Ini perjalanan pertama
di tahun ini. ‘Menumpang’ perjalanan ke Bandung. Saya sudah bersiap sejak
semalam. Tidak banyak, hanya tas yang berisi laptop dan handphone yang pasti
harus dibawa. Tas saya kosong. Sengaja, dengan harapan saya dapat mengisinya dengan
banyak oleh-oleh. Itu rencana awal saya. Tapi, rencana kita tidak selalu
diaminkan semesta, bukan?
Perjalanan pertama ini
istimewa buat saya. Bukan hanya karena saya mendampingi rekan-rekan, tapi juga
saya mendampingi diri saya sendiri. Dari buku yang saya baca, perjalanan,
sedekat apapun dapat membawa hati kita belajar lebih jauh dari jarak yang kita
tempuh. Kaki mungin tidak lama dan tidak jauh menapak, tapi hati tentunya akan
belajar lebih lama dan lebih jauh.
Bus besar 59 seat yang
saya tumpangi hampir dipastikan penuh. Ramai oleh canda tawa riang. Tujuannya
adalah Gedung Merdeka. Kalian tahu ini? Saya pun tidak tahu. Yang saya tahu
gedung ini adalah gedung bersejarah. Tempat dimana konferensi ternama
dilaksanakan tahun 1955. Konferensi Asia Afrika. Tempat yang kini menjadi
museum, yang menyimpan banyak kenangan tentang peristiwa besar itu.
Hati saya pun begitu.
Hati saya menjadi museum, menyimpan banyak kenangan tentang banyak peristiwa
yang sudah pernah terjadi. Saya tidak pernah tahu seberapa luas hati yang
dimiliki manusia. Yang saya tahu, hati itu mampu menyimpan banyak hal. Lebih
banyak dari memori komputer terbesar yang ada. Dan sejak pagi, sejak bus yang
saya tumpangi menderu pelan, saya sudah mulai mencoba mengukur luasnya hati
yang saya punya. Sampai senja ini, saya belum dapat menentukan berapa luasnya.
Perjalanan hari ini
lancar. Hanya sesekali macet sebentar. Tapi tidak dengan sisi kanan atau arah
balik dari arah ke Bandung. Macet panjang menjadi pemandangan yang memuakkan
untuk beberapa orang yang melewati jalan ini. Tapi tidak buat saya. Macet
artinya kita harus menikmati setiap sisi jalan yang kita lalui sedikit lebih
lama. Saya memperhatikan dengan jelas apa-apa yang saya lewati selama 3 jam
perjalanan ini. Sempat terhenti sejenak
di rest area di km72 memaksa saya menikmati secangkir cappucino kesukaan saya.
Saya duduk sendiri saat sendiri. Karena saya ingin sendiri. Sayang, baru 10
menit berhenti, semua penumpang digiring kembali masuk ke dalam bus.
Pemberhentian yang singkat. 10 menit itu singkat kan? Singkatlah. Tapi
berkesan. Karena saya memanfaatkannya dengan baik. Dengan menyeruput sedikit
demi sedikit cappucino yang saya beli.
Hati kita juga kadang
seperti itu kan? Mengalami dan merasakan ‘berhenti sesaat’ dalam banyak hal. Banyak
hal bisa kita artikan apa saja. Tergantung kita melihatnya dari sisi mana dan
siapa. Bukankah begitu? Dan akan selalu begitu. Ada kalanya kita ‘berhenti
sesaat’ karena kita lelah. Karena kita jenuh. Itu biasa. Saat kita sampai pada
titik jenuh kita, kita butuh ‘berhenti sesaat’. Kembali lagi, berhenti seperti
apa dan bagaimana.
10 menit yang berjalan
lamban buat saya adalah karena saya ingin berhenti sesaat. Bukan karena jenuh.
Bukan karena bosan. Saya ingin berhenti untuk memisah dan memilah banyak hal.
Memisah luka, memilah kenangan dan menentukan pelajaran berarti di
pemberhentian sejenak ini. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi untuk kesekian
kalinya saya bersyukur. Tuhan mengizinkan saya menikmati pemberhentian sejenak
ini. Rasanya itu sudah lebih dari cukup. Saya memilah, memisah dan menentukan.
Sebagian saya simpan rapi dalam rak hati yang lagi-lagi perlu saya beritahukan bahwa sangat luas. Saya beri
tanda agar mudah mengingatnya. Sebagian lagi saya hempaskan begitu saja di
palung terdalam. Persis gudang memori yang tak ingin saya jangkau. Dan sebagian
terakhir kubiarkan menguap bersama asap cappucino yang mengepul jauh.
Membiarkannya menyatu dan meghilang bersama desau angin. Pada akhirnya, desah
lega saya menyapa, disusul dengan hilangnya kepulan pada gelas kertas yang ada
dihadapan saya. Saya siap melanjutkan perjalanan.
***
Bus kembali melaju.
Lagu-lagu yang diputar menemani dan meriangkan setiap raga yang hadir hari ini.
Mencairkan ketegangan dan menguapkannya menjadi keceriaan. Hanya ada tawa canda
yang terdengar. Sementara tawa menyatu dengan setiap mereka, saya duduk diam
disis jendela. Memandang jauh keluar. Menikmati matahari yang kian hangat.
Senyumnya tulus menghangatkan sisi wajah. Benar-benar hangat. Sayangnya sisa
cappucino dihadapan sudah terlebih dahulu dingin.
Saya ingat tentang
Milli. Salah satu tokoh dalam salah satu film favorit. Tentang cinta dan kopi. Dalam
satu scene, melalui pesan singkat, Milli bilang :
”Cinta itu seperti kopi, enak
diminum kalo masih panas. Tapi resikonya jadi cepat habis. Biar gak cepat habis
diminumnya pelan-pelan. Tapi resikonya jadi dingin.”
Benarkah? Bisa jadi Milli
benar. Atau bisa jadi salah. Lalu apa artinya? Tidak ada. Saya hanya ingat
sebagian kecil itu. Kita bisa memaknainya sesuai dengan kemauan kita. Selama
maknanya benar.
Benar menurut kita
tentunya. Dan dengan tetap memperhatikan sekitar pastinya.
***
Entah harus seperti apa
dan bagaimana lagi saya menceritakan perjalanan ini. Yang pasti saya banyak
menemukan hal baru. Benar-benar baru tentunya. Dan perjalanan hari ini ditutup
dengan mampir ke salah satu ‘street shop’ yang ada di Bandung. Saya hendak
mampir. Membelikan buah tangan untuk beberapa orang. Tadinya. Tapi, 1 jam saya
berkeliling, saya mengurungkan niat saya. Dan mengosongkan tas saya. Saya hanya
mampir untuk minum cappucino hangat saja. Dan berbincang dengan seorang teman. Hanya
itu. Seperti yang saya bilang diawal, ketika saya sengaja mengosongkan tas saya
agar ketika pulang saya dapat mengisinya dengan buah tangan, semesta ternyata
tidak mengamini. Dan Tuhan tidak menghendaki. Maka saya membiarkan beberapa
lembar merah di dompet saya tetap pada tempatnya. Saya hanya mengosongkan tas
saya. Dan membersihkan rak-rak kusam yang ada dalam hati saya. Saya melepas
semuanya. Dan melegakan tiap detik yang saya lalui dengan aroma cappucino yang
tak henti menggoda indra penciuman saya. 2 gelas. Cukup. Tak lama setelah saya
menghabiskan gelas kedua saya, panggilan untuk kembali ke bus terdengar. Saya masuk
dan menunggu, sampai canda tawa riang teman-teman usai berbelanja kembali utuh
mengisi bus penat ini. Sepertinya hanya saya yang mengosongkan tas karena yang
lain memenuhi tasnya dengan cinderamata. Tapi saya senang. Dan saya yakin, saya
membawa lebih banyak cinderamata dalam hati saya. Kenangan. Tanpa luka
pastinya.
***
Bus yang saya tumpangi
sudah masuk tol. Sudah saatnya pulang. Kembali. Perjalanan itu tidak jauh dari
pergi dan kembali, bukan? Atau mungkin pergi dan pulang? Entahlah. Yang pasti,
sampai saat ini, bus masih melaju dengan tenang, lancar. Diiringi lagu-lagu pop
indo dari sebuah band ibbukota ternama. Menyenangkan dan menenangkan.
Mengejutkannya lagi,
baru beberapa ratus meter dari pintu tol, saya disuguhi pemandangan luar biasa
oleh Sang Pemilik Alam. Saya terpana dan segera mengabadikannya lewat kamera
2mp yang ada di handphone saya. Jauh dari bagus hasilnya, tapi saya bersyukur
mata saya sempat menangkap moment jingganya matahari senja yang ada dihadapan
saya. Dan ternyaata, Dia masih berbaik hati pada saya dan semua yaang tengah
melalui jalan tol ini. Gerimis sempurna melepas kepulangan saya dari kota yang
indah ini. Dan saya tidak bisa berhenti terpana atas apa yang ditunjukkan Nya
pada saya. Helaan nafas saya bahkan sempat terhenti karena tercekat.
Subhanallah. Perjalanan kembali yang menyenangkan dan menenangkan. Dan saya
dengan sepenuh helaan nafas saya bersyukur karena telah diberi kesempatan
menikmati semua ini dengan mata telanjang.
Rintik gerimis perlahan
hilang, digantikam kabut yang pelan turun. Gerimis menyisakan mendung pekat di
luar sana. Sempurna. Karena tak lama kemudian kumandang azan bergema. Maghrib. Sahut
menyahut ‘memanggil’ setiap umat yang menjalankan ibadahnya. Bus ini masih melaju.
Menderu pelan di jalur tak berlampu. Dan saya menunggu untuk sampai rumah. Tak sabar
memulai esok yang entah.
Yang pasti, saya lebih
siap menanti dan menyambut esok.
![]() |
| senja milik Sang Pencipta.. |
Begitukan seharusnya..?
(Jakarta-Bandung-Jakarta; Senin, 28 Januari 2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar