Sabtu, 26 Januari 2013

Aku dan Bening (ii)

Kalian tahu, matahari itu sejatinya selalu ada untuk kita, hanya saja kadang kita tidak menyadari adanya karena dia (matahari) ada dengan cara yang berbeda.
Aku, selalu ada meski caraku berbeda.
Percayalah.
***
Pagi itu, mendung sisa semalam masih menggelayut manja di ufuk timur. Menutupi hadirnya sinar mentari yang sejatinya sudah ada sejak tadi. Jarum jam panjang di Army ku menunjuk ke angka 7. Sudah lewat pagi. Aku melanjutkan langkahku, menikmati pagi yang memabukkan. Yang membuat beberapa dari penghuni rumah yang aku lewati menarik selimut lagi karena hari ini hari libur nasional. Sayangnya, beberapa anak kecil justru bersemangat berlarian di halaman rumah dan taman sekitar rumahnya. Tertawa riang. Beberapa bahkan melambaikan tangannya padaku.
Aku, seperti biasa, menikmati pagi dengan caraku. Melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalan setapak depan rumahku, mengitari desa yang jauh dari polusi kota ini. Mensyukuri setiap helaan nafas hingga nanti, mungkin sekitar 10 menit lagi, aku sampai di sebuah padang rumput yang menghampar penuh dengan ilalang yang tingginya melebihi lututku. Setiap pagi, ritual seperti ini. Sendiri.
Tapi ada yang berbeda pagi itu. Bukan mendung yang lebih betah menetap di langit. Bukan. Bukan juga sinar matahari yang malu-malu menyapu wajahku. Bukan. Lalu apa.?
Itu. Dia yang membuatnya berbeda. Gadis itu. Gadis yang tengah duduk di pagar kayu yang berada di tengah-tengah padang ilalang. Gadis yang menggunakan sweater biru, berambut panjang dan duduk membelakangiku. Aku berhenti, memandangi sejenak gadis itu dari belakang. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam memperhatikan larik sinar matahari yang perlahan mulai mampu menggantikan mendung yang hampir usai. Sesekali merapatkan tangannya, menampakkan kalau dia kedinginan sesekali.
Lamat aku memperhatikan, namun aku tidak ingin mengganggu aktivitasnya. Aku melanjutkan ritualku. Berjalan, melompati pagar kayu dan berdiri dihadapan larik matahari yang hampir nampak sempurna. Sesekali aku melirik ke arahnya yang ada di sisi kiriku. Sepertinya aku tidak mengusiknya. Aku tergoda untuk menoleh, menatapinya sejenak. Ternyata dia tengah memejamkan matanya. Raut wajahnya menenangkan. Aku menghentikan ritualku seketika. Menghampirinya lalu duduk tepat disebelahnya. Melakukan hal yang sama. Memejamkan mata.
“Hangat dan menyenangkan ya..,” ujarku pelan sambil tetap memejamkan mataku.
Aku tidak tahu apa yang dilakukannya setelah mendengar ucapanku. Aku lebih memilih untuk menikmati pagi dengan cara yang baru. Caranya.
1 menit penuh hanya hening.
“Iya, hangat dan menenangkan..,” katanya kemudian.
Aku membuka mataku, menoleh.
“Menyenangkan kataku, bukan menenangkan..,”
“Lebih tepatnya, menyenangkan buat lu, dan menenangkan buat gue..,” jelasnya tak mau kalah.
“Oke, kamu menang,” kataku akhirnya.
Dia hanya tersenyum, lalu menoleh ke depan dan kembali memejamkan matanya. Aku berinisiatif.
“Namaku Fajar,” ujarku sambil mengulurkan tangan.
“Gue tau..,” jawabnya tanpa membalas uluran tanganku. Bahkan tetap memejamkan matanya.
“Nama kamu..?” tanyaku.
Dia diam, masih menikmati paginya. Aku menunggu. Tapi sepertinya pagi lebih menggoda untuknya. Aku memutuskan untuk menatap matahari yang sudah benar-benar mengusir mendung. Lalu memejamkan mataku.
Selamat datang, Pagi, batinku.
“Bening.”
Hanya itu yang kudengar. Setelahnya aku membuka mata dan menemukan gadis itu sudah melenggang  jauh ke tengah padang rumput. Aku  menemukannya membalikkan badan lalu melambaikan tangannya padaku. Tanpa sadar aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.
Namanya Bening.
***
Hari-hari berikutnya, meski pagi mendung, aku tetap menantinya. Menunggu matahari sempurna mengusap dan menghangatkan wajahku. Dan wajahnya yang selalu kunanti di pagar tengah padang rumput itu. Wajah Bening.
Percaya atau tidak, aku jatuh cinta pada caranya mengajarkanku menikmati pagi sekalipun aku sadar dia tidak pernah mengajarkanku. Gila kan..?? Aku yang gila. Tentu saja.
Aku selalu datang lebih awal, tetap dengan setelan olahraga pagiku, sepatu kets putih dan arloji Army ku. Menunggu dia datang –yang entah dari mana- dan mengejutkanku tiba-tiba. Lalu menghabiskan pagi bersamanya. Penuh, sampai matahari berhasil membuat kami menyeka keringat di dahi kami. Dan aku, selalu, dengan diam, dalam diam, semakin jatuh cinta padanya. Bukan lagi karena caranya menikmati pagi, tapi karena adanya, senyumnya dan segala tentangnya.
Sampai pada hari itu, akhirnya. Di suatu senja yang masih penuh dengan warna jingga, aku membawanya. Menggenggam pergelangan tangannya, dan menariknya ke padang rumput yang sama. Yang setiap pagi, selama 6 bulan penuh kuhabiskan bersamanya. Memetik beberapa helai ilalang di padang rumput yang menguning.
“Aku nyaman dengan adamu. Nih buat kamu,” ujarku.
“Mmm..gue juga. Makasih,” katanya seraya mengambil ilalang yang kuulurkan untuknya.
“Jadi…”
“Lo ga ada romantis-romantisnya yah. Masa begini sih caranya bilang suka sama gue..?”
“Laahh. Kan aku..”
“Tapi gapapa sih, gue suka. Gue mau kok jadi pacar lo..,” potongnya cepat.
Aku kaget mendengarnya. Menoleh ke arahnya yang sedang asik memainkan ilalang yang kuberikan tadi. Lalu menatap senja yang mulai menghitam dan mengakhiri tatapannya dengan menoleh padaku.
Aku, masih dengan bodohnya wajahku, menatapnya terkesima. Dan menyadari apa yang terjadi kemudian.
“Tapi kan aku belum bilang apa-apa. Kok kamu ge-er banget sih?”
Mendengar ucapanku tadi, dia tetap tersenyum, lalu menoleh kearah matahari yang mulai menghilang.
“Lu pikir gue bodoh ya..? Kalau lu ga mau juga gapapa siih..,” ujarnya membuatku tergeragap.
“Ehh.. jangan gitu dong.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal saat itu. Mengekspresikan wajah terbodoh yang aku punya. Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu, sementara aku gemetar utuh disini.
“Jadi, lu sama gue mulai hari ini jadian yah..,” ujarnya riang sambil menatap langit yang menghitam. Tanpa sedikitpun mempedulikan aku yang masih berkutat dengan keterkejutan yang baru aku dapat. Dia beranjak dari tempatnya duduk, lalu berdiri dihadapanku, mengulurkan tangannya dan tersenyum. Aku bersikukuh tetap duduk. Diam.
“Udah maghrib, lu ga solat..?”
Lamat-lamat memang aku mendengar adzan maghrib di kejauhan. Aku menerima uluran tangannya. Namun dia jahil menarikku hingga aku hampir saja terjungkal. Dia tertawa dan berjalan di depanku. Aku mengekor. Tersenyum. Berbalik menatap matahari yang sudah benar-benar hilang.
“Senyum lu manis dan gue suka kalo liat lu lagi senyum. Apalagi senyum itu buat gue,.”
Aku berbalik. Menemukan dia sudah melenggang jauh.
“Kamu bilang apa?” tanyaku.
Dia berbalik dan tersenyum.
Senyum yang bening.
***
 (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar