli bilang  :

”Cinta itu seperti kopi, enak diminum kalo masih panas. Tapi resikonya jadi cepat habis. Biar gak cepat habis diminumnya pelan-pelan. Tapi resikonya jadi dingin.”

 Benarkah? Bisa jadi Milli benar. Atau bisa jadi salah. Lalu apa artinya? Tidak ada. Saya hanya ingat sebagian kecil itu. Kita bisa memaknainya sesuai dengan kemauan kita. Selama maknanya benar.
Benar menurut kita tentunya. Dan dengan tetap memperhatikan sekitar pastinya.
***
Entah harus seperti apa dan bagaimana lagi saya menceritakan perjalanan ini. Yang pasti saya banyak menemukan hal baru. Benar-benar baru tentunya. Dan perjalanan hari ini ditutup dengan mampir ke salah satu ‘street shop’ yang ada di Bandung. Saya hendak mampir. Membelikan buah tangan untuk beberapa orang. Tadinya. Tapi, 1 jam saya berkeliling, saya mengurungkan niat saya. Dan mengosongkan tas saya. Saya hanya mampir untuk minum cappucino hangat saja. Dan berbincang dengan seorang teman. Hanya itu. Seperti yang saya bilang diawal, ketika saya sengaja mengosongkan tas saya agar ketika pulang saya dapat mengisinya dengan buah tangan, semesta ternyata tidak mengamini. Dan Tuhan tidak menghendaki. Maka saya membiarkan beberapa lembar merah di dompet saya tetap pada tempatnya. Saya hanya mengosongkan tas saya. Dan membersihkan rak-rak kusam yang ada dalam hati saya. Saya melepas semuanya. Dan melegakan tiap detik yang saya lalui dengan aroma cappucino yang tak henti menggoda indra penciuman saya. 2 gelas. Cukup. Tak lama setelah saya menghabiskan gelas kedua saya, panggilan untuk kembali ke bus terdengar. Saya masuk dan menunggu, sampai canda tawa riang teman-teman usai berbelanja kembali utuh mengisi bus penat ini. Sepertinya hanya saya yang mengosongkan tas karena yang lain memenuhi tasnya dengan cinderamata. Tapi saya senang. Dan saya yakin, saya membawa lebih banyak cinderamata dalam hati saya. Kenangan. Tanpa luka pastinya.
***
Bus yang saya tumpangi sudah masuk tol. Sudah saatnya pulang. Kembali. Perjalanan itu tidak jauh dari pergi dan kembali, bukan? Atau mungkin pergi dan pulang? Entahlah. Yang pasti, sampai saat ini, bus masih melaju dengan tenang, lancar. Diiringi lagu-lagu pop indo dari sebuah band ibbukota ternama. Menyenangkan dan menenangkan.
Mengejutkannya lagi, baru beberapa ratus meter dari pintu tol, saya disuguhi pemandangan luar biasa oleh Sang Pemilik Alam. Saya terpana dan segera mengabadikannya lewat kamera 2mp yang ada di handphone saya. Jauh dari bagus hasilnya, tapi saya bersyukur mata saya sempat menangkap moment jingganya matahari senja yang ada dihadapan saya. Dan ternyaata, Dia masih berbaik hati pada saya dan semua yaang tengah melalui jalan tol ini. Gerimis sempurna melepas kepulangan saya dari kota yang indah ini. Dan saya tidak bisa berhenti terpana atas apa yang ditunjukkan Nya pada saya. Helaan nafas saya bahkan sempat terhenti karena tercekat. Subhanallah. Perjalanan kembali yang menyenangkan dan menenangkan. Dan saya dengan sepenuh helaan nafas saya bersyukur karena telah diberi kesempatan menikmati semua ini dengan mata telanjang.
Rintik gerimis perlahan hilang, digantikam kabut yang pelan turun. Gerimis menyisakan mendung pekat di luar sana. Sempurna. Karena tak lama kemudian kumandang azan bergema. Maghrib. Sahut menyahut ‘memanggil’ setiap umat yang menjalankan ibadahnya. Bus ini masih melaju. Menderu pelan di jalur tak berlampu. Dan saya menunggu untuk sampai rumah. Tak sabar memulai esok yang entah.
Yang pasti, saya lebih siap menanti dan menyambut esok.
senja milik Sang Pencipta..
Begitukan seharusnya..? 

(Jakarta-Bandung-Jakarta; Senin, 28 Januari 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar