Jumat, 04 Januari 2013

Aku dan Bening (i)


"kadang, kita perlu merasakan kehilangan untuk tahu seberapa dalam kita mencinta.."  
----------------------------------------------------
 
Ini awal (lagi). Tulisan ‘pertama’ lagi. Masih bertajuk kebangkitan dari sebuah diri yang berkaca pada setiap retak di kehidupan lalunya. Berusaha menyusun lagi potongan-potongan puzzle ceritanya yang sudah menyebar. Tidak mudah pastinya, tapi apa salahnya. 
***
“Kapan lu balik kesini lagi..?”,
Dia menggenggam erat jemariku saat melontarkan pertanyaan itu. Aku diam. Tak menjawab. 5 detik. 20 detik. 1 menit berlalu dan..
“Kapan lu balik kesini lagi..?.
Pertanyaan yang sama yang diulang 2 kali. Aku menatap kosong matahari yang mulai terbenam di ufuk barat. Sejenak kemudian menoleh, menatap jemarinya yang erat mengisi sela-sela jemariku. Dan seketika teringat quote itu. Bahwa Tuhan menciptakan sela diantara jemari kita bukan lain adalah agar nantinya pasangan kita dapat menempatkan jemarinya disana.
Aku tersenyum, sadar bahwa sebentar lagi kepala yang sedari tadi menanti jawaban dariku akan jatuh dipundakku.
“Terlalu sulitkah menjawab pertanyaan gue..?”.
Mulai mellownya deh, batinku.
Aku masih menikmati senja yang perlahan turun di hadapanku. Tidak ingin merusaknya dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang –jujur- sangat tidak aku ketahui jawabannya. Aku tidak ingin mengabarkan apa-apa.
Dan akhirnya 5 menit berlalu dengan hening. Pelan aku menyimak gema adzan mampir di telingaku. Aku melepaskan jemariku dari genggamannya, lalu meraih wajahnya. Dia bangkit. Menoleh heran. Dan masih menunggu jawab dari pertanyaannya tadi tentunya. Melihat masam wajahnya membuatku gemas ingin mencubit pipinya. Tapi kuurungkan itu, kubelai pelan rambutnya yang di kucir kuda sambil kurapikan beberapa helai rambut yang mampir di wajahnya. Aku tahu dia masih menunggu. Dan jujur aku sangat tergoda untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi, urung aku ungkapkan, karena –lagi-lagi- aku memang tidak tahu jawabnya. Aku berdiri, lalu mengulurkan tanganku. Dia masih menunggu dan enggan menyambutnya. Aku memaksa.
“Sudah maghrib, shalat yuk.”
Aku berkata pelan sambil menyuguhkan senyum terbaik yang aku bisa. Dia hanya diam. Aku tahu, senyumku –walaupun tidak manis- selalu mampu meluluhkannya. Tak lama kemudian dia menyambut malas uluran tanganku. Dan kami meninggalkan tempat ini dengan tanpa menyisakan jawaban.
Aku meninggalkan tempat ini tanpa menyisakan jawaban.
***
Maghrib usai lebih cepat dan malam hadir lebih awal. Aku bergegas, mengemasi semua yang ada di dalam kamar kost ku. Segala yang ada, bahkan lembar-lembar kenangan yang lusuh pun ikut ku benahi. Dia menungguku disana, diambang pintu. Masih menunggu dengan tanya yang sama. Aku berhenti sejenak, berdiri tegak, meletakkan dua jari ku yang membentuk huruf ‘V’ ke ujung-ujung bibirku, lalu menarik bibirku hingga membentuk senyum.
Melihatku seperti itu, dia tersenyum.
“Kemarilah,” pintaku.
Dia mendekat, berdiri di hadapanku. Aku meraih pundaknya, membawanya dalam pelukku. Perlahan aku mendengar isaknya.
“Bisa gak lu ga usah pergi..?” tanyanya sesak.
“Aku ga bisa kasih kamu jawaban apa-apa. Maaf.”
“Kenapa?”
“Karena aku sayang kamu,”bisikku.
Isaknya makin terdengar, bersamaan dengan itu decit rem mobil terdengar di depan. Aku menoleh, meleppaskan pelukan yang tidak ingin dilepaskannya.
“Jemputanku sudah datang, aku selesaikan packingnya dulu ya..,” pintaku.
Dia diam, melonggarkan pelukannya, membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku menatapnya dari cermin yang ada di hadapanku, Dia menyeka air matanya. Dan aku menutup koper terakhirku. Koper dengan seribu kenangan yang ingin aku bawa kemanapun aku pergi.
Aku berbalik dan menemukan dia sudah tersenyum.
“Sekarang gue ngerti rasanya jadi lu..,” ucapnya pelan.
“Kata siapa..?”
“Kata gue..,” jawabnya.
Aku tersenyum, menghampirinya lalu menggenggam erat kedua tangannya.
“Kamu sudah banyak berubah. Sudah bisa belajar. Tapi kamu masih belum sepenuhnya mengerti. Yang kamu rasa saat ini adalah sedikit dari apa yang sudah aku rasa. Percayalah. Kamu akan mengerti, suatu hari nanti,” ujarku.
Dia menangis lagi, aku menyeka airmatanya lagi.
“Menangislah, tapi jangan lupa hapus air matamu,” kataku sambil meraih tas dan koperku. Terakhir, aku merengkuh kepalanya, membelai rambutnya dan mendaratkan kecupan ringan di keningnya.
“Aku pergi.”
“Lo ga ngucapin selamat tinggal ke gue..?”
“Nggak. Dan tidak akan pernah,” jawabku, lalu berlalu.
“Kenapa..?”
Aku berbalik, “Karena aku amat menyayangimu dan…”
“Dan…”
“Dan karena suatu hari nanti aku akan kembali kesini. Lagi. “
Dia menyeka airmatanya, lalu tersenyum. Dan senyumnya adalah segalanya bagiku.
Aku pergi, Bening…
***

(bersambung..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar