Kalian tahu, matahari
itu sejatinya selalu ada untuk kita, hanya saja kadang kita tidak menyadari
adanya karena dia (matahari) ada dengan cara yang berbeda.
Aku, selalu ada meski
caraku berbeda.
Percayalah.
***
Pagi itu, mendung sisa
semalam masih menggelayut manja di ufuk timur. Menutupi hadirnya sinar mentari
yang sejatinya sudah ada sejak tadi. Jarum jam panjang di Army ku menunjuk ke
angka 7. Sudah lewat pagi. Aku melanjutkan langkahku, menikmati pagi yang memabukkan.
Yang membuat beberapa dari penghuni rumah yang aku lewati menarik selimut lagi
karena hari ini hari libur nasional. Sayangnya, beberapa anak kecil justru
bersemangat berlarian di halaman rumah dan taman sekitar rumahnya. Tertawa
riang. Beberapa bahkan melambaikan tangannya padaku.
Aku, seperti biasa,
menikmati pagi dengan caraku. Melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalan
setapak depan rumahku, mengitari desa yang jauh dari polusi kota ini.
Mensyukuri setiap helaan nafas hingga nanti, mungkin sekitar 10 menit lagi, aku
sampai di sebuah padang rumput yang menghampar penuh dengan ilalang yang
tingginya melebihi lututku. Setiap pagi, ritual seperti ini. Sendiri.
Tapi ada yang berbeda
pagi itu. Bukan mendung yang lebih betah menetap di langit. Bukan. Bukan juga
sinar matahari yang malu-malu menyapu wajahku. Bukan. Lalu apa.?
Itu. Dia yang
membuatnya berbeda. Gadis itu. Gadis yang tengah duduk di pagar kayu yang
berada di tengah-tengah padang ilalang. Gadis yang menggunakan sweater biru,
berambut panjang dan duduk membelakangiku. Aku berhenti, memandangi sejenak
gadis itu dari belakang. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam
memperhatikan larik sinar matahari yang perlahan mulai mampu menggantikan
mendung yang hampir usai. Sesekali merapatkan tangannya, menampakkan kalau dia
kedinginan sesekali.
Lamat aku
memperhatikan, namun aku tidak ingin mengganggu aktivitasnya. Aku melanjutkan
ritualku. Berjalan, melompati pagar kayu dan berdiri dihadapan larik matahari
yang hampir nampak sempurna. Sesekali aku melirik ke arahnya yang ada di sisi kiriku.
Sepertinya aku tidak mengusiknya. Aku tergoda untuk menoleh, menatapinya
sejenak. Ternyata dia tengah memejamkan matanya. Raut wajahnya menenangkan. Aku
menghentikan ritualku seketika. Menghampirinya lalu duduk tepat disebelahnya.
Melakukan hal yang sama. Memejamkan mata.
“Hangat dan
menyenangkan ya..,” ujarku pelan sambil tetap memejamkan mataku.
Aku tidak tahu apa yang
dilakukannya setelah mendengar ucapanku. Aku lebih memilih untuk menikmati pagi
dengan cara yang baru. Caranya.
1 menit penuh hanya
hening.
“Iya, hangat dan
menenangkan..,” katanya kemudian.
Aku membuka mataku,
menoleh.
“Menyenangkan kataku,
bukan menenangkan..,”
“Lebih tepatnya,
menyenangkan buat lu, dan menenangkan buat gue..,” jelasnya tak mau kalah.
“Oke, kamu menang,”
kataku akhirnya.
Dia hanya tersenyum,
lalu menoleh ke depan dan kembali memejamkan matanya. Aku berinisiatif.
“Namaku Fajar,” ujarku
sambil mengulurkan tangan.
“Gue tau..,” jawabnya
tanpa membalas uluran tanganku. Bahkan tetap memejamkan matanya.
“Nama kamu..?” tanyaku.
Dia diam, masih
menikmati paginya. Aku menunggu. Tapi sepertinya pagi lebih menggoda untuknya. Aku
memutuskan untuk menatap matahari yang sudah benar-benar mengusir mendung. Lalu
memejamkan mataku.
Selamat datang, Pagi,
batinku.
“Bening.”
Hanya itu yang
kudengar. Setelahnya aku membuka mata dan menemukan gadis itu sudah melenggang jauh ke tengah padang rumput. Aku menemukannya membalikkan badan lalu
melambaikan tangannya padaku. Tanpa sadar aku tersenyum dan membalas lambaian
tangannya.
Namanya Bening.
***
Hari-hari berikutnya,
meski pagi mendung, aku tetap menantinya. Menunggu matahari sempurna mengusap
dan menghangatkan wajahku. Dan wajahnya yang selalu kunanti di pagar tengah
padang rumput itu. Wajah Bening.
Percaya atau tidak, aku
jatuh cinta pada caranya mengajarkanku menikmati pagi sekalipun aku sadar dia
tidak pernah mengajarkanku. Gila kan..?? Aku yang gila. Tentu saja.
Aku selalu datang lebih
awal, tetap dengan setelan olahraga pagiku, sepatu kets putih dan arloji Army
ku. Menunggu dia datang –yang entah dari mana- dan mengejutkanku tiba-tiba.
Lalu menghabiskan pagi bersamanya. Penuh, sampai matahari berhasil membuat kami
menyeka keringat di dahi kami. Dan aku, selalu, dengan diam, dalam diam,
semakin jatuh cinta padanya. Bukan lagi karena caranya menikmati pagi, tapi
karena adanya, senyumnya dan segala tentangnya.
Sampai pada hari itu,
akhirnya. Di suatu senja yang masih penuh dengan warna jingga, aku membawanya.
Menggenggam pergelangan tangannya, dan menariknya ke padang rumput yang sama.
Yang setiap pagi, selama 6 bulan penuh kuhabiskan bersamanya. Memetik beberapa
helai ilalang di padang rumput yang menguning.
“Aku nyaman dengan
adamu. Nih buat kamu,” ujarku.
“Mmm..gue juga. Makasih,”
katanya seraya mengambil ilalang yang kuulurkan untuknya.
“Jadi…”
“Lo ga ada
romantis-romantisnya yah. Masa begini sih caranya bilang suka sama gue..?”
“Laahh. Kan aku..”
“Tapi gapapa sih, gue
suka. Gue mau kok jadi pacar lo..,” potongnya cepat.
Aku kaget mendengarnya.
Menoleh ke arahnya yang sedang asik memainkan ilalang yang kuberikan tadi. Lalu
menatap senja yang mulai menghitam dan mengakhiri tatapannya dengan menoleh
padaku.
Aku, masih dengan
bodohnya wajahku, menatapnya terkesima. Dan menyadari apa yang terjadi
kemudian.
“Tapi kan aku belum
bilang apa-apa. Kok kamu ge-er banget sih?”
Mendengar ucapanku
tadi, dia tetap tersenyum, lalu menoleh kearah matahari yang mulai menghilang.
“Lu pikir gue bodoh
ya..? Kalau lu ga mau juga gapapa siih..,” ujarnya membuatku tergeragap.
“Ehh.. jangan gitu
dong.”
Aku menggaruk-garuk
kepalaku yang tak gatal saat itu. Mengekspresikan wajah terbodoh yang aku
punya. Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu, sementara aku gemetar utuh
disini.
“Jadi, lu sama gue
mulai hari ini jadian yah..,” ujarnya riang sambil menatap langit yang
menghitam. Tanpa sedikitpun mempedulikan aku yang masih berkutat dengan
keterkejutan yang baru aku dapat. Dia beranjak dari tempatnya duduk, lalu
berdiri dihadapanku, mengulurkan tangannya dan tersenyum. Aku bersikukuh tetap
duduk. Diam.
“Udah maghrib, lu ga
solat..?”
Lamat-lamat memang aku
mendengar adzan maghrib di kejauhan. Aku menerima uluran tangannya. Namun dia
jahil menarikku hingga aku hampir saja terjungkal. Dia tertawa dan berjalan di
depanku. Aku mengekor. Tersenyum. Berbalik menatap matahari yang sudah
benar-benar hilang.
“Senyum lu manis dan
gue suka kalo liat lu lagi senyum. Apalagi senyum itu buat gue,.”
Aku berbalik. Menemukan
dia sudah melenggang jauh.
“Kamu bilang apa?”
tanyaku.
Dia berbalik dan
tersenyum.
Senyum yang bening.
***
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar