"kadang, kita perlu merasakan kehilangan untuk tahu seberapa dalam kita mencinta.."
----------------------------------------------------
Ini
awal (lagi). Tulisan ‘pertama’ lagi. Masih bertajuk kebangkitan dari sebuah
diri yang berkaca pada setiap retak di kehidupan lalunya. Berusaha menyusun
lagi potongan-potongan puzzle ceritanya yang sudah menyebar. Tidak mudah
pastinya, tapi apa salahnya.
***
“Kapan
lu balik kesini lagi..?”,
Dia
menggenggam erat jemariku saat melontarkan pertanyaan itu. Aku diam. Tak
menjawab. 5 detik. 20 detik. 1 menit berlalu dan..
“Kapan
lu balik kesini lagi..?.
Pertanyaan
yang sama yang diulang 2 kali. Aku menatap kosong matahari yang mulai terbenam
di ufuk barat. Sejenak kemudian menoleh, menatap jemarinya yang erat mengisi
sela-sela jemariku. Dan seketika teringat quote itu. Bahwa Tuhan menciptakan
sela diantara jemari kita bukan lain adalah agar nantinya pasangan kita dapat
menempatkan jemarinya disana.
Aku
tersenyum, sadar bahwa sebentar lagi kepala yang sedari tadi menanti jawaban
dariku akan jatuh dipundakku.
“Terlalu
sulitkah menjawab pertanyaan gue..?”.
Mulai mellownya deh,
batinku.
Aku
masih menikmati senja yang perlahan turun di hadapanku. Tidak ingin merusaknya
dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang –jujur- sangat tidak aku ketahui
jawabannya. Aku tidak ingin mengabarkan apa-apa.
Dan
akhirnya 5 menit berlalu dengan hening. Pelan aku menyimak gema adzan mampir di
telingaku. Aku melepaskan jemariku dari genggamannya, lalu meraih wajahnya. Dia
bangkit. Menoleh heran. Dan masih menunggu jawab dari pertanyaannya tadi
tentunya. Melihat masam wajahnya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan
itu, kubelai pelan rambutnya yang di kucir kuda sambil kurapikan beberapa helai
rambut yang mampir di wajahnya. Aku tahu dia masih menunggu. Dan jujur aku
sangat tergoda untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi, urung aku ungkapkan, karena
–lagi-lagi- aku memang tidak tahu jawabnya. Aku berdiri, lalu mengulurkan
tanganku. Dia masih menunggu dan enggan menyambutnya. Aku memaksa.
“Sudah
maghrib, shalat yuk.”
Aku
berkata pelan sambil menyuguhkan senyum terbaik yang aku bisa. Dia hanya diam. Aku
tahu, senyumku –walaupun tidak manis- selalu mampu meluluhkannya. Tak lama
kemudian dia menyambut malas uluran tanganku. Dan kami meninggalkan tempat ini dengan tanpa menyisakan
jawaban.
Aku meninggalkan tempat ini tanpa
menyisakan jawaban.
***
Maghrib
usai lebih cepat dan malam hadir lebih awal. Aku bergegas, mengemasi semua yang
ada di dalam kamar kost ku. Segala yang ada, bahkan lembar-lembar kenangan yang
lusuh pun ikut ku benahi. Dia menungguku disana, diambang pintu. Masih menunggu
dengan tanya yang sama. Aku berhenti sejenak, berdiri tegak, meletakkan dua
jari ku yang membentuk huruf ‘V’ ke ujung-ujung bibirku, lalu menarik bibirku
hingga membentuk senyum.
Melihatku
seperti itu, dia tersenyum.
“Kemarilah,”
pintaku.
Dia
mendekat, berdiri di hadapanku. Aku meraih pundaknya, membawanya dalam pelukku.
Perlahan aku mendengar isaknya.
“Bisa
gak lu ga usah pergi..?” tanyanya sesak.
“Aku
ga bisa kasih kamu jawaban apa-apa. Maaf.”
“Kenapa?”
“Karena
aku sayang kamu,”bisikku.
Isaknya
makin terdengar, bersamaan dengan itu decit rem mobil terdengar di depan. Aku
menoleh, meleppaskan pelukan yang tidak ingin dilepaskannya.
“Jemputanku
sudah datang, aku selesaikan packingnya dulu ya..,” pintaku.
Dia
diam, melonggarkan pelukannya, membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku
menatapnya dari cermin yang ada di hadapanku, Dia menyeka air matanya. Dan aku
menutup koper terakhirku. Koper dengan seribu kenangan yang ingin aku bawa
kemanapun aku pergi.
Aku
berbalik dan menemukan dia sudah tersenyum.
“Sekarang
gue ngerti rasanya jadi lu..,” ucapnya pelan.
“Kata
siapa..?”
“Kata
gue..,” jawabnya.
Aku
tersenyum, menghampirinya lalu menggenggam erat kedua tangannya.
“Kamu
sudah banyak berubah. Sudah bisa belajar. Tapi kamu masih belum sepenuhnya
mengerti. Yang kamu rasa saat ini adalah sedikit dari apa yang sudah aku rasa.
Percayalah. Kamu akan mengerti, suatu hari nanti,” ujarku.
Dia
menangis lagi, aku menyeka airmatanya lagi.
“Menangislah,
tapi jangan lupa hapus air matamu,” kataku sambil meraih tas dan koperku.
Terakhir, aku merengkuh kepalanya, membelai rambutnya dan mendaratkan kecupan
ringan di keningnya.
“Aku
pergi.”
“Lo
ga ngucapin selamat tinggal ke gue..?”
“Nggak.
Dan tidak akan pernah,” jawabku, lalu berlalu.
“Kenapa..?”
Aku
berbalik, “Karena aku amat menyayangimu dan…”
“Dan…”
“Dan
karena suatu hari nanti aku akan kembali kesini. Lagi. “
Dia
menyeka airmatanya, lalu tersenyum. Dan senyumnya adalah segalanya bagiku.
Aku pergi, Bening…
***
(bersambung..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar